Tampilkan postingan dengan label Sejarah dan ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah dan ISLAM. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Desember 2010

Mintalah Hanya kepada Allah SWT

Dari Abul Abbas Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma beliau berkata: Suatu hari aku berada di belakang Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam Lalu beliau bersabda , “Nak, aku akan ajarkan kepadamu beberapa patah kata: Jagalah Allah, Niscaya Dia akan senantiasa menjagamu. Bila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah, dan bila engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, jika semua umat manusia bersatu padu untuk memberikan suatu kebaikan kepadamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah bagimu, dan jika semua umat manusia bersatu padu untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah bagimu. Pena telah diangkat dan catatan-catatan telah mengering.” (HR Tirmidzi Dia berkata , “Hadits ini hasan shohih”)


Ya Allah, karuniakanlah keikhlasan dalam jiwa kami. Jadikanlah kami hamba-Mu yang senantiasa peduli dengan hamba yang lainnya. Ya Allah bantulah kami, untuk mendekati-Mu dengan amal-amal yang suci. Amal yang membersihkan kami dari dosa dan menjaga kami dari mengulangi celaka. Amin.

Komentar terdahulu...

KISAH TOBAT SEORANG KIYAI NU (KYAI AFROKHI)



“Terus terang, sampai diusia +35 tahun saya ini termasuk Kyai Ahli Bid’ah yang tentunya doyan tawassul kepada mayat atau penghuni kubur, sering juga bertabarruk dengan kubur sang wali atau Kyai. Bahkan sering dipercaya untuk memimpin ziarah Wali Songo dan juga tempat-tempat yang dianggap keramat sekaligus menjadi imam tahlilan, ngalap berkah kubur, marhabanan atau baca barzanji, diba’an, maulidan, haul dan selamatan yang sudah berbau kesyirikan”

“Kita dulu enjoy saja melakukan kesyirikan, mungkin karena belum tahu pengertian tauhid yang sebenarnya” (Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 90)

“Kita biasa melakukan ziarah ngalap berkah sekaligus kirim pahala bacaan kepada penghuni kubur/mayit. Sebenarnya, hal tersebut atas dasar kebodohan kita. Bagaimana tidak, contohnya adalah saya sendiri di kala masih berumur 12 tahun sudah mulai melakukan ziarah ngalap berkah dan kirim pahala bacaan, dan waktu itu saya belum tahu ilmu sama sekali, yang ada hanya taklid buta. Saat itu saya hanya melihat banyak orang yang melakukan, dan bahkan banyak juga kyai yang mengamalkannya. Hingga saya menduga dan beranggapan bahwa hal itu adalah suatu kebenaran.” (Kyai Afrokhi dalam Buku Putih Kyai NU hal. 210)

Beliau adalah Kyai Afrokhi Abdul Ghoni, pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren “Rahmatullah”. Nama beliau tidak hanya dibicarakan oleh teman-teman dari Kediri saja, namun juga banyak diperbincangkan oleh teman-teman pengajian di Surabaya, Gresik, Malang dan Ponorogo.

Keberanian beliau dalam menantang arus budaya para kyai yang tidak sejalan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih yang telah berurat berakar dalam lingkungan pesantrennya, sikap penentangan beliau terhadap arus kyai itu bukan berlandaskan apriori belaka, bukan pula didasari oleh rasa kebencian kepada suatu golongan, emosi atau dendam, namun merupakan Kehendak, Hidayah dan Taufiq dari Allah ta’ala.

Kyai Afrokhi hanya sekedar menyampaikan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mengatakan yang haq adalah haq dan yang batil adalah batil. namun, usaha beliau itu dianggap sebagai sebuah makar terhadap ajaran Nahdhatul Ulama (NU), sehingga beliau layak dikeluarkan dari keanggotaan NU secara sepihak tanpa mengklarifikasikan permasalahan itu kepada beliau.

Kyai Afrokhi tidak mengetahui adanya pemecatan dirinya dari keanggotaan NU. Beliau mengetahui hal itu dari para tetangga dan kerabatnya. Seandainya para Kyai, Gus dan Habib itu tidak hanya mengedepankan egonya, kemudian mereka mau bermusyawarah dan mau mendengarkan permasalahan ajaran agama ini, kemudian mempertanyakan kenapa beliau sampai berbuat demikian, beliau tentu bisa menjelaskan permasalahan agama ini dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih yang harus benar-benar diajarkan kepada para santri serta umat pada umumnya.

Seandainya para Kyai itu mau mengkaji kembali ajaran dan tradisi budaya yang berurat berakar yang telah dikritisi dan digugat oleh banyak pihak. Bukan hanya oleh Kyai Afrokhi sendiri, namun juga dari para ulama tanah haram juga telah menggugat dan mengkritisi penyakit kronis dalam aqidah NU yang telah mengakar mengurat kepada para santri dan masyarakat. Jika mereka itu mau mendengarkan perkataan para ulama itu, tentunya penyakit-penyakit kronis yang ada dalam tubuh NU akan bisa terobati. Aqidah umatnya akan terselamatkan dari penyakit TBC (Tahayul, Bid’ah, Churofat). Sehingga Kyai-kyai NU, habib, Gus serta asatidznya lebih dewasa jika ada orang yang mau dengan ikhlas menunjukkan kesesatan yang ada dalam ajaran NU dan yang telah banyak menyimpang dari tuntunan Rasulullah dan para sahabatnya. Maka, Insya Allah, NU khususnya dan para ‘alim NU pada umumnya akan menjadi barometer keagamaan dan keilmuan. ‘Alimnya yang berbasis kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih, yang sesuai dengan misi NU itu sendiri sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah, sehingga para ‘alim serta Kyai yang duduk pada kelembagaannya berhak menyandang predikat sebagai pewaris para Nabi.

Namun sayang, dakwah yang disampaikan oleh Kyai Afrokhi dipandang sebelah mata oleh para Kyai NU setempat. Mereka juga meragukan keloyalan beliau terhadap ajaran NU. Dengan demikian, beliau harus menerima konsekuensi berupa pemecatan dari kepengurusan keanggotaannya sebagai a’wan NU Kandangan, Kediri, sekaligus dikucilkan dari lingkungan para kyai dan lingkungan pesantren. Mereka semua memboikot aktivitas dakwah Kyai Afrokhi.

Walaupun beliau mendapat perlakuan yang demikian, beliau tetap menyikapinya dengan ketenangan jiwa yang nampak terpancar dari dalam dirinya.

Siapakah yang berani menempuh jalan seperti jalan yang ditempuh oleh Kyai Afrokhi, yang penuh cobaan dan cobaan? Atau Kyai mana yang ingin senasib dengan beliau yang tiba-tiba dikucilkan oleh komunitasnya karena meninggalkan ajaran-ajaran tradisi yang tidak sesuai dengan syari’at Islam yang haq? Kalau bukan karena panggilan iman, kalau bukan karena pertolongan dari Allah niscaya kita tidak akan mampu.

Kyai Afrokhi adalah sosok yang kuat. Beliau menentang arus orang-orang yang bergelar sama dengan gelar beliau. yakni Kyai. Di saat banyak para Kyai yang bergelimang dalam kesyirikan, kebid’ahan dan tradisi-tradisi yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang haq, di saat itulah beliau tersadar dan menantang arus yang ada. Itulah jalan hidup yang penuh cobaan dan ujian.

Bagi Kyai Afrokhi untuk apa kewibawaan dan penghormatan tersandang, harta melimpah serta jabatan terpikul, namun murka Allah dekat dengannya, dan Allah tidak akan menolongnya di hari tidak bermanfaat harta dan anak-anak. Beliau lebih memilih jalan keselamatan dengan meninggalkan tradisi yang selama ini beliau gandrungi.

Inilah fenomena kyai yang telah bertaubat kepada Allah dari ajaran-ajaran syirik, bid’ah dan kufur. Walaupun Kyai Afrokhi ditinggalkan oleh para kyai ahli bid’ah, jama’ah serta santri beliau, ketegaran dan ketenangan beliau dalam menghadapi realita hidup begitu nampak dalam perilakunya. Dengan tawadhu’ serta penuh tawakkal kepada Allah, beliau mampu mengatasi permasalahan hidup.

Pernyataan taubat Kyai Afrokhi:

“Untuk itulah buku ini saya susun sebagai koreksi total atas kekeliruan yang saya amalkan dan sekaligus merupakan permohonan maaf saya kepada warga Nahdhatul Ulama (NU) dimanapun berada yang merasa saya sesatkan dalam kebid’ahan Marhabanan, baca barzanji atau diba’an, maulidan, haul dan selamatan dari alif sampai ya` yang sudah berbau kesyirikan dan juga sebagai wujud pertaubatan saya. Semoga Allah senantiasa menerima taubat dan mengampuni segala dosa-dosa saya yang lalu (Amin ya robbal ‘alamin)”

(Dinukil dan diketik ulang dengan gubahan seperlunya dari buku “Buku Putih Kyai NU” oleh Kyai Afrokhi Abdul Ghoni, Pendiri dan Pengasuh Ponpes Rohmatulloh-Kediri-, mantan A’wan Syuriah MWC NU Kandangan Kediri)

catatan: Note ini ditulis hanya semata-mata sebagai nasehat, bukan karena ada alasan sentimen atau kebencian terhadap sebuah kelompok. Silahkan nukil dan share serta pergunakan untuk kebutuhan dakwah ilalloh.

-Abu Shofiyah Aqil Azizi- jazahullah khairan

Lihat Pendapat : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=174245869282174&set=a.117985154908246.7557.100000902851850

Rabu, 15 Desember 2010

Orang-orang yang di doakan malaikat

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga Malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci”. (Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’” (Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Muslim no. 469)

3. Orang-orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan” (Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang-orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf). Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang – orang yang menyambung shaf – shaf” (Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah. Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu”. (Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat ( berdoa ) kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia (Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang – orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah. Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?’. Mmereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat’” (Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘amiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan’” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., Shahih Muslim no. 2733)

9. Orang-orang yang berinfak. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit’” (Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10. Orang yang sedang makan sahur. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (berdoa ) kepada orang-orang yang sedang makan sahur” Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa “sunnah” (Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh” (Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar,”Sanadnya shahih”)

12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Rasulullah SAW bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan. Semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain” (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

Selasa, 14 Desember 2010

Sejarah Singkat Imam Hanafi

Kelahiran dan Masa Kecil Imam Bukhari



 Imam Bukhari (semoga Allah merahmatinya) lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju'fiy Al Bukhari, namun beliau lebih dikenal dengan nama Bukhari. Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya pada tanggal 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Kakeknya bernama Bardizbeh, turunan Persi yang masih beragama Zoroaster. Tapi orangtuanya, Mughoerah, telah memeluk Islam di bawah asuhan Al-Yaman el-Ja’fiy. Sebenarnya masa kecil Imam Bukhari penuh dengan keprihatinan. Di samping menjadi anak yatim, juga tidak dapat melihat karena buta (tidak lama setelah lahir, beliau kehilangan penglihatannya tersebut). Ibunya senantiasa berusaha dan berdo'a untuk kesembuhan beliau. Alhamdulillah, dengan izin dan karunia Allah, menjelang usia 10 tahun matanya sembuh secara total.

Imam Bukhari adalah ahli hadits yang termasyhur diantara para ahli hadits sejak dulu hingga kini bersama dengan Imam Ahmad, Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah. Bahkan dalam kitab-kitab fiqih dan hadits, hadits-hadits beliau memiliki derajat yang tinggi. Sebagian menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam hal Ilmu Hadits). Dalam bidang ini, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya.

Tempat beliau lahir kini termasuk wilayah Rusia, yang waktu itu memang menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan Islam sesudah Madinah, Damaskus dan Bagdad. Daerah itu pula yang telah melahirkan filosof-filosof besar seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Bahkan ulama-ulama besar seperti Zamachsari, al-Durdjani, al-Bairuni dan lain-lain, juga dilahirkan di Asia Tengah. Sekalipun daerah tersebut telah jatuh di bawah kekuasaan Uni Sovyet (Rusia), namun menurut Alexandre Benningsen dan Chantal Lemercier Quelquejay dalam bukunya "Islam in the Sivyet Union" (New York, 1967), pemeluk Islamnya masih berjumlah 30 milliun. Jadi merupakan daerah yang pemeluk Islam-nya nomor lima besarnya di dunia setelah Indonesia, Pakistan, India dan Cina.

Keluarga dan Guru Imam Bukhari



Bukhari dididik dalam keluarga ulama yang taat beragama. Dalam kitab As-Siqat, Ibnu Hibban menulis bahwa ayahnya dikenal sebagai orang yang wara' dalam arti berhati-hati terhadap hal-hal yang hukumnya bersifat syubhat (ragu-ragu), terlebih lebih terhadap hal-hal yang sifatnya haram. Ayahnya adalah seorang ulama bermadzhab Maliki dan merupakan mudir dari Imam Malik, seorang ulama besar dan ahli fikih. Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil.

Perhatiannya kepada ilmu hadits yang sulit dan rumit itu sudah tumbuh sejak usia 10 tahun, hingga dalam usia 16 tahun beliau sudah hafal dan menguasai buku-buku seperti "al-Mubarak" dan "al-Waki". Bukhari berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli hadits yang masyhur di Bukhara. Pada usia 16 tahun bersama keluarganya, ia mengunjungi kota suci Mekkah dan Madinah, dimana di kedua kota suci itu beliau mengikuti kuliah para guru-guru besar ahli hadits. Pada usia 18 tahun beliau menerbitkan kitab pertamanya "Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien" (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien).

Bersama gurunya Syekh Ishaq, beliau menghimpun hadits-hadits shahih dalam satu kitab, dimana dari satu juta hadits yang diriwayatkan oleh 80.000 perawi disaring lagi menjadi 7275 hadits. Diantara guru-guru beliau dalam memperoleh hadits dan ilmu hadits antara lain adalah Ali bin Al Madini, Ahmad bin Hanbali, Yahya bin Ma'in, Muhammad bin Yusuf Al Faryabi, Maki bin Ibrahim Al Bakhi, Muhammad bin Yusuf al Baykandi dan Ibnu Rahwahih. Selain itu ada 289 ahli hadits yang haditsnya dikutip dalam kitab Shahih-nya.
 

Kejeniusan Imam Bukhari





Bukhari diakui memiliki daya hapal tinggi, yang diakui oleh kakaknya Rasyid bin Ismail. Kakak sang Imam ini menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberapa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia sering dicela membuang waktu karena tidak mencatat, namun Bukhari diam tak menjawab. Suatu hari, karena merasa kesal terhadap celaan itu, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka, kemudian beliau membacakan secara tepat apa yang pernah disampaikan selama dalam kuliah dan ceramah tersebut. Tercenganglah mereka semua, lantaran Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 hadits, lengkap dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat.

Ketika sedang berada di Bagdad, Imam Bukhari pernah didatangi oleh 10 orang ahli hadits yang ingin menguji ketinggian ilmu beliau. Dalam pertemuan itu, 10 ulama tersebut mengajukan 100 buah hadits yang sengaja "diputar-balikkan" untuk menguji hafalan Imam Bukhari. Ternyata hasilnya mengagumkan. Imam Bukhari mengulang kembali secara tepat masing-masing hadits yang salah tersebut, lalu mengoreksi kesalahannya, kemudian membacakan hadits yang benarnya. Ia menyebutkan seluruh hadits yang salah tersebut di luar kepala, secara urut, sesuai dengan urutan penanya dan urutan hadits yang ditanyakan, kemudian membetulkannya. Inilah yang sangat luar biasa dari sang Imam, karena beliau mampu menghafal hanya dalam waktu satu kali dengar.

Selain terkenal sebagai seorang ahli hadits, Imam Bukhari ternyata tidak melupakan kegiatan lain, yakni olahraga. Ia misalnya sering belajar memanah sampai mahir, sehingga dikatakan sepanjang hidupnya, sang Imam tidak pernah luput dalam memanah kecuali hanya dua kali. Keadaan itu timbul sebagai pengamalan sunnah Rasul yang mendorong dan menganjurkan kaum Muslimin belajar menggunakan anak panah dan alat-alat perang lainnya.

Karya-karya Imam Bukhari


Karyanya yang pertama berjudul "Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien" (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien). Kitab ini ditulisnya ketika masih berusia 18 tahun. Ketika menginjak usia 22 tahun, Imam Bukhari menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci bersama-sama dengan ibu dan kakaknya yang bernama Ahmad. Di sanalah beliau menulis kitab "At-Tarikh" (sejarah) yang terkenal itu. Beliau pernah berkata, "Saya menulis buku "At-Tarikh" di atas makam Nabi Muhammad SAW di waktu malam bulan purnama".

Karya Imam Bukhari lainnya antara lain adalah kitab Al-Jami' ash Shahih, Al-Adab al Mufrad, At Tharikh as Shaghir, At Tarikh Al Awsat, At Tarikh al Kabir, At Tafsir Al Kabir, Al Musnad al Kabir, Kitab al 'Ilal, Raf'ul Yadain fis Salah, Birrul Walidain, Kitab Ad Du'afa, Asami As Sahabah dan Al Hibah. Diantara semua karyanya tersebut, yang paling monumental adalah kitab Al-Jami' as-Shahih yang lebih dikenal dengan nama Shahih Bukhari.

Dalam sebuah riwayat diceritakan, Imam Bukhari berkata: "Aku bermimpi melihat Rasulullah saw., seolah-olah aku berdiri di hadapannya, sambil memegang kipas yang kupergunakan untuk menjaganya. Kemudian aku tanyakan mimpi itu kepada sebagian ahli ta'bir, ia menjelaskan bahwa aku akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan dari hadits-hadits Rasulullah saw. Mimpi inilah, antara lain, yang mendorongku untuk melahirkan kitab Al-Jami' As-Sahih."

Dalam menghimpun hadits-hadits shahih dalam kitabnya tersebut, Imam Bukhari menggunakan kaidah-kaidah penelitian secara ilmiah dan sah yang menyebabkan keshahihan hadits-haditsnya dapat dipertanggungjawabkan. Ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meneliti dan menyelidiki keadaan para perawi, serta memperoleh secara pasti kesahihan hadits-hadits yang diriwayatkannya.

Imam Bukhari senantiasa membandingkan hadits-hadits yang diriwayatkan, satu dengan lainnya, menyaringnya dan memilih mana yang menurutnya paling shahih. Sehingga kitabnya merupakan batu uji dan penyaring bagi hadits-hadits tersebut. Hal ini tercermin dari perkataannya: "Aku susun kitab Al Jami' ini yang dipilih dari 600.000 hadits selama 16 tahun."

Banyak para ahli hadits yang berguru kepadanya, diantaranya adalah Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr dan Imam Muslim bin Al Hajjaj (pengarang kitab Shahih Muslim). Imam Muslim  menceritakan : "Ketika Muhammad bin Ismail (Imam Bukhari) datang ke Naisabur, aku tidak pernah melihat seorang kepala daerah, para ulama dan penduduk Naisabur yang memberikan sambutan seperti apa yang mereka berikan kepadanya." Mereka menyambut kedatangannya dari luar kota sejauh dua atau tiga marhalah (100 km), sampai-sampai Muhammad bin Yahya Az Zihli (guru Imam Bukhari) berkata : "Barang siapa hendak menyambut kedatangan Muhammad bin Ismail besok pagi, lakukanlah, sebab aku sendiri akan ikut menyambutnya

Penelitian Hadits


Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya. Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali. Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits.

Namun tidak semua hadits yang ia hapal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang sangat ketat, diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan apakah perawi (periwayat / pembawa) hadits itu terpercaya dan tsiqqah (kuat). Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, akhirnya Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami' as-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari.

Dalam meneliti dan menyeleksi hadits dan diskusi dengan para perawi tersebut, Imam Bukhari sangat sopan. Kritik-kritik yang ia lontarkan kepada para perawi juga cukup halus namun tajam. Kepada para perawi yang sudah jelas kebohongannya ia berkata, "perlu dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam dari hal itu" sementara kepada para perawi yang haditsnya tidak jelas ia menyatakan "Haditsnya diingkari". Bahkan banyak meninggalkan perawi yang diragukan kejujurannya. Beliau berkata "Saya meninggalkan 10.000 hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan dan meninggalkan hadits-hadits dengan jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatan oleh perawi yang dalam pandanganku perlu dipertimbangkan".

Banyak para ulama atau perawi yang ditemui sehingga Bukhari banyak mencatat jati diri dan sikap mereka secara teliti dan akurat. Untuk mendapatkan keterangan yang lengkap mengenai sebuah hadits, mencek keakuratan sebuah hadits ia berkali-kali mendatangi ulama atau perawi meskipun berada di kota-kota atau negeri yang jauh seperti Baghdad, Kufah, Mesir, Syam, Hijaz seperti yang dikatakan beliau "Saya telah mengunjungi Syam, Mesir dan Jazirah masing-masing dua kali, ke Basrah empat kali menetap di Hijaz selama enam tahun dan tidak dapat dihitung berapa kali saya mengunjungi Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadits."

Disela-sela kesibukannya sebagai sebagai ulama, pakar hadits, ia juga dikenal sebagai ulama dan ahli fiqih, bahkan tidak lupa dengan kegiatan kegiatan olahraga dan rekreatif seperti belajar memanah sampai mahir, bahkan menurut suatu riwayat, Imam Bukhari tidak pernah luput memanah kecuali dua kali.

Metode Imam Bukhari dalam Menulis Kitab Hadits


Sebagai intelektual muslim yang berdisiplin tinggi, Imam Bukhari dikenal sebagai pengarang kitab yang produktif. Karya-karyanya tidak hanya dalam disiplin ilmu hadits, tapi juga ilmu-ilmu lain, seperti tafsir, fikih, dan tarikh. Fatwa-fatwanya selalu menjadi pegangan umat sehingga ia menduduki derajat sebagai mujtahid mustaqil (ulama yang ijtihadnya independen), tidak terikat pada mazhab tertentu, sehingga mempunyai otoritas tersendiri dalam berpendapat dalam hal hukum.

Pendapat-pendapatnya terkadang sejalan dengan Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi, pendiri mazhab Hanafi), tetapi terkadang bisa berbeda dengan beliau. Sebagai pemikir bebas yang menguasai ribuan hadits shahih, suatu saat beliau bisa sejalan dengan Ibnu Abbas, Atha ataupun Mujahid dan bisa juga berbeda pendapat dengan mereka.

Diantara puluhan kitabnya, yang paling masyhur ialah kumpulan hadits shahih yang berjudul Al-Jami' as-Shahih, yang belakangan lebih populer dengan sebutan Shahih Bukhari. Ada kisah unik tentang penyusunan kitab ini. Suatu malam Imam Bukhari bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw., seolah-olah Nabi Muhammad saw. berdiri dihadapannya. Imam Bukhari lalu menanyakan makna mimpi itu kepada ahli mimpi. Jawabannya adalah beliau (Imam Bukhari) akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan yang disertakan orang dalam sejumlah hadits Rasulullah saw. Mimpi inilah, antara lain yang mendorong beliau untuk menulis kitab "Al-Jami 'as-Shahih".

Dalam menyusun kitab tersebut, Imam Bukhari sangat berhati-hati. Menurut Al-Firbari, salah seorang muridnya, ia mendengar Imam Bukhari berkata. "Saya susun kitab Al-Jami' as-Shahih ini di Masjidil Haram, Mekkah dan saya tidak mencantumkan sebuah hadits pun kecuali sesudah shalat istikharah dua rakaat memohon pertolongan kepada Allah, dan sesudah meyakini betul bahwa hadits itu benar-benar shahih". Di Masjidil Haram-lah ia menyusun dasar pemikiran dan bab-babnya secara sistematis.

Setelah itu ia menulis mukaddimah dan pokok pokok bahasannya di Rawdah Al-Jannah, sebuah tempat antara makam Rasulullah dan mimbar di Masjid Nabawi di Madinah. Barulah setelah itu ia mengumpulkan sejumlah hadits dan menempatkannya dalam bab-bab yang sesuai. Proses penyusunan kitab ini dilakukan di dua kota suci tersebut dengan cermat dan tekun selama 16 tahun. Ia menggunakan kaidah penelitian secara ilmiah dan cukup modern sehingga hadits haditsnya dapat dipertanggung-jawabkan.

Dengan bersungguh-sungguh ia meneliti dan menyelidiki kredibilitas para perawi sehingga benar-benar memperoleh kepastian akan keshahihan hadits yang diriwayatkan. Ia juga selalu membandingkan hadits satu dengan yang lainnya, memilih dan menyaring, mana yang menurut pertimbangannya secara nalar paling shahih. Dengan demikian, kitab hadits susunan Imam Bukhari benar-benar menjadi batu uji dan penyaring bagi sejumlah hadits lainnya. "Saya tidak memuat sebuah hadits pun dalam kitab ini kecuali hadits-hadits shahih", katanya suatu saat.
Di belakang hari, para ulama hadits menyatakan, dalam menyusun kitab Al-Jami' as-Shahih, Imam Bukhari selalu berpegang teguh pada tingkat keshahihan paling tinggi dan tidak akan turun dari tingkat tersebut, kecuali terhadap beberapa hadits yang bukan merupakan materi pokok dari sebuah bab.

Menurut Ibnu Shalah, dalam kitab Muqaddimah, kitab Shahih Bukhari itu memuat 7275 hadits. Selain itu ada hadits-hadits yang dimuat secara berulang, dan ada 4000 hadits yang dimuat secara utuh tanpa pengulangan. Penghitungan itu juga dilakukan oleh Syekh Muhyiddin An Nawawi dalam kitab At-Taqrib. Dalam hal itu, Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam kata pendahuluannya untuk kitab Fathul Bari (yakni syarah atau penjelasan atas kitab Shahih Bukhari) menulis, semua hadits shahih yang dimuat dalam Shahih Bukhari (setelah dikurangi dengan hadits yang dimuat secara berulang) sebanyak 2.602 buah. Sedangkan hadits yang mu'allaq (ada kaitan satu dengan yang lain, bersambung) namun marfu (diragukan) ada 159 buah. Adapun jumlah semua hadits shahih termasuk yang dimuat berulang sebanyak 7397 buah. Perhitungan berbeda diantara para ahli hadits tersebut dalam mengomentari kitab Shahih Bukhari semata-mata karena perbedaan pandangan mereka dalam ilmu hadits.

Terjadinya Fitnah


Muhammad bin Yahya Az-Zihli berpesan kepada para penduduk agar menghadiri dan mengikuti pengajian yang diberikannya. Ia berkata: "Pergilah kalian kepada orang alim dan saleh itu, ikuti dan dengarkan pengajiannya." Namun tak lama kemudian ia mendapat fitnah dari orang-orang yang dengki. Mereka menuduh sang Imam sebagai orang yang berpendapat bahwa "Al-Qur'an adalah makhluk".

Hal inilah yang menimbulkan kebencian dan kemarahan gurunya, Az-Zihli kepadanya. Kata Az-Zihli : "Barang siapa berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-Qur'an adalah makhluk, maka ia adalah ahli bid'ah. Ia tidak boleh diajak bicara dan majelisnya tidak boleh didatangi. Dan barang siapa masih mengunjungi majelisnya, curigailah dia." Setelah adanya ultimatum tersebut, orang-orang mulai menjauhinya.

Sebenarnya, Imam Bukhari terlepas dari fitnah yang dituduhkan kepadanya itu. Diceritakan, seseorang berdiri dan mengajukan pertanyaan kepadanya: "Bagaimana pendapat Anda tentang lafadz-lafadz Al-Qur'an, makhluk ataukah bukan?" Bukhari berpaling dari orang itu dan tidak mau menjawab kendati pertanyaan itu diajukan sampai tiga kali.

Tetapi orang itu terus mendesak. Ia pun menjawab: "Al-Qur'an adalah kalam Allah, bukan makhluk, sedangkan perbuatan manusia adalah makhluk dan fitnah merupakan bid'ah." Pendapat yang dikemukakan Imam Bukhari ini, yakni dengan membedakan antara yang dibaca dengan bacaan, adalah pendapat yang menjadi pegangan para ulama ahli tahqiq (pengambil kebijakan) dan ulama salaf. Tetapi dengki dan iri adalah buta dan tuli. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Bukhari pernah berkata : "Iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang. Al-Quran adalah kalam Allah, bukan makhluk. Sahabat Rasulullah SAW, yang paling utama adalah Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Dengan berpegang pada keimanan inilah aku hidup, aku mati dan dibangkitkan di akhirat kelak, insya Allah." Di lain kesempatan, ia berkata: "Barang siapa menuduhku berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-Qur'an adalah makhluk, ia adalah pendusta."


Wafatnya Imam Bukhari


Suatu ketika penduduk Samarkand mengirim surat kepada Imam Bukhari. Isinya, meminta dirinya agar menetap di negeri itu (Samarkand). Ia pun pergi memenuhi permohonan mereka. Ketika perjalanannya sampai di Khartand, sebuah desa kecil terletak dua farsakh (sekitar 10 Km) sebelum Samarkand, ia singgah terlebih dahulu untuk mengunjungi beberapa familinya. Namun disana beliau jatuh sakit selama beberapa hari. Dan Akhirnya meninggal pada tanggal 31 Agustus 870 M (256 H) pada malam Idul Fitri dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Beliau dimakamkan selepas Shalat Dzuhur pada Hari Raya Idul Fitri. Sebelum meninggal dunia, ia berpesan bahwa jika meninggal nanti jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat. Beliau meninggal tanpa meninggalkan seorang anakpun.
 

Senin, 13 Desember 2010

Sejarah Singkat Imam Malik

Dalam sebuah kunjungan ke kota Madinah, Khalifah Bani Abbasiyyah, Harun Al Rasyid (penguasa saat itu), tertarik mengikuti ceramah al muwatta' (himpunan hadits) yang diadakan Imam Malik. Untuk hal ini, khalifah mengutus orang memanggil Imam. Namun Imam Malik memberikan nasihat kepada Khalifah Harun, ''Rasyid, leluhur Anda selalu melindungi pelajaran hadits. Mereka amat menghormatinya. Bila sebagai khalifah Anda tidak menghormatinya, tak seorang pun akan menaruh hormat lagi. Manusia yang mencari ilmu, sementara ilmu tidak akan mencari manusia.''

Sedianya, khalifah ingin agar para jamaah meninggalkan ruangan tempat ceramah itu diadakan. Namun, permintaan itu tak dikabulkan Imam Malik. ''Saya tidak dapat mengorbankan kepentingan umum hanya untuk kepentingan seorang pribadi.'' Sang khalifah pun akhirnya mengikuti ceramah bersama dua putranya dan duduk berdampingan dengan rakyat kecil.

Imam Malik yang bernama lengkap Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Haris bin Gaiman bin Kutail bin Amr bin Haris al Asbahi, lahir di Madinah pada tahun 712 M dan wafat tahun 796 M. Berasal dari keluarga Arab terhormat, berstatus sosial tinggi, baik sebelum maupun sesudah datangnya Islam. Tanah asal leluhurnya adalah Yaman, namun setelah nenek moyangnya menganut Islam, mereka pindah ke Madinah. Kakeknya, Abu Amir, adalah anggota keluarga pertama yang memeluk agama Islam pada tahun 2 H. Saat itu, Madinah adalah kota ilmu yang sangat terkenal.

Kakek dan ayahnya termasuk kelompok ulama hadits terpandang di Madinah. Karenanya, sejak kecil Imam Malik tak berniat meninggalkan Madinah untuk mencari ilmu. Ia merasa Madinah adalah kota dengan sumber ilmu yang berlimpah lewat kehadiran ulama-ulama besarnya.

Kendati demikian, dalam mencari ilmu Imam Malik rela mengorbankan apa saja. Menurut satu riwayat, sang imam sampai harus menjual tiang rumahnya hanya untuk membayar biaya pendidikannya. Menurutnya, tak layak seorang yang mencapai derajat intelektual tertinggi sebelum berhasil mengatasi kemiskinan. Kemiskinan, katanya, adalah ujian hakiki seorang manusia.

Karena keluarganya ulama ahli hadits, maka Imam Malik pun menekuni pelajaran hadits kepada ayah dan paman-pamannya. Kendati demikian, ia pernah berguru pada ulama-ulama terkenal seperti Nafi' bin Abi Nuaim, Ibnu Syihab az Zuhri, Abul Zinad, Hasyim bin Urwa, Yahya bin Said al Anshari, dan Muhammad bin Munkadir. Gurunya yang lain adalah Abdurrahman bin Hurmuz, tabi'in ahli hadits, fikih, fatwa dan ilmu berdebat; juga Imam Jafar Shadiq dan Rabi Rayi.

Dalam usia muda, Imam Malik telah menguasai banyak ilmu. Kecintaannya kepada ilmu menjadikan hampir seluruh hidupnya diabdikan dalam dunia pendidikan. Tidak kurang empat khalifah, mulai dari Al Mansur, Al Mahdi, Hadi Harun, dan Al Ma'mun, pernah jadi murid Imam Malik. Ulama besar, Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi'i pun pernah menimba ilmu dari Imam Malik. Belum lagi ilmuwan dan para ahli lainnya. Menurut sebuah riwayat disebutkan murid terkenal Imam Malik mencapai 1.300 orang.

Ciri pengajaran Imam Malik adalah disiplin, ketentraman, dan rasa hormat murid kepada gurunya. Prinsip ini dijunjung tinggi olehnya sehingga tak segan-segan ia menegur keras murid-muridnya yang melanggar prinsip tersebut. Pernah suatu kali Khalifah Mansur membahas sebuah hadits dengan nada agak keras. Sang imam marah dan berkata, ''Jangan melengking bila sedang membahas hadits Nabi.''

Ketegasan sikap Imam Malik bukan sekali saja. Berulangkali, manakala dihadapkan pada keinginan penguasa yang tak sejalan dengan aqidah Islamiyah, Imam Malik menentang tanpa takut risiko yang dihadapinya. Salah satunya dengan Ja'far, gubernur Madinah. Suatu ketika, gubernur yang masih keponakan Khalifah Abbasiyah, Al Mansur, meminta seluruh penduduk Madinah melakukan bai'at (janji setia) kepada khalifah. Namun, Imam Malik yang saat itu baru berusia 25 tahun merasa tak mungkin penduduk Madinah melakukan bai'at kepada khalifah yang mereka tak sukai.

Ia pun mengingatkan gubernur tentang tak berlakunya bai'at tanpa keikhlasan seperti tidak sahnya perceraian paksa. Ja'far meminta Imam Malik tak menyebarluaskan pandangannya tersebut, tapi ditolaknya. Gubernur Ja'far merasa terhina sekali. Ia pun memerintahkan pengawalnya menghukum dera Imam Malik sebanyak 70 kali. Dalam kondisi berlumuran darah, sang imam diarak keliling Madinah dengan untanya. Dengan hal itu, Ja'far seakan mengingatkan orang banyak, ulama yang mereka hormati tak dapat menghalangi kehendak sang penguasa.

Namun, ternyata Khalifah Mansur tidak berkenan dengan kelakuan keponakannya itu. Mendengar kabar penyiksaan itu, khalifah segera mengirim utusan untuk menghukum keponakannya dan memerintahkan untuk meminta maaf kepada sang imam. Untuk menebus kesalahan itu, khalifah meminta Imam Malik bermukim di ibukota Baghdad dan menjadi salah seorang penasihatnya. Khalifah mengirimkan uang 3.000 dinar untuk keperluan perjalanan sang imam. Namun, undangan itu pun ditolaknya. Imam Malik lebih suka tidak meninggalkan kota Madinah. Hingga akhir hayatnya, ia tak pernah pergi keluar Madinah kecuali untuk berhaji.

Pengendalian diri dan kesabaran Imam Malik membuat ia ternama di seantero dunia Islam. Pernah semua orang panik lari ketika segerombolan Kharijis bersenjatakan pedang memasuki masjid Kuffah. Tetapi, Imam Malik yang sedang shalat tanpa cemas tidak beranjak dari tempatnya. Mencium tangan khalifah apabila menghadap di baliurang sudah menjadi adat kebiasaan, namun Imam Malik tidak pernah tunduk pada penghinaan seperti itu. Sebaliknya, ia sangat hormat pada para cendekiawan, sehingga pernah ia menawarkan tempat duduknya sendiri kepada Imam Abu Hanifah yang mengunjunginya.


Al Muwatta' adalah kitab fikih berdasarkan himpunan hadits-hadits pilihan. Santri mana yang tak kenal kitab yang satu ini. Ia menjadi rujukan penting, khususnya di kalangan pesantren dan ulama kontemporer. Karya terbesar Imam Malik ini dinilai memiliki banyak keistimewaan. Ia disusun berdasarkan klasifikasi fikih dengan memperinci kaidah fikih yang diambil dari hadits dan fatwa sahabat.

Menurut beberapa riwayat, sesungguhnya Al Muwatta' tak akan lahir bila Imam Malik tidak 'dipaksa' Khalifah Mansur. Setelah penolakan untuk ke Baghdad, Khalifah Al Mansur meminta Imam Malik mengumpulkan hadits dan membukukannya. Awalnya, Imam Malik enggan melakukan itu. Namun, karena dipandang tak ada salahnya melakukan hal tersebut, akhirnya lahirlah Al Muwatta'. Ditulis di masa Al Mansur (754-775 M) dan baru selesai di masa Al Mahdi (775-785 M).

Dunia Islam mengakui Al Muwatta' sebagai karya pilihan yang tak ada duanya. Menurut Syah Walilullah, kitab ini merupakan himpunan hadits paling shahih dan terpilih. Imam Malik memang menekankan betul terujinya para perawi. Semula, kitab ini memuat 10 ribu hadits. Namun, lewat penelitian ulang, Imam Malik hanya memasukkan 1.720 hadits. Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa dengan 16 edisi yang berlainan. Selain Al Muwatta', Imam Malik juga menyusun kitab Al Mudawwanah al Kubra, yang berisi fatwa-fatwa dan jawaban Imam Malik atas berbagai persoalan.

Imam Malik tak hanya meninggalkan warisan buku. Ia juga mewariskan mazhab fikih di kalangan Islam Sunni, yang disebut sebagai Mazhab Maliki. Selain fatwa-fatwa Imam Malik dan Al Muwatta', kitab-kitab seperti Al Mudawwanah al Kubra, Bidayatul Mujtahid wa Nihaayatul Muqtashid (karya Ibnu Rusyd), Matan ar Risalah fi al Fiqh al Maliki (karya Abu Muhammad Abdullah bin Zaid), Asl al Madarik Syarh Irsyad al Masalik fi Fiqh al Imam Malik (karya Shihabuddin al Baghdadi), dan Bulgah as Salik li Aqrab al Masalik (karya Syeikh Ahmad as Sawi), menjadi rujukan utama mazhab Maliki.

Di samping sangat konsisten memegang teguh hadits, mazhab ini juga dikenal amat mengedepankan aspek kemaslahatan dalam menetapkan hukum. Secara berurutan, sumber hukum yang dikembangkan dalam Mazhab Maliki adalah Al-Qur'an, Sunnah Rasulullah SAW, amalan sahabat, tradisi masyarakat Madinah (amal ahli al Madinah), qiyas (analogi), dan al maslahah al mursalah (kemaslahatan yang tidak didukung atau dilarang oleh dalil tertentu).

Mazhab Maliki pernah menjadi mazhab resmi di Mekah, Madinah, Irak, Mesir, Aljazair, Tunisia, Andalusia (kini Spanyol), Marokko, dan Sudan. Kecuali di tiga negara yang disebut terakhir, jumlah pengikut mazhab Maliki kini menyusut. Mayoritas penduduk Mekah dan Madinah saat ini mengikuti Mazhab Hanbali. Di Iran dan Mesir, jumlah pengikut Mazhab Maliki juga tidak banyak. Hanya Marokko saat ini satu-satunya negara yang secara resmi menganut Mazhab Maliki.

Jumat, 10 Desember 2010

BUDDHA: SEBUAH AGAMA BERHALA

Sekitar 2500 tahun yang lalu, ajaran Buddha muncul di timur laut India, dan pada saat itu mengembangkan pengaruhnya melalui Sri Lanka, Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja, Cina, Jepang, Tibet, Mongolia, Manchuria, Korea, dan Nepal. Saat ini, agama ini mempunyai sekitar 330 juta pengikut.
Pengertian ajaran Buddha selalu beragam, sejalan dengan cara pemeluk Buddha memahami arti kehidupan. Bagi beberapa orang, ajaran Buddha merupakan sebuah agama, sementara lainnya menganggapnya sebuah aliran atau bentuk filsafat. Namun dari pandangan kehidupan dan semua kegiatannya, akhirnya jelas bahwa ajaran Buddha adalah agama penyembah berhala dan bersifat takhayul. Karena ajaran Buddha adalah sebuah agama tak mengenal Tuhan dan kurang meyakini adanya Tuhan, agama ini juga menolak adanya malaikat, akhirat yang abadi, neraka, dan Hari Pembalasan.
Siddhartha Gautama, pendiri ajaran Buddha, dilahirkan di kota India Kapilawastu dan hidup antara 563 dan 483 SM. Pada saat itu, agama utama di India adalah Brahmanisme, agama penjajah Arya. Menurut tata nilai kasta Arya yang kaku dan tak tergoyahkan, seluruh masyarakat dibagi atas empat kelompok, yang masing-masingnya dibagi lagi menjadi kasta-kasta. Pendeta Brahma adalah kelompok masyarakat yang paling tinggi dan mereka tanpa ampun menindas rakyat yang kedudukannya lebih rendah.
Gautama dilahirkan sebagai putera seorang pangeran kaya dengan nama lahir Suddhodana, dalam keluarga bangsawan Sakya. Setelah menghabiskan usia mudanya dalam kesenangan dan kemudahan, Gautama meninggalkan istana pada usia 29 dan menjadi pencari ketenangan jiwa yang berlanjut hingga kematiannya di usia 80. Sepanjang kehidupannya, ia membangun dasar-dasar pemikiran yang dengan berlalunya waktu berkembang menjadi ajaran yang sekarang kita sebut ajaran Buddha.
Kata Buddha berarti “orang yang bangkit, atau mendapat pencerahan,” menandakan tercapainya tingkat kejiwaan seperti yang telah dicapai oleh Siddhartha Gautama. Ajaran-ajaran dan kitab-kitab Buddha yang disampaikan pada kita tidaklah berasal dari masa kehidupannya, melainkan ditulis antara 300 hingga 400 tahun setelah kematiannya. Dalam halaman-halaman berikut pada buku ini, kita akan meneliti kitab-kitab ini secara terperinci dan kita akan lihat bahwa semuanya berisi keyakinan palsu, kegiatan-kegiatan yang menyalahi seluruh logika dan menampilkan Buddha secara sesat sebagai sebuah patung yang disembah.

Orang yang Menganggap Buddha
sebagai Tuhan
Dalam keyakinan, filsafat, dan tindakan mendasarnya, agama ini adalah penyembah berhala. Pemeluk Buddha berpegang pada Buddha dengan rasa cinta yang tinggi, rasa hormat dan takut yang dalam, bahkan menganggapnya sebagai tuhan.

Meskipun kita tidak mempunyai catatan dari masa Buddha yang mendukung bahwa ia mengajak pengikutnya untuk menyembahnya, para Brahma, yang memang telah menyembah berhala, segera mulai membuat patung Siddharta. Dan di waktu itu, orang-orang yang memberi cinta berlebihan kepada Buddha mulai menyembah patung ini dan menganggapnya tuhan.
Padahal, seluruh agama yang berdasar pada wahyu Tuhan bersandar pada keimanan terhadap satu Tuhan yang mengakui-Nya sebagai zat yang esa dan tak ada yang menyamai. Dalam Al-Qur'an (22:34) Allah berfirman, “Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya.” Mengingkari keagungan Allah dan menyembah berhala berupa manusia biasa, seperti yang dilakukan penganut Buddha, dilukiskan dalam Al-Qur'an sebagai “mempersekutukan sesuatu dengan Allah.” Di ratusan tempat dalam Al-Qur'an, Allah mengingatkan kita bahwa “perbuatan mempersekutukan” ini adalah dosa yang sangat besar. Misalnya:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (Qur'an, 4: 48)

Kata “mempersekutukan,” atau syirik, berarti bekerjasama. Al-Qur'an menggunakannya dalam hal menyejajarkan makhluk dengan Allah, seperti memperlakukan suatu benda, manusia, atau gagasan-gagasan sama atau lebih tinggi dibanding Tuhan. Penyembah berhala menghormati apa pun gambar, patung, atau benda yang ia hubungkan dengan Tuhan lebih tinggi dari penghormatan pada Tuhan itu sendiri, sehingga mengabdikan sepenuhnya; cinta, hormat, minat, dan baktinya pada hal tersebut. Al-Qur'an (15:96;17: 39; 51: 51) menyebut jalan pikiran sesat ini sebagai “menganggap adanya tuhan lain selain Allah.”
Agama Islam didasarkan pada keyakinan akan keesaan Allah (tauhid). Allah sering mengulangi kata Laa ilaha illahu (‘tidak ada Tuhan selain diri-Nya”), yang merupakan syarat utama keimanan. Oleh karena itu, arti paling dasar dari syirik adalah menyimpang dari kebenaran menuju gagasan keliru bahwa ada hal lain selain Allah yang memiliki “kekuatan dan keperkasaan.” Dalam Al-Qur'an, Allah memperkenalkan dirinya dengan menggambarkan sifatnya dan memberi tahu kita dalam banyak ayat dalam Al-Qur'an bahwa tidak ada tuhan selain Dia. Dalam ayat 59:22-24, Allah memfirmankan nama-Nya yang agung sebagai berikut:

Dialah Allah, Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Allah mewujudkan sifat-Nya untuk diperlihatkan pada diri manusia. Misalnya, Dia mempunyai kasih sayang tak terbatas dan mewujudkan sifat-Nya sebagai “Penyayang” dalam diri manusia. Sifat-Nya bisa dilihat pada manusia, meskipun manusia memiliki sifat-sifat ini tanpa usaha dan hasil kerjanya sendiri. Dengan sendirinya, tidak ada zat lain yang bisa memiliki atau menciptakan sifat Allah. Menganggap bahwa mereka mempunyai kemampuan ini berarti “mengada-adakan tuhan lain selain Allah.” Seperti halnya kalangan ajaran Buddha, mereka membuat kekeliruan mempersekutukan makhluk-Nya dengan Allah, menganggap adanya sifat Tuhan pada zat lain, makhluk yang lebih rendah.
Misalnya, Allah Maha Melihat dan mengetahui “segala sesuatu bahkan yang tersembunyi sekalipun” Ketika seseorang melakukan sesuatu diam-diam, tak seorang pun di sekitarnya, dan yakin tak seorang pun melihatnya, sesungguhnyalah Allah melihatnya dan mengetahui segala yang ia perbuat. Dia melihat dan mengetahui segala peristiwa yang terjadi di alam semesta, hingga sekecil-kecilnya, karena Dia adalah Tuhan Yang Esa Yang menciptakan semua itu. Dalam Al-Qur'an (6:103), Allah menegaskan bahwa “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui.”
Di mana pun seseorang berada, pastilah Allah bersamanya. Allah mengetahui apa yang Anda pikirkan saat ini, sewaktu Anda membaca kata-kata ini. Allah memberi tahu kita bahwa Ia melihat kita di mana pun kita berada:

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur'an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarrah (atom) di bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Qur'an, 10: 61)                

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya1455. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Qur'an, 57: 4)

Pandangan ini mengungkap pemahaman keliru pemeluk Buddha, dan sejumlah umat manusia lainnya. Pengikut Buddha menganggap Buddha sebagai maha melihat dan maha mengetahui. Diperbanyaknya patung-patung Buddha di negara-negara yang menjadikannya sebagai agama utama, dan mata Buddha yang dilukiskan di setiap kuil, seluruhnya menjadi saksi keyakinan menyimpang penganut Buddha bahwa Buddha melihat mereka setiap saat dengan matanya yang terbuat dari batu dan kayu dan mendengar dengan telinga kayunya. Karena itu, mereka mengisi rumah-rumah mereka dengan patungnya, dan di depannya mereka melakukan peribadatan.
Jadi, mereka bertindak bertolak belakang dengan akal sehat dan melakukan dosa besar. Dalam Al-Qur'an (7:195), Allah memberi tahu kita bahwa manusia yang mempersekutukan makhluk dengan Allah telah benar-benar tertipu; dan bahwa apa pun yang mereka jadikan tuhan tak punya kekuasaan atas apa pun. “Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu ia dapat berjalan, atau mempunyai tangan yang dengannya ia dapat memegang dengan keras589, atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, atau mempunyai telinga yang dengannya ia dapat mendengar?” Jangan lupa, “penyembahan berhala” tidak hanya berarti beribadah pada patung benda. Setiap orang yang menghormati orang lain karena apa yang dimilikinya, berpikir bahwa mereka dikuasai orang tersebut, dan berada di bawah kekuatannya, mengagungkannya, tidak mengakui bahwa makhluk fana ini adalah ujian Allah untuknya, itu pun tergolong perbuatan menyembah berhala.  Seperti yang Allah peringatkan dalam Al-Qur'an (2:165):

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Ada pun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

Buddha adalah hamba tak berdaya yang diciptakan Allah dan diuji di dunia ini. Ia tidak punya kemampuan atau kehendak sendiri untuk mempengaruhi manusia. Adalah karena kehendak Allah-lah ia berbicara, dan ia menjalani kehidupan yang diberikan Allah padanya, menurut takdir yang telah digariskan Allah. Doa Ibrahim AS dalam Al-Qur'an (26:78-82) menyatakan dengan jelas ketidakberdayaan manusia di depan kekuasaan mutlak Allah:

(Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Dia Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.

Buddha menjalani takdir yang telah ditentukan Allah untuknya, dan ketika waktunya tiba, ia mati. Jangan lupa bahwa kalau tidak dikehendaki Allah, tak seorang pun mempunyai keimanan. Adalah Allah Yang menuntun manusia. Jika tidak dikehendaki Allah, tak seorang pun dapat menunjuki orang lain ke jalan yang lurus.  Selain itu, Allahlah yang menunjuki manusia kepada kebenaran dan keindahan. Ajakan dan dakwah untuk mempengaruhi hati manusia hanya terjadi atas izin Allah.  Demikianlah, Dialah satu-satunya kekuasaan mutlak yang harus diagungkan, disembah, dan dimintai pertolongannya. Seperti dinyatakan Allah dalam Al-Qur'an (22:74): “Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa.”
Al-Qur'an memberikan sejumlah contoh manusia yang menyembah berhala. Sebagai contoh, orang-orang kafir dari umat Nabi Ibrahim membuat bentuk-bentuk tuhan mereka, menyembahnya, dan mendengarkan seruannya. Dalam Al-Qur'an (21:52-53) Allah berfirman: “(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?" Mereka menjawab, "Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya."
Seperti ditunjukkan ayat ini, manusia telah menganut bentuk pemujaan ini sebagai warisan nenek moyangnya yang telah meninggal. Oleh karena itulah, ibadat pada berhala ini, tak peduli masuk akal atau tidak, bisa menjadi sejenis kegiatan masyarakat yang telah dihayati semenjak kecil dan tidak lagi dianggap aneh, bahkan dalam masyarakat modern sekalipun.
Dalam Al-Qur'an (27:24-25), Allah berfirman bahwa kaum Saba’ adalah penyembah berhala, seperti halnya umat Ibrahim:

Aku menemukan dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.

Ayat-ayat ini membawa kita pada hal penting lain: setan telah membuat agama-agama berhala terlihat benar dan berarti bagi manusia, untuk menghalangi mereka dari jalan Allah. Padahal, setan mengetahui, misalnya, bahwa matahari bukanlah tuhan yang harus disembah, melainkan ciptaan Allah seperti benda lainnya di alam semesta. Dengan kata lain, setiap agama berhala yang menentang wahyu Allah sebenarnya didasarkan pada wahyu Setan, yang melakukannya sehingga baik laki-laki maupun perempuan tidak menundukkan dirinya pada Allah.
Contoh lain penyembahan berhala yang diwahyukan Allah dalam Al-Qur'an menyebut tentang Bani Israil. Ketika mereka melarikan diri dari Firaun dan kaumnya bersama Musa AS, mereka menemui seseorang yang menyembah berhala dan mereka ingin Musa membuatkan untuk mereka berhala yang serupa. Dalam Al-Qur'an (7:138-139), Allah memberi tahu tentang hal ini:

Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu562, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata, "Hai Musa, buatkanlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)." Musa menjawab, "Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)". Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.

Dari ayat ini kita melihat bahwa Bani Israil, yang melakukan kebodohan, menginginkan tuhan yang bisa mereka lihat dengan mata mereka, yang di depannya mereka bisa membungkuk dan mungkin melakukan upacara-upacara yang tidak jelas.  Ini menunjukkan bahwa mereka tidak berpikir tentang kekuasaan Allah atau menghormati-Nya.  Meskipun Musa telah menerangkan kebenaran pada mereka, segera setelah ia meninggalkan mereka, mereka membuat sebuah patung, sebuah kesesatan besar. Dalam Al-Qur'an (7:148-149) Allah memberi tahu kita bahwa segera setelah itu, penyesalan datang pada mereka:

Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara570. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim.

Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa mereka telah sesat, mereka pun berkata, "Sungguh jika Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi."

Namun bagi orang-orang yang menjadikan patung lembu tersebut sebagai tuhan, Allah memberi jawaban berikut ini (Al-Qur'an 7:152):

Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebohongan.

Ayat di atas menunjukkan bahwa jika Allah berkehendak, Dia bisa mengampuni atau menghukum orang-orang yang mempersekutukan makhluk dengan diri-Nya. Orang-orang yang melakukannya sebenarnya sedang merajut kebohongan, karena kebenaran yang nyata adalah bahwa hanya ada satu Tuhan. Bersujud di depan tuhan-tuhan buatan ini adalah kejahatan besar terhadap Allah. Seperti dinyatakan dalam Al-Qur'an (4:48), Allah dapat mengampuni orang-orang yang melakukan dosa dan kesalahan apa pun, tapi tidak akan mengampuni orang yang mempersekutukan makhluk dengan diri-Nya:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

Tidak Ada Tuhan
Selain Allah
Dasar Islam adalah pengetahuan bahwa Allah itu ada, dan pemahaman bahwa tidak ada tuhan selain-Nya. Dalam Al-Qur'an, sumber wahyu Islam, Allah memberi tahu kita (2:163) bahwa inilah dasar pijakan agama: “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
Jelas, hanya ada satu Zat Mutlak, dan segala hal lainnya adalah ciptaan-Nya. Allah menciptakan alam semesta tempat tinggal kita dan, sebelum Dia menciptakannya, tidak ada satu pun yang ada. Tak satu pun, bernyawa atau tak bernyawa, dijadikan ada; tak satu pun selain ruang hampa semata. Saat alam semesta diciptakan, sejak itulah waktu, ruang, dan zat menjadi ada, diciptakan oleh Tuhan Abadi yang tidak tergantung pada apa pun dari mereka. Dalam satu ayat (2:117) dalam Al-Qur'an, Allah menyebut Diri-Nya sebagai Pencipta Maha Sempurna dari alam semesta:

Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya:  "Jadilah!" Lalu jadilah ia.

Allah menciptakan segala yang terjadi di waktu ini, dan di setiap saat. Allah tetap menciptakan setiap tetesan hujan yang jatuh, setiap anak yang dilahirkan, fotosintesis yang terjadi di dedaunan, fungsi tubuh-tubuh yang hidup, arah bintang dalam galaksi, setiap benih yang berkecambah, seluruh yang kita tahu dan segala hal yang tidak kita ketahui. Segalanya di alam semesta, besar dan kecil, bergerak menurut perintah-Nya (Al-Qur'an, 27:64):

Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Katakanlah, "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar."

Dari sel-sel makhluk hidup hingga bintang-gemintang di alam semesta, seluruh sistem terjadi dalam aturan dan fungsi yang mengagumkan secara sempurna. Aturan menakjubkan ini, yang dikendalikan di setiap saat, berlanjut dalam keselarasan sempurna karena Tuhan kita meliputi seluruh makhluk yang ada dengan pengetahuan abadi-Nya (Al-Qur'an, 67:3-4).

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah.

Menolak Allah sebagai Pencipta dan memalingkan kesadaran pada segala hal yang telah Dia ciptakan menunjukkan sangat kurangnya kecerdasan. Aturan mengagumkan di alam semesta dan rancang bangun tanpa cacat di semua makhluk hidup menunjukkan pada kita bahwa satu Pencipta telah menciptakan semuanya. Dalam satu ayat (23:91), Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan lain di sisi-Nya, dan tidak ada zat lain di alam semesta mempunyai kekuatan terlepas dari-Nya.

Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.

Allah berada di mana pun dan meliputi segala sesuatu. Dialah satu-satunya yang sejati, Zat mutlak, dan segala sesuatu mematuhi kehendak-Nya. Allah berada di setiap waktu dan setiap tempat. Tidak ada tempat di mana Dia tidak berada; tidak ada makhluk hidup berada di luar kendali-Nya. Dia-lah yang Mahasempurna dan bebas dari segala kelemahan (Al-Qur'an 2:255):

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa pun dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.
Keyakinan menyimpang ajaran Buddha sangat beragam di tiap negara, karena sepanjang 2500 tahun yang lalu, agama ini telah tercampur aduk dengan berbagai agama setempat, kebiasaan, dan budaya yang dibuat oleh negara-negara tempat penyebarannya. Saat ini, beragam ajaran Buddha yang dijalankan di Jepang, Cina, Tibet, Sri Lanka, Vietnam, dan Amerika sangat berbeda satu sama lain.

Seperti ditunjukkan sumber-sumber sejarah, Buddha selalu memilih berbicara tentang pemikiran mendasar dan menyampaikan cara peribadatannya secara lisan; penelitian berabad-abad telah menunjukkan bahwa ia tidak meninggalkan satu catatan tertulis pun. Pemeluk Buddha yakin bahwa ajarannya diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi selama 400 tahun, hingga akhirnya terkumpul dalam hukum Pali. Akan tetapi, sebagian besar cendekiawan percaya bahwa sebagian besar kata-kata ini bukanlah perkataan sang Buddha sama sekali, melainkan ditambahkan padanya dalam perjalanan abad hingga mencapai bentuk seperti sekarang ini. Oleh karena itu, ajaran Buddha, yang tidak mengandalkan catatan tertulis apa pun, mengalami banyak perubahan dan penyimpangan sepanjang waktu, dan banyak yang diubah kembali dengan penambahan-penambahan dan penghapusan-penghapusan.
Saat ini, kitab suci Buddha, yang ditulis dalam bahasa Pali, disebut dengan Tripitaka, yang berarti “tiga keranjang.” Tidak diketahui pasti kapan Tripitaka ditulis, namun dianggap mencapai bentuk seperti sekarang ini di Sri Lanka pada suatu waktu di abad pertama SM. Tulisan di dalamnya dibagi dalam bab-bab berikut ini:
1. Vinaya Pitaka: Bab ini, yang berarti “Keranjang Kedisiplinan,” meliputi aturan yang diperuntukkan bagi para biksu dan biksuni dan bagaimana mengikutinya. Juga ada beberapa kesesuaian dengan pembaca yang bukan biksu atau biksuni.
2. Sutta Pitaka: Sebagian besar bab ini ditulis menurut percakapan ketika Buddha menerangkan gagasannya. Oleh karena itu, bab ini disebut “Keranjang Pembahasan.” Kata-kata sang Buddha ini diturunkan selama berabad-abad, dan bercampur aduk dengan legenda-legenda dan keyakinan keliru lainnya.
3. Abhidharma Pitaka: Bab ini berisi filsafat Buddha dan penerjemahan wejangan sang Buddha.
Para biksu Buddha hari ini menganggap perkataan-perkataan ini suci; mereka beribadah dan mengatur kehidupannya menurut perkataan ini. Mereka melukiskan Buddha sebagai tuhan sejati (Tuhan pastilah bukan seperti ini!), dan karena itulah, pemeluk Buddha modern menundukkan diri di depan patung-patungnya, menaruh di depannya sesajian makanan dan bunga, dan berharap pertolongan dari mereka. Jelas, ini benar-benar perbuatan tak masuk akal, dan setiap orang yang percaya bahwa patung batu dan perunggu bisa mendengar atau menolong jelas telah tertipu. Berikut dalam buku ini, kita akan membahas perbuatan-perbuatan sesat mendasar ini lebih terperinci dan melihat bagaimana ajaran Buddha menjadi ajaran rahasia yang memusatkan perhatian pada manusia tanpa memperhitungkan pertanyaan tentang bagaimana tata laksana dunia yang tak bercela ini bisa terjadi, atau bagaimana seluruh alam semesta bisa tercipta.
Sebuah Agama Tak
Kenal Tuhan
Filsafat pemeluk Buddha mengingkari adanya Tuhan, di samping mendasarkan diri mereka pada beberapa akhlak kemanusiaan dan pelarian diri dari penderitaan duniawi. Tanpa dukungan intelektual atau ilmiah agama ini bersandar pada pemikiran kembar tentang karma dan kelahiran kembali (reinkarnasi), sebuah gagasan bahwa manusia akan terus terlahir kembali ke dunia ini, bahwa kehidupan mereka berikutnya ditentukan oleh perilaku mereka di kehidupan sebelumnya. Tak ada kitab Buddha yang merenungkan adanya sang Pencipta, atau bagaimana alam semesta, dunia, dan makhluk hidup terjadi. Tak ada kitab Buddha yang melukiskan bagaimana alam semesta diciptakan dari ketiadaan; atau bagaimana makhluk hidup menjadi ada; atau bagaimana menerangkan bukti, yang bisa dilihat di mana-mana di dunia ini, tentang penciptaan yang tak ada bandingannya. Menurut  tipu daya ajaran Buddha, bahkan tidak diperlukan adanya pemikiran tentang semua ini! Satu-satunya hal penting dalam kehidupan, yang dinyatakan oleh kitab-kitab Buddha, adalah menekan nafsu, menghormati Buddha, dan melarikan diri dari penderitaan.
Oleh sebab itu, sebagai sebuah agama, ajaran Buddha menderita karena cita-cita yang sangat sempit yang menghambat pengikutnya merenungkan pertanyaan mendasar seperti dari mana mereka berasal atau bagaimana alam semesta dan seluruh makhluk hidup terjadi. Jelas, agama ini menghalangi mereka bahkan dari memikirkan hal-hal ini dan menekan mereka ke dalam bentuk sempit kehidupan keduniawian mereka saat ini.

Agama Penindasan
dan Perbudakan
Usaha ajaran Buddha menihilkan seluruh nafsu manusia adalah sisi lain filsafatnya yang sempit. Allah menciptakan berkah dunia ini untuk manfaat dan kesenangan manusia, sehingga mereka bersyukur kepada-Nya. Oleh karena itu, Islam tidak memerintahkan manusia untuk menekan hawa nafsunya atau menanggung rasa sakit dan penderitaan. Sebaliknya, Islam mengajak mereka memanfaatkan hal-hal indah di dunia (tanpa perilaku yang menyimpang dan melawan hukum), bukan mengekang diri mereka tanpa kebutuhan, atau menyebabkan rasa sakit atas diri mereka sendiri. Oleh karena itu, Allah berfirman (Al-Qur'an, 7: 157) bahwa Nabi Muhammad SAW telah “memutuskan dari pengikutnya belenggu mereka”:

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka temukan tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Pendeknya, Islam adalah agama pembebas yang menyelamatkan manusia dari kebiasaan dan larangan tak bermanfaat, tekanan sosial, dan kecemasan tentang apa yang mungkin dipikirkan orang lain. Agama ini mengajak mereka untuk membawa ketenangan, hidup damai dengan tujuan mendapat ridha Allah. Oleh karena itulah Nabi SAW dalam banyak perkataannya menganjurkan kita untuk menjadikan agama ini sederhana dan mudah.
“Mudahkanlah segalanya untuk manusia, dan jangan membuat kesukaran bagi mereka, dan tenangkanlah mereka (dengan kabar gembira) dan jangan menakuti mereka.”1
“Kamu telah diutus untuk memudahkan segalanya (untuk manusia) dan kamu tidaklah diutus untuk mempersulit mereka.”2
Ajaran Buddha memperbudak pengikutnya dalam biara-biara yang suram dan memaksa mereka hidup dalam penderitaan dan kemiskinan. Anehnya, agama ini melarang makanan yang baik, kebersihan, kenyamanan, anugerah yang Allah ciptakan untuk manusia, menerima penderitaan sebagai kebaikan dan menganjurkan pengikutnya untuk menuju kehidupan yang menyedihkan.
Bagi biksu dan biksuni Buddha, kehidupan itu penuh segala jenis kesukaran. Mereka dilarang bekerja atau mempunyai hak milik, wajib mencari makan untuk diri sendiri dari pintu ke pintu dan mengemis dari manusia, dengan menadahkan tangannya. Karena hal inilah, para biarawan Buddha ini sering disebut biksu/bhikku (pengemis) oleh masyarakat. Para biksu Buddha dilarang menikah atau punya kehidupan berkeluarga dalam bentuk apa pun; mereka mungkin hanya punya satu jubah, yang harus dari kain bermutu rendah berwarna kuning atau merah.
Di samping jubah ini, satu-satunya milik mereka yang lain adalah tempat tidur yang sulit dipakai tidur, silet untuk mencukur kepala mereka, kotak jarum untuk mereka gunakan, sebotol air, dan sebuah mangkuk untuk mengemis. Mereka hanya makan satu kali sehari, umumnya berupa roti dan nasi yang diberi bumbu dan minum air atau air cucian beras. Mereka harus menyelesaikan makan sebelum siang dan tidak diizinkan makan apa pun hingga keesokan harinya. Makanan lain, bahkan obat-obatan dianggap kemewahan terlarang. Seorang biksu dapat makan daging, ikan, atau sayur hanya jika ia sakit, itu pun hanya dengan izin biksu yang lebih tinggi derajatnya. Pendeknya, kekangan ajaran Buddha adalah bentuk penyiksaan diri.
Keadaan ini adalah perwujudan kebenaran ayat dalam Al-Qur'an (10:44) yang menyebutkan. “Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikit pun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.” Namun, bagi mereka yang percaya pada-Nya dan mengabdikan dirinya kepada-Nya, Allah menjanjikan kehidupan yang sangat baik, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Bagi mereka diberikan baik berkah di dunia ini maupun di akhirat. Menurut Al-Qur'an (7:32):

Katakanlah, "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat536." Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.

Sisi gelap lain dari ajaran Buddha adalah keputusasaan (rasa pesimis). “Nirwana” yang dijanjikan untuk pemeluknya tidak lebih dari pemutusan gila atas seluruh hubungan dengan kehidupan dengan pemikiran menyedihkan yang membawa pandangan suram tentang dunia. The Catholic Encyclopedia (Ensiklopedia Katolik) menggambarkan sisi gelap ajaran Buddha ini dengan:
Kerusakan parah lain ajaran Buddha adalah rasa pesimisnya yang keliru. Pikiran yang kuat dan sehat memberontak melawan pandangan suram bahwa hidup ini tidak layak dijalani, bahwa setiap bentuk keberadaan kesadaran adalah kejahatan. Pendirian ajaran Buddha ini ditentang oleh suara alam dengan keras yang menyuarakan harapan dan suka cita. Ini adalah protes melawan alam karena memiliki kesempurnaan hidup yang masuk akal. Ambisi tertinggi ajaran Buddha adalah menghancurkan kesempurnaan itu dengan membawa seluruh makhluk hidup menuju keteduhan Nirwana tak sadar. Ajaran Buddha oleh karenanya bersalah karena kejahatan besar melawan alam, sehingga menyebabkan ketidakadilan pada pribadi-pribadi. Semua nafsu yang sah harus ditekan. Kedamaian tak berdosa dikutuk. Penciptaan musik dilarang. Penelitian ilmu alam diabaikan. Perkembangan pikiran dibatasi hanya untuk mengingat kitab-kitab Buddha dan mempelajari metafisika Buddha, yang nilainya sangat kecil. Cita-cita Buddha di dunia adalah pengabaian yang kaku dalam segala hal.3
Islam tidak membuat pengikutnya acuh tak acuh; sebaliknya, Islam menghimbau mereka pada semangat, aktivitas, dan kebahagiaan. Semua orang yang menganut ajaran Islam sangat tanggap pada apa yang terjadi di sekeliling mereka. Mereka tidak memandang dunia seperti ajaran Buddha, sebagai kekacauan yang menipu mata, melainkan tempat ujian, sebuah ajang tempat mereka mengamalkan ajaran akhlak tinggi Al-Qur'an.  Oleh karena itu, sejarah Islam penuh dengan para pemimpin yang adil dan berhasil yang memastikan kehidupan yang nyaman dan bahagia untuk rakyatnya. Dan bertentangan tajam dengan hal ini, ajaran Buddha hanya menghasilkan pengikut yang menyedihkan yang membuat dirinya sendiri menderita, menyeret diri mereka sendiri dan orang lain pada kemandekan dan kemiskinan, dengan satu-satunya pemecahan untuk masalah yang mereka hadapi ialah mengorbankan diri sendiri. Inilah salah satu tipu daya terbesar yang dimainkan setan atas manusia.

Sebuah Agama Kafir
Ajaran Buddha adalah agama kafir, karena menyembah berhala. Bisa dikatakan bahwa ajaran Buddha dewasa ini telah terbagi atas kelompok-kelompok berbeda, dan malah ibadah-ibadah sang Buddha itu sendiri hanya ditemukan pada beberapa di antaranya. Namun, bahkan menerima ajaran Buddha sebagai pedoman sempurna (sebuah kekeliruan yang dialami seluruh aliran Buddha) pun merupakan petunjuk bahwa agama ini memandang Buddha sebagai tuhan.
Menurut sumber-sumber sejarah, para biksu Buddha mulai menyembah Buddha segera setelah kematiannya. Patung-patung dirinya didirikan di setiap tempat, dan keyakinan sesat mendapatkan kekuatan bahwa Nirwana akan benar-benar terwujud dalam dirinya dan terwujud dalam patung-patungnya. Rasa hormat berlebihan para biksu Buddha kepada sang Buddha kemudian menjadi ibadah sesungguhnya. Saat ini, patung-patung raksasa menghiasi setiap negara tempat ajaran Buddha dijadikan agama utama. Di banyak negara dari Asia hingga Amerika Anda bisa melihat patung-patung dan kuil dengan mata Buddha dilukiskan di sana, lagi-lagi menunjukkan pesan bahwa Buddha melihat segalanya dan melihat manusia terus menerus, dan bahwa mereka harus mengingatnya setiap saat dalam kehidupan mereka. Jelas, merupakan keyakinan yang sepenuhnya tak berdasar bahwa seseorang yang telah mati ribuan tahun yang lalu masih bisa melihat orang-orang yang percaya padanya, melindungi mereka, dan mendengarkan doa-doa mereka. Keyakinan dasar yang tidak mampu direnungkan oleh pemeluk ajaran Buddha adalah bahwa Allah, Tuhan seluruh dunia, yang meliputi segala sesuatu dan mengetahui rahasia paling tersembunyi dari segala sesuatu, telah menciptakan sang Buddha, seperti halnya seluruh manusia.

Keyakinan pada Karma
Ajaran karma menganggap bahwa segala hal yang dikerjakan manusia akan membawa dampak bagi dirinya cepat atau lambat, dan akan mempunyai dampak atas apa yang disebut sebagai kehidupan selanjutnya. Menurut keyakinan ini, manusia akan terus terlahir kembali ke dunia ini, di mana mereka harus menanggung akibatnya dalam kehidupan berikutnya atas apa yang telah mereka lakukan di masa lalu. Ajaran Buddha mengingkari adanya Tuhan dan yakin bahwa karma adalah kekuatan tersendiri yang mengatur segala sesuatu.
Karma adalah kata Sanskerta yang berarti “tindakan,” dan mengacu pada hukum sebab akibat. Menurut orang yang meyakininya, seseorang akan mengalami di masa yang akan datang apa yang telah ia lakukan di masa lalu, baik atau buruk. Masa lalu adalah kehidupan manusia sebelumnya; masa depan dianggap sebagai kehidupan baru yang akan dimulai setelah kematian. Menurut keyakinan ini, setiap orang yang miskin dalam kehidupan ini membayar dengan kemiskinannya harga kejahatan yang ia lakukan di kehidupan sebelumnya. Keyakinan takhayul ini juga menyatakan bahwa dalam kehidupan berikutnya, seorang yang jahat bisa “diturunkan derajatnya”  dalam kelahiran kembali sebagai binatang atau bahkan tanaman.
Salah satu akibat berbahaya dari keyakinan pada karma adalah bahwa ajaran ini mengajarkan bahwa ketidakberdayaan, kemiskinan, dan kelemahan saat ini merupakan hukuman untuk kejahatan akhlak seseorang. Menurut sistem kepercayaan ini, jika seseorang cacat, itu adalah karena ia telah menimbulkan luka yang serupa pada seorang yang lain dalam kehidupan sebelumnya sehingga ia pantas mendapatkannya. Keyakinan takhayul ini adalah alasan utama mengapa tatanan masyarakat yang tak adil berupa sistem kasta menguasai India selama berabad-abad. (Harus diingat bahwa karma adalah gagasan Hindu, dan ajaran Buddha sebenarnya muncul dari ajaran Hindu.) Karena sistem kasta itu didasarkan pada karma, orang yang miskin, sakit, dan cacat di India dibenci dan ditindas. Kelas penguasa berkasta tinggi yang kaya menganggap keistimewaan mereka sebagai hal alami dan adil.
Dalam Islam, bagaimana pun menjadi orang yang lemah bukanlah suatu pembalasan; ini diperoleh sebagai ujian dari Allah. Lebih jauh, orang lain mempunyai kewajiban amat penting membantu orang-orang yang membutuhkan. Oleh karena itu, Islam, seperti halnya Yahudi dan Kristen, agama-agama lain yang didasarkan pada wahyu Tuhan namun kemudian diubah-ubah, memiliki perasaan yang kuat atas keadilan sosial. Akan tetapi, agama berdasar karma seperti Buddha dan Hindu mengizinkan adanya pembedaan dan membuat hambatan besar untuk perkembangan masyarakat.
Karma didasarkan pada keyakinan adanya kelahiran kembali: gagasan bahwa manusia kembali ke dunia dengan jiwa yang sama namun dalam tubuh yang berbeda. Gagasan tentang “roda kelahiran kembali” ini menganggap bahwa setiap kehidupan mempengaruhi kehidupan selanjutnya. Namun keyakinan ini tidak mampu menjawab satu pertanyaan: bagaimana karma itu terjadi? Jika ajaran Buddha tidak menerima adanya Tuhan, maka siapakah yang menilai kehidupan seseorang sebelumnya  dan mengirimnya kembali ke dunia dalam tubuh yang baru? Pertanyaan ini tidak punya jawaban! Penganut Buddha percaya bahwa karma adalah “hukum alam” yang terjadi sendiri, serta merta, seperti gravitasi atau termodinamika. Padahal, adalah Allah-lah yang menciptakan seluruh hukum alam. Tidak ada hukum alam yang melihat apa yang diperbuat manusia di sepanjang kehidupan mereka, mencatatnya, dan menilai mereka setelah kematian atas dasar itu. Tidak ada hukum alam yang menentukan, sebagai hasil dari penilaian itu, jenis kehidupan baru apa yang akan dipunyai seseorang dan menciptakannya kembali sesuai itu; dan tidak ada hukum alam yang menjalankan proses ini dengan sempurna atas miliaran manusia, atau binatang. Jelas tidak ada hukum alam seperti itu sama sekali, sehingga proses seperti itu pun tidak mungkin ada.
Begitu banyak manusia di seluruh dunia percaya pada kelahiran kembali, meskipun tidak ada dasar yang masuk akal, karena mereka tidak punya keyakinan keagamaan. Karena mengingkari adanya kehidupan abadi setelah kehidupan, mereka takut pada kematian dan berpegang pada gagasan kelahiran kembali sebagai cara melarikan diri dari ketakutan mereka. Keyakinan pada kelahiran kembali, seperti halnya keyakinan pada karma, didasarkan pada kebahagiaan palsu bahwa kematian adalah sesuatu yang tak perlu ditakuti, dan bahwa setiap orang akan mampu mencapai tujuannya dalam kelahiran yang baru.
Jika reinkarnasi tidak terjadi sendiri, seperti hukum alam, maka jelaslah itu bisa terjadi hanya melalui tindakan penciptaan yang luar biasa. Namun tinjauan Al-Qur'an memberi tahu kita bahwa reinkarnasi tersebut adalah  mitos. Kitab yang diturunkan Allah sebagai petunjuk bagi umat manusia secara terbuka menyatakan bahwa reinkarnasi itu keliru belaka.


Reinkarnasi Menurut Islam

Seperti halnya segala hal lain, pandangan seorang Muslim mengenai filsafat karma harus didasarkan pada apa yang Allah katakan dalam Al-Qur'an, yang menyatakan hanya ada satu kelahiran dan kebangkitan. Setiap orang hidup hanya satu kali di dunia ini, lalu ia mati. Dalam ayat 62:8, Tuhan kita memberikan perintah berikut ini:

Katakanlah, "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."

Seseorang dibangkitkan setelah kematian, dan menurut seluruh yang telah ia lakukan dan kerja yang ia perbuat, ia diberi ganjaran dengan surga yang abadi atau neraka yang tak berkesudahan. Ini berarti, bahwa manusia memiliki satu-satunya kehidupan di dunia ini, lalu sebuah kehidupan abadi di akhirat. Allah mengatakan sangat jelas dalam Al-Qur'an (21:95) bahwa setelah manusia mati, tidak akan ada yang kembali pada kehidupannya: “Sungguh tidak mungkin atas (penduduk) suatu negeri yang telah Kami binasakan, bahwa mereka akan  sanggup berdiri kembali .” Dan begitu pula:

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) 1022, agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.  Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja.  Dan  di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan1023.

Seperti ditunjukkan ayat ini, ada umat manusia yang akan mati dengan harapan dilahirkan kembali, namun pada saat kematian mereka, dikatakan pada mereka bahwa ini mustahil sama sekali. Dalam ayat lain dalam Al-Qur'an (2:28), Allah mengatakan tentang kematian dan kebangkitan manusia:

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?

Allah mengatakan bahwa setiap manusia memulai sesuatu dari kematian, yakni, ia tercipta dari unsur tanah, air, dan lumpur yang tak bernyawa. Lalu, Allah “menyempurnakan dan menjadikan seimbang” zat tak bernyawa ini (Al-Qur'an, 82:7) dan menghidupkannya. Pada waktu tertentu setelah seseorang itu dihidupkan, kehidupan itu menemukan akhirnya, dan ia meninggal. Ia kembali ke bumi dan membusuk menjadi tanah, tempat ia menunggu pembangkitan akhir. Setiap orang akan dibangkitkan pada Hari Akhir, ketika, dengan mengingat bahwa pengembalian lain ke bumi adalah mustahil, ia akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan yang ia lakukan dalam kehidupannya. Dalam Al-Qur'an (44:56-57) Allah berfirman bahwa setelah seorang manusia datang ke dunia, ia akan mengalami hanya sekali kematian: “Mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia.  Dan Allah memelihara mereka dari azab neraka, sebagai karunia dari Tuhanmu.  Yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar.”
Ayat ini memperjelas bahwa kematian hanya datang satu kali. Tidak peduli seberapa besarkah manusia ingin mengatasi ketakutan akan kematian dan kehidupan setelah mati yang abadi dan menenangkan dirinya dengan keyakinan palsu tentang karma dan reinkarnasi, kenyataannya adalah bahwa mereka tidak akan kembali ke dunia ini setelah mereka mati. Setiap orang hanya akan mati satu kali, dan seperti dikehendaki Allah, akan mendapatkan kehidupan tak berakhir di akhirat. Menurut kebaikan atau kejahatan yang telah dilakukan seseorang, mereka akan diganjar dengan surga, maupun dihukum dengan neraka.
Selamanya adil, penuh kasih dan sayang, Allah memberikan pahala sempurna untuk apa yang telah dikerjakan setiap orang. Jika seseorang mencari ketenangan dalam keyakinan palsu karena takut mati atau kemungkinan masuk neraka, ia akan mengalami kegagalan. Setiap orang yang mempunyai kesadaran pemikiran, hati nurani, dan rasa takut tentang hal ini pasti akan kembali pada Allah dengan hati yang tulus jika ia berharap terjauh dari sakitnya neraka dan memasuki surga. Ia harus menyesuaikan kehidupannya dengan Al-Qur'an, pedoman sejati umat manusia.
Belum pernah menjadi tua atau muda, cantik atau kaya mampu mencegah setiap orang dari kematian, sehingga tak seorang pun bisa mengabaikan kenyataan kematian. Baik seseorang itu mengabaikan kenyataan tersebut atau tidak, kematian adalah sesuatu yang tidak pernah bisa mereka hindari.

Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah  yang  selalu kamu lari lari darinya. (Qur'an, 50: 19)

Dengan membaca ayat ini, Anda mungkin  merenungkan dekatnya kematian, mungkin kematian lebih dekat pada Anda daripada orang lain; dan Anda mungkin mati setelah Anda selesai membaca buku ini. Ia bisa datang tanpa alasan yang jelas, tanpa rasa sakit, kecelakaan, atau sebab ketuaan. Allah akan mengirimkan Malaikat Maut untuk datang pada saat Anda tiba dan mengambil jiwa Anda.
Kita harus selalu menanamkan dalam ingatan kita akan kenyataan penting ini dan tidak pernah menunda persiapan kematian. Al-Qur'an (63:11) mengingatkan kita bahwa “Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.”  Di sini, Allah memberi tahu kita bahwa kematian tidak bisa ditunda, dan dia menyebutkan kesedihan seseorang yang menemuinya:

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antaramu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.

Keyakinan Menyimpang ajaran
Buddha tentang Akhirat
Keyakinan ajaran Buddha pada karma tidak memberi ruang pada keyakinan akan akhirat, surga, atau neraka. Keyakinan palsu dan sesat ini (gagasan akan kembalinya seseorang ke dunia setelah kematian terus menerus) bertentangan dengan apa yang diwahyukan Allah dalam Al-Qur'an. Dalam The Religions of India, Edward Washburn Hopkins, seorang profesor Sanskerta dan Ilmu Filsafat Perbandingan, menerangkan bahwa ajaran Buddha tidak percaya pada kehidupan akhirat:
… Cara pikir sistemnya sendiri membawa Buddha ke dalam pesimisme formal dan total, yang mengingkari hari akhirat bagi manusia yang tidak menemukan kebahagiaan dalam kehidupan ini… Dalam percakapannya dengan murid dan orang yang bertanya padanya, ia menggunakan segala cara untuk melarikan diri dari pertanyaan langsung yang berhubungan dengan takdir atau manusia setelah mati. Ia percaya bahwa Nirwana (kepunahan nafsu) membawa akhir sesuatu. Ia tidak percaya pada jiwa abadi… Apa yang berkali-kali dihimbaunya adalah bahwa setiap orang yang menerima ajaran karma tanpa bantahan atau kelahiran kembali sepenuhnya (yakni, bahwa untuk setiap dosa saat ini, hukuman akan mengikuti di kehidupan selanjutnya), harus berusaha keras untuk melarikan diri, jika mungkin, dari kelahiran kembali yang menyakitkan dan tak berujung itu…4
Dari beberapa tulisan ajaran Buddha, kita bisa mengumpulkan informasi berikut ini tentang akhirat:
Baik seseorang itu terlahir di surga, atau di berbagai tingkatan neraka, bentuk kehidupan di tempat-tempat ini hanyalah sementara, seperti halnya mereka di dunia, dan tidak abadi. Seperti halnya dalam agama Hindu, rentang waktu ketika… manusia tetap di tempat-tempat ini tergantung pada besarnya kebaikan dan keburukan yang telah mereka lakukan selama di dunia. Ketika waktu yang ditentukan untuk mereka telah berakhir, mereka akan kembali ke dunia lagi. Surga dan neraka tidak lebih dari tempat hidup sementara di mana manusia menerima balasan perbuatan yang telah mereka lakukan sewaktu di dunia.5
Ajaran Buddha mengajarkan bahwa ada semacam surga dan neraka, sebagai ganjaran dan hukuman untuk apa yang telah dilakukan manusia. Namun karena keyakinan ini tidak berpegang pada agama wahyu, ia berisi pertentangan dan hal-hal tak masuk akal. Kesimpulannya, dan bertentangan dengan apa yang Allah wahyukan dalam Al-Qur'an, ajaran Buddha percaya bahwa surga dan neraka itu hanyalah sementara.
Kembali, salah satu sudut pandang tak logis kepercayaan ini adalah gagasan bahwa seluruh sistem di dunia ini terjadi dengan sendirinya. Menurut ajaran Buddha, seperti halnya terjadinya alam semesta dan manusia yang tak terkendalikan, begitu pula perputaran kehidupan dan kelahiran kembali. Tidak ada ruang dalam keyakinan ini untuk seorang Pencipta yang membuat dunia menjadi ada serta kehidupan di dalamnya, dan surga dan neraka, dan membalas manusia atas segala yang telah ia lakukan. Padahal, menerima adanya surga dan neraka sebagai tempat pahala dan hukuman diberikan, tapi tidak menjelaskan bagaimana tempat-tempat tersebut tercipta, benar-benar pernyataan yang sangat tak masuk akal dan tak bisa diterima.
Jadi, siapa yag memberi pahala dan hukuman? Atau lebih jauh lagi, bagaimana tempat itu tercipta? Filsafat karma tidak memberi penjelasan apa pun tentang bagaimana surga dan neraka bisa terjadi tanpa sang Pencipta. Kepercayaan takhayul ini telah diturunkan dari generasi ke generasi, tanpa dipertanyakan atau dijelaskan secara logis. Ajaran Buddha tidak punya penjelasan masuk akal tentang adanya alam semesta atau bagaimana ia berfungsi, dan tidak pula tentang asal muasal bukti seni penciptaan sempurna dalam seluruh makhluk hidup. Untuk alasan ini, ajaran Buddha tidak pernah bisa dianggap lebih dari sekedar gerakan mistis tanpa dasar logika, dan hanya didukung mitos.

Kenyataan yang Menunggu

Kita di Akhirat

Satu-satunya sumber tempat kita bisa mempelajari kenyataan tentang kehidupan di dunia ini dan keyakinan pada akhirat adalah Al-Qur'an, yang diturunkan sebagai pedoman bagi manusia dan sunnah Nabi SAW.
Allah berkata dalam Al-Qur'an bahwa kehidupan di dunia ini adalah masa pengujian sementara untuk setiap orang, dan bahwa kehidupan akhirat itu adalah tempat tinggal yang abadi. Setiap orang akan mendapat balasan di surga atau neraka untuk semua perbuatan yang telah ia lakukan selama kehidupan yang ia jalani di dunia ini. Allah mengungkap kebenaran ini dalam firmannya (Al-Qur'an, 6:32):

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?

Seseorang yang mengabdi kepada Allah, menyesuaikan kehidupannya dengan pedoman sejati yang telah Dia turunkan dan ajaran Nabi SAW, percaya dengan sepenuh hatinya bahwa pada Hari Akhir, ia akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya, dan akan menerima balasan surga abadi atau neraka yang tak berkesudahan. Allah telah memfirmankan hal ini pada umat manusia dalam kitab yang telah Dia turunkan dan nabi-nabi yang telah Dia pilih. Namun, ajaran Buddha adalah ajaran yang dibuat manusia, dibangun dari mulut ke mulut atas dasar filsafat yang diusulkan oleh satu orang.
Menggunakan alasan seorang manusia untuk mengubah apa yang datang dari Allah adalah kesalahan serius. Orang-orang yang memenuhi kepalanya dengan gagasan yang setengah matang tentang cara Buddha dan, demi keinginannya meniru artis pop favorit atau bintang filmnya, mulai mengikuti ajaran Buddha sebagai gaya, harus merenungkan hal ini dan membebaskan dirinya dari kesalahan mereka.
Dalam Al-Qur'an, Allah mewahyukan sifat orang-orang yang menyatakan bahwa tidak ada akhirat:

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan. (Qur'an, 7: 147)

Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami (Al Qur'an) serta (mendustakan) menemui hari akhirat, maka mereka tetap berada di dalam siksaan (neraka). (Qur'an, 30: 16).

“Balasan” dan “siksaan” yang disebutkan dalam ayat-ayat ini akan dimulai pada saat kematian. Orang-orang yang mengetahui kesalahan yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia akan merasakan kepedihan tak terperikan:

Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, "Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman," (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). (Qur'an, 6: 27)

Dan, sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), "Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin." (Qur'an, 32: 12)

Bagaimana pun seringnya mereka mohon dan minta ampunan, mereka akan memulai kehidupan akhirat yang penuh dengan siksaan, tanpa tempat lari, maupun tempat kembali. Penyesalan mereka tidak akan diterima, dan tidak pula keinginan mereka untuk kembali ke dunia akan dipenuhi. Meskipun diperingatkan berkali-kali, orang-orang ingkar Tuhan yang tidak beriman, dan mengabdikan diri di depan patung-patung batu dan kayu yang mereka persekutukan dengan Allah, yang menganut filsafat sia-sia hanya sebagai pertunjukan untuk menarik perhatian orang lain; yang tidak takut pada Tuhan sebagaimana harusnya, akan memasuki penghinaan tak berkesudahan mulai saat mereka menemui Malaikat Maut. Ruh mereka akan dibawa dengan direnggut ke punggung dan sisi mereka, mereka akan diikat dengan belenggu dan dilemparkan ke neraka; ini akan menjadi awal hari akhirat mereka.
Allah tidak akan mengizinkan mereka bicara, dan suara mereka tidak akan lebih keras dari bisikan. (Al-Qur'an, 20: 108). Neraka akan menjadi tempat akhir seluruh orang yang tak percaya pada Tuhan, tidak meyakini kebangkitan atau akhirat, tetap durhaka meskipun telah diberi peringatan dan tidak menjalani kehidupan berakhlak. Ahli neraka, “dibelenggu bersama dengan rantai” (Al-Qur'an, 25:13), akan dilempar ke dalam “neraka yang ditutup rapat.” (Al-Qur'an, 90:20) dan hidup dalam kegelapan asap hitam tebal. Mereka akan mendengar api yang menggelora keras sewaktu menggelegak dan menemukan manusia yang menjerit di dalamnya. Kesakitan mereka yang tanpa akhir tidak pernah dipulihkan, meskipun mereka merajuk, yang menyebabkan mereka berada dalam kecemasan yang tak terlukiskan.
Secara jasmaniah, penghuni neraka akan mempunyai penampilan mengerikan. Mereka akan diikat dengan belenggu dan rantai, dan mata mereka akan kuyu, gelap karena penghinaan. Suatu angin panas akan membakar kulit mereka, yang akan terus diganti untuk dibakar lagi, seperti digambarkan Allah dalam ayat 4:56, “Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab.” Mereka akan dipukul dengan gada dari besi dan diikat dengan “rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta” (Al-Qur'an, 69:32). Muka, sisi, dan punggung mereka akan dikepung dalam api. Air mendidih akan disiramkan pada kepala mereka, dan mereka akan mengenakan pakaian dari ter.
Al-Qur'an juga menceritakan tentang makanan dan minuman mengerikan yang disediakan untuk orang-orang di neraka. Allah menyatakan dalam ayat 69:36 bahwa “tidak ada makanan sedikit pun (untuk mereka) kecuali dari darah dan nanah” yang hampir tidak bisa ditelan manusia di dunia ini. Di neraka yang telah mereka masuki karena melupakan Allah dan mengejar nafsunya di kehidupan ini, mereka akan diberi minum air mendidih yang dicampur nanah. Dan karena tidak ada yang dapat melewati tenggorokan mereka yang robek, mereka tidak mampu menelan. Di neraka. Allah juga akan membuat para pendosa memakan semak pahit berduri dan Zaqqum (pohon neraka):

Sesungguhnya pohon Zaqqum itu1379,  makanan orang yang banyak berdosa. Seperti kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, (Qur'an, 44: 43-45)

Untuk orang-orang yang percaya pada Allah dan kembali kepada-Nya, mereka tidak akan dilaknat dengan keadaan ini, melainkan akan melewati hisab yang mudah. Karena mereka tidak mengikuti filsafat yang sia-sia, dan, karena mencari ridha Allah dan takut pada siksaan-nya di neraka, hidup menurut Al-Qur'an, mereka akan mendapatkan balasan abadi dan diterima di surga, bebas dari rasa takut, kepahitan dan kesedihan. Pada hari itu, Allah berkata, wajah-wajah orang beriman akan bersinar. Seperti yang Allah katakan dalam Al-Qur'an (39:71-73):

Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam dalam rombongan demi rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, "Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?" Mereka menjawab:  "Benar (telah datang)." Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir. Dikatakan (kepada mereka), "Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu,, kamu kekal di dalamnya." Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri. Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga dalam rombongan demi rombongan (pula). Sehingga  apabila  mereka sampai ke surga itu sedang  pintu-pintunya telah terbuka maka berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, kamu kekal di dalamnya."

Setiap orang harus memperhatikan dengan seksama peringatan Allah yang terus diberikan bahwa hari hisab tengah mendekat, bahwa “hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya.” (Al-Qur'an, 22:7). Dalam ayat lainnya, Allah berkata:

Telah dekat kepada manusia hari penghisaban segala amalan mereka, ketika mereka berada dalam kelalaian dan berpaling (darinya). Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al-Qur'an pun yang baru (diturunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, tapi mereka mempermainkan. (Qur'an, 21: 1-2)          

Pada hari itu, orang-orang yang baik akan menerima ganjaran sempurna untuk perbuatan mereka, sedangkan setiap orang yang melakukan kejahatan akan menginginkan akan ada rentang waktu yang jauh antara mereka dengan hari itu. Setiap pribadi akan menghadirkan diri sendiri-sendiri ke hadapan Allah, di mana mereka akan diadili dengan keadilan sempurna:

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan. (Qur'an, 21: 47)

Seluruh filsafat buatan manusia adalah tipu daya yang menjauhkan manusia dari kepercayaan akan adanya Allah dan dari penghambaan pada-Nya. Pemahaman ajaran Buddha tentang akhlak yang hanya bersifat kulit luar saja sepenuhnya bertentangan dengan pola alamiah manusia.  Di satu sisi,  agama ini membiarkan manusia menghindari siksaan hati nurani yang datang karena tidak punya agama, sehingga menjadi sumber spiritualitas yang palsu. Orang-orang yang percaya pada ajaran Buddha menghibur dirinya dengan anggapan bahwa mereka telah mencapai kesempurnaan jiwa dengan menyebabkan rasa sakit atas diri mereka dan mengingkari kebutuhan tubuh. Akan tetapi, satu kebenaran dasar yang tidak mereka perhatikan: bahwa manusia harus mengakui bahwa mereka adalah hamba Tuhan. Perbuatan yang baik akan bernilai hanya jika dilakukan untuk secara sadar mengabdi pada Allah dan mendapat ridha-Nya. Mengekang keinginan dan kehendak hati membawa nilai besar, namun hanya jika dilakukan untuk mendapatkan ridha Allah, dan hingga tingkat yang Dia bolehkan. Bagi mereka yang melakukan upaya ini tanpa pandangan mencapai ridha-Nya, Allah berkata bahwa “mereka itu sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat.” (Al-Qur'an, 2:217)


Gagasan Ajaran