Tampilkan postingan dengan label dari buku Harun Yahya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dari buku Harun Yahya. Tampilkan semua postingan
Minggu, 23 Januari 2011
APAKAH WARNA ITU? BAGAIMANA WARNA DIBUAT?
Beberapa detil mempunyai tempat penting dalam pikiran manusia dan itu tidak akan pernah berubah. Mari kita mulai dengan pohon, yang sangat akrab dalam pandangan kita. Warna pohon hampir pasti hijau atau nuansa hijau. Diketahui pula bahwa pada musim gugur, dedaunan berubah warna. Sama halnya, langit berwarna biru, nuansa abu-abu saat mendung atau kuning dan merah saat matahari terbit dan terbenam. Warna-warna buah tidak pernah berubah; warna buah jambu dan salak sudah seperti itu, dan selalu kita kenali dengan baik. Setiap makhluk hidup dan objek yang dipegang di bawah cahaya memiliki warna. Perhatikan baik-baik pelbagai benda di sekeliling Anda. Apa yang Anda lihat? Meja, kursi, pepohonan yang terlihat dari jendela, langit, dinding rumah, wajah-wajah orang lain, buah yang Anda makan, buku yang Anda baca saat ini.… Masing-masing mempunyai warna berbeda. Pernahkah Anda pikirkan, bagaimana semua warna ini dibentuk dan ditata?
Mari kita cermati secara umum apa yang diperlukan untuk pemben-tukan warna yang memainkan peran penting dalam kehidupan (Poin ini akan didiskusikan kemudian dengan terperinci). Untuk pembentukan warna tunggal, misalnya, merah atau hijau, setiap proses berikut harus terjadi dan, lebih penting lagi, harus mengikuti urutan berikut ini.
1. Kondisi pertama yang diperlukan untuk pembentukan warna adalah keberadaan cahaya (light). Dalam hal ini, ada baiknya memulai dengan mencermati sifat-sifat cahaya yang berasal dari matahari. Cahaya dari matahari yang datang ke bumi harus memiliki panjang gelombang tertentu untuk menghasilkan warna. Bagian cahaya ini, yang dikenal sebagai “cahaya tampak“, dibandingkan dengan semua cahaya lain yang dipancarkan matahari adalah satu berbanding 1025. Proporsi cahaya yang kecilnya hampir tak masuk akal ini, yang penting untuk pembentukan warna, mencapai bumi dari matahari
2. Bahkan, sebagian besar sinar (rays) yang dipancarkan matahari ke seluruh jagat raya mengandung beberapa karakteristik yang membahayakan mata. Oleh karena itu, cahaya yang tiba ke bumi harus dalam bentuk tertentu sehingga dapat ditangkap mata dengan mudah dan tidak membahayakannya. Untuk itu, sinar ini harus melewati suatu filter. Filter raksasa ini adalah “atmosfer“ yang menyelimuti bumi.
3. Cahaya yang melewati atmosfer disebarkan ke seluruh permukaan bumi, dan ketika mengenai objek, cahaya ini dipantulkan. Objek tempat cahaya jatuh harus dari jenis yang tidak menyerap cahaya, tetapi memantulkannya. Dengan kata lain, kualitas struktur objek harus selaras juga dengan cahaya yang mencapai bumi agar warna dapat terbentuk. Kondisi ini juga terpenuhi dan gelombang cahaya baru dipantulkan dari objek yang terkena cahaya matahari.
4. Syarat penting berikutnya dalam proses pembentukan warna adalah keberadaan alat yang dapat mengindra gelombang cahaya, yaitu mata. Sangat penting bahwa gelombang cahaya juga selaras dengan organ penglihatan.
5. Sinar yang datang dari matahari harus melewati lensa dan lapisan-lapisan mata dan kemudian diubah menjadi impuls-impuls saraf di dalam retina. Sinyal ini kemudian harus diangkut ke pusat penglihatan pada otak, yang bertugas menginterpretasikan pandangan.
6. Ada langkah terakhir yang harus dipenuhi agar kita dapat 'meli-hat' warna. Tahap akhir dalam pembentukan warna adalah interpretasi sinyal listrik sebagai “warna“ oleh sel saraf yang sangat khusus di dalam pusat penglihatan otak.
Demikianlah, untuk pembentukan satu warna saja, diperlukan urut-an proses yang sangat detail dan saling tergantung.
Semua informasi yang kita miliki tentang warna menunjukkan bah-wa setiap proses yang terjadi selama pembentukan warna diatur dalam keseimbangan yang rumit. Tanpa keseimbangan ini, tak pelak lagi kita akan berada di dunia yang gelap, bukan dunia penuh warna cemerlang, dan mungkin kita bahkan akan kehilangan kemampuan untuk melihat. Mari kita anggap bahwa satu bagian saja, misalnya, sel saraf penerima sinyal listrik yang dibangkitkan oleh retina, tidak ada. Yang terjadi adalah, cahaya matahari tidak berada dalam spektrum tampak, bagian-bagian lain dari mata tidak berfungsi secara utuh, dan keberadaan atmosfer saja tidak memadai atau mengkompensasi kekurangan ini.
Peran Retina dalam Melihat
Marilah kita mengkaji retina lebih dekat dan lebih detail. Anggaplah bahwa zat pewarna (pigmentary substance) yang disebut “rhodopsin“, yang bekerja di dalam retina, tidak ada. Rhodopsin adalah zat yang berhenti berfungsi di bawah cahaya terang benderang tetapi berfungsi kembali dalam kegelapan. Mata tidak dapat melihat dengan jelas dalam cahaya remang-remang kecuali jika sejumlah rhodopsin dihasilkan dalam mata. Fungsi rhodopsin adalah untuk meningkatkan efisiensi dan dengannya mata membangkitkan impuls saraf dari cahaya remang-remang. Zat ini diproduksi sebanyak kebutuhan, tepat pada saat diperlukan. Jika kese-imbangan rhodopsin terjaga, citra menjadi jelas. Apa yang akan terjadi, jika rhodopsin yang sangat penting untuk proses penglihatan, tidak ada? Jika demikian, manusia hanya bisa melihat di bawah cahaya terang.2 Oleh karena itu, terbukti bahwa ada sistem sempurna di dalam mata, yang telah dirancang sampai dengan detail sekecil-kecilnya.
Lalu, karya seni siapakah sistem ini, yang menyelamatkan kita dari kegelapan dan menyajikan kepada kita sebuah dunia penuh warna?
Setiap tahap yang telah disebutkan sejauh ini mencakup serang-kaian proses, yang memerlukan adanya kebijaksanaan, keinginan dan kekuasaan dalam penciptaan mereka. Jelaslah bahwa tidak mungkin rangkaian proses yang ada dalam keselarasan seperti itu, telah terbentuk secara kebetulan. Juga, tidaklah mungkin sistem seperti itu telah terben-tuk sendiri sejalan dengan waktu. Hasilnya tidak akan berubah sama sekali jika jutaan atau bahkan miliaran tahun dibiarkan berlalu. Sistem-sistem penyusun dunia yang beraneka warna tidak akan pernah muncul secara kebetulan. Sistem-sistem sempurna seperti itu hanya dapat mun-cul sebagai hasil dari desain khusus, yang berarti bahwa mereka dicipta-kan. Allah memiliki kekuatan dan kebijaksanaan abadi yang meliputi seluruh jagat raya. Contoh-contoh cita rasa seni Ilahi dalam penciptaan yang tiada taranya tersebar di seluruh semesta. Desain unik yang tampak jelas dalam pembentukan warna juga adalah ciptaan Allah semata. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi; dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya; mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji; dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.“ (QS. Al Baqarah, 2: 117) !
Tak dapat dibantah lagi betapa pentingnya warna dalam kehidupan manusia. Setiap benda mendapatkan arti dengan warna-warna yang dimilikinya. Bayangkan, warna-warna yang Anda lihat pada foto di samping ini (termasuk hitam dan putih) tidak ada sama sekali. Tentu saja, Anda tidak bisa melihat apa-apa dalam foto itu. Untuk membentuk satu saja dari sekian banyak warna pada objek-objek ini, ada beberapa faktor yang harus dipenuhi, semuanya pada saat bersamaan. Allah telah membuat pembentukan warna tergantung pada keberadaan sebuah sistem yang sangat terperinci.
“Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun.” (QS. Qaaf, 50:6) !
Melalui lapisan-lapisan khusus yang dimilikinya, atmosfer menyerap hampir semua sinar berbahaya yang berasal dari matahari atau luar angkasa. Allah telah merancang setiap lapisan ini demi kehidupan di bumi.
Dunia yang Beraneka Warna
Pernahkah terpikir oleh Anda seperti apa hidup di dunia tanpa warna? Bebaskan diri Anda sejenak dari pengalaman Anda. Lu-pakan semua yang pernah Anda pelajari. Dan mulailah menggu-nakan imajinasi. Coba bayangkan badan Anda, orang-orang di sekitar Anda, lautan, langit, pohon-pohon, bunga-bunga, singkatnya, semua-nya, berwarna hitam. Bayangkan bahwa di sekeliling Anda tidak ada warna. Coba pikirkan, bagaimana perasaan Anda jika orang, kucing, an-jing, burung, kupu-kupu, dan buah-buahan tidak berwarna sama sekali. Tentunya Anda tidak mau hidup di dunia seperti itu, bukan?
Dalam benak kebanyakan orang, mungkin tidak pernah terpikirkan, betapa beraneka warnanya dunia tempat hidup mereka; atau diper-tanyakan, bagaimana keanekaragaman warna seperti ini ada di bumi, atau seperti apa jadinya jika ada sebuah dunia tanpa warna. Ini karena setiap orang dengan penglihatan normal dilahirkan ke dunia yang penuh warna. Tetapi, sebuah model dunia hitam putih, tanpa warna, bukanlah suatu hal yang tidak mungkin terjadi. Justru karenanya, dunia yang penuh warna cemerlang, tempat kita hidup, menjadi benar-benar mengagumkan. (Da-lam bab-bab selanjutnya, akan didiskusikan secara terperinci mengapa keberadaan dunia penuh warna ini demikian mengagumkan).
Sebuah dunia tanpa warna biasanya dibayangkan hanya terdiri dari hitam, putih dan nuansa abu-abu. Tetapi, hitam, putih dan nuansa abu-abu sebenarnya warna juga. Maka, sulit sekali membayangkan ketiadaan warna. Untuk menjelaskan ketiadaan warna, seseorang selalu merasa per-lu menyebutkan satu warna. Orang mencoba menjelaskan ketiadaan war-na dengan pernyataan seperti, “Tidak ada warna, benar-benar hitam,” atau “Wajahnya sama sekali tidak berwarna; putih sekali.” Sebenarnya, semua itu bukan penjelasan tentang ketiadaan warna, melainkan hanya sebuah dunia hitam putih.
Cobalah, selama sedetik saja, membayangkan bahwa, tiba-tiba saja, semua kehilangan warnanya. Dalam keadaan demikian, segala sesuatu akan saling bercampur dan akan menjadi mustahil membedakan satu objek dengan objek lainnya. Akan mustahil melihat, misalnya, jeruk, stro-beri atau serangkai bunga di atas sebuah meja kayu, karena jeruk itu tidak berwarna oranye, meja itu tidak berwarna coklat, dan stroberi itu juga tidak berwarna merah. Betapa tidak nyaman bagi seseorang untuk hidup di dunia tanpa warna, sekalipun hanya sesaat. Karena dunia seperti itu bahkan sulit untuk digambarkan.
Warna berperan penting dalam komunikasi manusia dengan dunia luar, dalam kelancaran fungsi ingatannya, dan dalam pemenuhan fungsi belajar otaknya. Ini karena manusia dapat mengaitkan dengan tepat antara kejadian dan tempat, antara orang dan objek, hanya dari penampakan luar dan warnanya. Pendengaran atau sentuhan saja tidak cukup untuk mendefinisikan objek. Bagi manusia, dunia luar mempunyai makna hanya jika dilihat secara keseluruhan dengan warnanya.
Keanekaragaman warna tidak hanya memudahkan pengenalan pelbagai objek dan lingkungan sekeliling kita. Keselarasan warna yang sempurna di alam semesta memberikan kenikmatan sangat besar bagi jiwa manusia. Untuk dapat melihat keselarasan ini dari setiap detilnya, manusia telah dilengkapi sepasang mata dengan rancangan sangat isti-mewa. Di dunia makhluk hidup, mata manusia paling fungsional dan dapat menangkap warna-warni dalam detail sekecil-kecilnya, sedemi-kian rupa sehingga mata manusia sensitif terhadap jutaan warna.1 Nyata sekali bahwa alat penglihatan manusia yang bekerja begitu sempurna telah dirancang khusus untuk melihat dunia penuh warna.
Satu-satunya makhluk di bumi yang dapat memahami keberadaan keteraturan seperti itu di alam semesta adalah manusia, karena ia mem-punyai kemampuan untuk berpikir dan menggunakan nalar. Jadi, ber-dasarkan semua uraian di atas, kita simpulkan sebagai berikut:
Setiap detil, pola dan warna di langit dan di bumi telah diciptakan bagi manusia agar ia mengakui dan kemudian menghargai keteraturan ini dan memikirkannya. Warna-warni di alam telah diatur sedemikian rupa sehingga mempunyai daya tarik bagi jiwa manusia. Keselarasan dan simetri sempurna tampak dalam warna, baik di dunia makhluk hidup maupun benda mati. Situasi ini tentu saja akan membangkitkan pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran seseorang yang berpikir, misalnya:
Apa yang membuat bumi beraneka warna? Bagaimana warna-war-na itu, yang menjadikan dunia kita luar biasa indah, dapat terjadi? Siapa yang merancang keanekaragaman warna dan keselarasan di antara war-na-warna tersebut?
Bisakah dikatakan bahwa segala sesuatu muncul begitu saja karena perubahan-perubahan tak terarah yang ditimbulkan oleh serangkaian kejadian kebetulan?
Tentu saja, tak seorang pun akan menyatakan kemustahilan seperti itu. Kebetulan-kebetulan tak terkontrol tidak dapat menciptakan apa pun, apalagi miliaran warna. Coba saja amati sayap kupu-kupu atau bunga beraneka warna, yang masing-masing bagaikan keajaiban seni. Jelas, tidak mungkin bagi akal sehat menganggap semua ini adalah hasil dari proses yang tidak disengaja.
Kita akan memahami lebih baik fakta ini jika kita mengambil sebuah contoh. Ketika seseorang melihat sebuah lukisan yang menggambarkan pohon dan bunga di alam, ia tidak akan berkata, atau bahkan berpikir, bahwa keselarasan warna, keteraturan pola dan desain dalam lukisan ini muncul begitu saja karena kebetulan. Jika orang lain datang dan berkata, “Kaleng-kaleng cat itu terguling ditiup angin, catnya tercampur, dan de-ngan pengaruh hujan dan lain-lain, dan setelah melalui waktu yang lama, lukisan indah ini terbentuk“, pastilah tak ada orang yang menganggapnya serius. Ada situasi yang sangat menarik di sini. Meskipun tidak ada orang yang berusaha mengajukan pernyataan tak masuk akal seperti itu, ada saja orang yang menyatakan bahwa pewarnaan dan simetri sempurna di alam muncul melalui proses-proses tidak disengaja. Evolusionis, misalnya, membuat tesis tentang proses-proses kebetulan untuk menjelaskan masa-lah ini, dan mereka mengadakan berbagai riset. Mereka tidak sungkan-sungkan mengeluarkan pernyataan-pernyataan tidak berdasar dalam masalah ini.
Ini adalah kebutaan nyata, dan dengan kebutaan seperti itu, orang akan sulit untuk disadarkan. Namun, seseorang yang bisa lolos dari ke-butaan ini dengan menggunakan akalnya, akan memahami bahwa dia sebenarnya hidup dalam lingkungan yang penuh keajaiban di bumi. Dia juga akan mengakui sepenuhnya bahwa lingkungan yang dilengkapi dengan kondisi paling cocok untuk kelestarian hidup manusia, tidak mungkin terjadi karena kebetulan.
Seperti orang yang berpikir dan mengakui keberadaan seorang pelu-kis ketika dia melihat lukisan, dia akan mengerti bahwa lingkungan multiwarna di sekelilingnya yang penuh keselarasan dan demikian indah juga ada penciptanya.
Pencipta ini adalah Allah, yang tidak bersekutu dalam penciptaan, yang menciptakan segala sesuatu dengan penuh keselarasan, dan yang menempatkan kita di dunia ini dalam limpahan banyak keindahan de-ngan jutaan warna. Semua yang Allah ciptakan selaras sempurna satu dengan lainnya. Allah menggambarkan keunikan cita rasa seni-Nya dalam penciptaan melalui ayat Al Quran:
“Dialah yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat cacat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat ada kekurangan? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya pengli-hatanmu akan kembali kepadamu tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.“ (QS. Al Mulk, 67: 3-4) !
Picture Text
Kita selalu melihat dunia penuh warna
Jika gambar-gambar di atas dan di bawah ini dibandingkan, kenikmatan melihat dunia penuh warna akan lebih mudah dirasakan. Warna adalah salah satu karunia yang diberikan Allah kepada manusia di dunia
Dalam benak kebanyakan orang, mungkin tidak pernah terpikirkan, betapa beraneka warnanya dunia tempat hidup mereka; atau diper-tanyakan, bagaimana keanekaragaman warna seperti ini ada di bumi, atau seperti apa jadinya jika ada sebuah dunia tanpa warna. Ini karena setiap orang dengan penglihatan normal dilahirkan ke dunia yang penuh warna. Tetapi, sebuah model dunia hitam putih, tanpa warna, bukanlah suatu hal yang tidak mungkin terjadi. Justru karenanya, dunia yang penuh warna cemerlang, tempat kita hidup, menjadi benar-benar mengagumkan. (Da-lam bab-bab selanjutnya, akan didiskusikan secara terperinci mengapa keberadaan dunia penuh warna ini demikian mengagumkan).
Sebuah dunia tanpa warna biasanya dibayangkan hanya terdiri dari hitam, putih dan nuansa abu-abu. Tetapi, hitam, putih dan nuansa abu-abu sebenarnya warna juga. Maka, sulit sekali membayangkan ketiadaan warna. Untuk menjelaskan ketiadaan warna, seseorang selalu merasa per-lu menyebutkan satu warna. Orang mencoba menjelaskan ketiadaan war-na dengan pernyataan seperti, “Tidak ada warna, benar-benar hitam,” atau “Wajahnya sama sekali tidak berwarna; putih sekali.” Sebenarnya, semua itu bukan penjelasan tentang ketiadaan warna, melainkan hanya sebuah dunia hitam putih.
Cobalah, selama sedetik saja, membayangkan bahwa, tiba-tiba saja, semua kehilangan warnanya. Dalam keadaan demikian, segala sesuatu akan saling bercampur dan akan menjadi mustahil membedakan satu objek dengan objek lainnya. Akan mustahil melihat, misalnya, jeruk, stro-beri atau serangkai bunga di atas sebuah meja kayu, karena jeruk itu tidak berwarna oranye, meja itu tidak berwarna coklat, dan stroberi itu juga tidak berwarna merah. Betapa tidak nyaman bagi seseorang untuk hidup di dunia tanpa warna, sekalipun hanya sesaat. Karena dunia seperti itu bahkan sulit untuk digambarkan.
Warna berperan penting dalam komunikasi manusia dengan dunia luar, dalam kelancaran fungsi ingatannya, dan dalam pemenuhan fungsi belajar otaknya. Ini karena manusia dapat mengaitkan dengan tepat antara kejadian dan tempat, antara orang dan objek, hanya dari penampakan luar dan warnanya. Pendengaran atau sentuhan saja tidak cukup untuk mendefinisikan objek. Bagi manusia, dunia luar mempunyai makna hanya jika dilihat secara keseluruhan dengan warnanya.
Keanekaragaman warna tidak hanya memudahkan pengenalan pelbagai objek dan lingkungan sekeliling kita. Keselarasan warna yang sempurna di alam semesta memberikan kenikmatan sangat besar bagi jiwa manusia. Untuk dapat melihat keselarasan ini dari setiap detilnya, manusia telah dilengkapi sepasang mata dengan rancangan sangat isti-mewa. Di dunia makhluk hidup, mata manusia paling fungsional dan dapat menangkap warna-warni dalam detail sekecil-kecilnya, sedemi-kian rupa sehingga mata manusia sensitif terhadap jutaan warna.1 Nyata sekali bahwa alat penglihatan manusia yang bekerja begitu sempurna telah dirancang khusus untuk melihat dunia penuh warna.
Satu-satunya makhluk di bumi yang dapat memahami keberadaan keteraturan seperti itu di alam semesta adalah manusia, karena ia mem-punyai kemampuan untuk berpikir dan menggunakan nalar. Jadi, ber-dasarkan semua uraian di atas, kita simpulkan sebagai berikut:
Setiap detil, pola dan warna di langit dan di bumi telah diciptakan bagi manusia agar ia mengakui dan kemudian menghargai keteraturan ini dan memikirkannya. Warna-warni di alam telah diatur sedemikian rupa sehingga mempunyai daya tarik bagi jiwa manusia. Keselarasan dan simetri sempurna tampak dalam warna, baik di dunia makhluk hidup maupun benda mati. Situasi ini tentu saja akan membangkitkan pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran seseorang yang berpikir, misalnya:
Apa yang membuat bumi beraneka warna? Bagaimana warna-war-na itu, yang menjadikan dunia kita luar biasa indah, dapat terjadi? Siapa yang merancang keanekaragaman warna dan keselarasan di antara war-na-warna tersebut?
Bisakah dikatakan bahwa segala sesuatu muncul begitu saja karena perubahan-perubahan tak terarah yang ditimbulkan oleh serangkaian kejadian kebetulan?
Tentu saja, tak seorang pun akan menyatakan kemustahilan seperti itu. Kebetulan-kebetulan tak terkontrol tidak dapat menciptakan apa pun, apalagi miliaran warna. Coba saja amati sayap kupu-kupu atau bunga beraneka warna, yang masing-masing bagaikan keajaiban seni. Jelas, tidak mungkin bagi akal sehat menganggap semua ini adalah hasil dari proses yang tidak disengaja.
Kita akan memahami lebih baik fakta ini jika kita mengambil sebuah contoh. Ketika seseorang melihat sebuah lukisan yang menggambarkan pohon dan bunga di alam, ia tidak akan berkata, atau bahkan berpikir, bahwa keselarasan warna, keteraturan pola dan desain dalam lukisan ini muncul begitu saja karena kebetulan. Jika orang lain datang dan berkata, “Kaleng-kaleng cat itu terguling ditiup angin, catnya tercampur, dan de-ngan pengaruh hujan dan lain-lain, dan setelah melalui waktu yang lama, lukisan indah ini terbentuk“, pastilah tak ada orang yang menganggapnya serius. Ada situasi yang sangat menarik di sini. Meskipun tidak ada orang yang berusaha mengajukan pernyataan tak masuk akal seperti itu, ada saja orang yang menyatakan bahwa pewarnaan dan simetri sempurna di alam muncul melalui proses-proses tidak disengaja. Evolusionis, misalnya, membuat tesis tentang proses-proses kebetulan untuk menjelaskan masa-lah ini, dan mereka mengadakan berbagai riset. Mereka tidak sungkan-sungkan mengeluarkan pernyataan-pernyataan tidak berdasar dalam masalah ini.
Ini adalah kebutaan nyata, dan dengan kebutaan seperti itu, orang akan sulit untuk disadarkan. Namun, seseorang yang bisa lolos dari ke-butaan ini dengan menggunakan akalnya, akan memahami bahwa dia sebenarnya hidup dalam lingkungan yang penuh keajaiban di bumi. Dia juga akan mengakui sepenuhnya bahwa lingkungan yang dilengkapi dengan kondisi paling cocok untuk kelestarian hidup manusia, tidak mungkin terjadi karena kebetulan.
Seperti orang yang berpikir dan mengakui keberadaan seorang pelu-kis ketika dia melihat lukisan, dia akan mengerti bahwa lingkungan multiwarna di sekelilingnya yang penuh keselarasan dan demikian indah juga ada penciptanya.
Pencipta ini adalah Allah, yang tidak bersekutu dalam penciptaan, yang menciptakan segala sesuatu dengan penuh keselarasan, dan yang menempatkan kita di dunia ini dalam limpahan banyak keindahan de-ngan jutaan warna. Semua yang Allah ciptakan selaras sempurna satu dengan lainnya. Allah menggambarkan keunikan cita rasa seni-Nya dalam penciptaan melalui ayat Al Quran:
“Dialah yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat cacat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat ada kekurangan? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya pengli-hatanmu akan kembali kepadamu tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.“ (QS. Al Mulk, 67: 3-4) !
Picture Text
Kita selalu melihat dunia penuh warna
Jika gambar-gambar di atas dan di bawah ini dibandingkan, kenikmatan melihat dunia penuh warna akan lebih mudah dirasakan. Warna adalah salah satu karunia yang diberikan Allah kepada manusia di dunia
Dunia yang Beraneka Warna
Pernahkah terpikir oleh Anda seperti apa hidup di dunia tanpa warna? Bebaskan diri Anda sejenak dari pengalaman Anda. Lu-pakan semua yang pernah Anda pelajari. Dan mulailah menggu-nakan imajinasi. Coba bayangkan badan Anda, orang-orang di sekitar Anda, lautan, langit, pohon-pohon, bunga-bunga, singkatnya, semua-nya, berwarna hitam. Bayangkan bahwa di sekeliling Anda tidak ada warna. Coba pikirkan, bagaimana perasaan Anda jika orang, kucing, an-jing, burung, kupu-kupu, dan buah-buahan tidak berwarna sama sekali. Tentunya Anda tidak mau hidup di dunia seperti itu, bukan?
Dalam benak kebanyakan orang, mungkin tidak pernah terpikirkan, betapa beraneka warnanya dunia tempat hidup mereka; atau diper-tanyakan, bagaimana keanekaragaman warna seperti ini ada di bumi, atau seperti apa jadinya jika ada sebuah dunia tanpa warna. Ini karena setiap orang dengan penglihatan normal dilahirkan ke dunia yang penuh warna. Tetapi, sebuah model dunia hitam putih, tanpa warna, bukanlah suatu hal yang tidak mungkin terjadi. Justru karenanya, dunia yang penuh warna cemerlang, tempat kita hidup, menjadi benar-benar mengagumkan. (Da-lam bab-bab selanjutnya, akan didiskusikan secara terperinci mengapa keberadaan dunia penuh warna ini demikian mengagumkan).
Sebuah dunia tanpa warna biasanya dibayangkan hanya terdiri dari hitam, putih dan nuansa abu-abu. Tetapi, hitam, putih dan nuansa abu-abu sebenarnya warna juga. Maka, sulit sekali membayangkan ketiadaan warna. Untuk menjelaskan ketiadaan warna, seseorang selalu merasa per-lu menyebutkan satu warna. Orang mencoba menjelaskan ketiadaan war-na dengan pernyataan seperti, “Tidak ada warna, benar-benar hitam,” atau “Wajahnya sama sekali tidak berwarna; putih sekali.” Sebenarnya, semua itu bukan penjelasan tentang ketiadaan warna, melainkan hanya sebuah dunia hitam putih.
Cobalah, selama sedetik saja, membayangkan bahwa, tiba-tiba saja, semua kehilangan warnanya. Dalam keadaan demikian, segala sesuatu akan saling bercampur dan akan menjadi mustahil membedakan satu objek dengan objek lainnya. Akan mustahil melihat, misalnya, jeruk, stro-beri atau serangkai bunga di atas sebuah meja kayu, karena jeruk itu tidak berwarna oranye, meja itu tidak berwarna coklat, dan stroberi itu juga tidak berwarna merah. Betapa tidak nyaman bagi seseorang untuk hidup di dunia tanpa warna, sekalipun hanya sesaat. Karena dunia seperti itu bahkan sulit untuk digambarkan.
Warna berperan penting dalam komunikasi manusia dengan dunia luar, dalam kelancaran fungsi ingatannya, dan dalam pemenuhan fungsi belajar otaknya. Ini karena manusia dapat mengaitkan dengan tepat antara kejadian dan tempat, antara orang dan objek, hanya dari penampakan luar dan warnanya. Pendengaran atau sentuhan saja tidak cukup untuk mendefinisikan objek. Bagi manusia, dunia luar mempunyai makna hanya jika dilihat secara keseluruhan dengan warnanya.
Keanekaragaman warna tidak hanya memudahkan pengenalan pelbagai objek dan lingkungan sekeliling kita. Keselarasan warna yang sempurna di alam semesta memberikan kenikmatan sangat besar bagi jiwa manusia. Untuk dapat melihat keselarasan ini dari setiap detilnya, manusia telah dilengkapi sepasang mata dengan rancangan sangat isti-mewa. Di dunia makhluk hidup, mata manusia paling fungsional dan dapat menangkap warna-warni dalam detail sekecil-kecilnya, sedemi-kian rupa sehingga mata manusia sensitif terhadap jutaan warna.1 Nyata sekali bahwa alat penglihatan manusia yang bekerja begitu sempurna telah dirancang khusus untuk melihat dunia penuh warna.
Satu-satunya makhluk di bumi yang dapat memahami keberadaan keteraturan seperti itu di alam semesta adalah manusia, karena ia mem-punyai kemampuan untuk berpikir dan menggunakan nalar. Jadi, ber-dasarkan semua uraian di atas, kita simpulkan sebagai berikut:
Setiap detil, pola dan warna di langit dan di bumi telah diciptakan bagi manusia agar ia mengakui dan kemudian menghargai keteraturan ini dan memikirkannya. Warna-warni di alam telah diatur sedemikian rupa sehingga mempunyai daya tarik bagi jiwa manusia. Keselarasan dan simetri sempurna tampak dalam warna, baik di dunia makhluk hidup maupun benda mati. Situasi ini tentu saja akan membangkitkan pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran seseorang yang berpikir, misalnya:
Apa yang membuat bumi beraneka warna? Bagaimana warna-war-na itu, yang menjadikan dunia kita luar biasa indah, dapat terjadi? Siapa yang merancang keanekaragaman warna dan keselarasan di antara war-na-warna tersebut?
Bisakah dikatakan bahwa segala sesuatu muncul begitu saja karena perubahan-perubahan tak terarah yang ditimbulkan oleh serangkaian kejadian kebetulan?
Tentu saja, tak seorang pun akan menyatakan kemustahilan seperti itu. Kebetulan-kebetulan tak terkontrol tidak dapat menciptakan apa pun, apalagi miliaran warna. Coba saja amati sayap kupu-kupu atau bunga beraneka warna, yang masing-masing bagaikan keajaiban seni. Jelas, tidak mungkin bagi akal sehat menganggap semua ini adalah hasil dari proses yang tidak disengaja.
Kita akan memahami lebih baik fakta ini jika kita mengambil sebuah contoh. Ketika seseorang melihat sebuah lukisan yang menggambarkan pohon dan bunga di alam, ia tidak akan berkata, atau bahkan berpikir, bahwa keselarasan warna, keteraturan pola dan desain dalam lukisan ini muncul begitu saja karena kebetulan. Jika orang lain datang dan berkata, “Kaleng-kaleng cat itu terguling ditiup angin, catnya tercampur, dan de-ngan pengaruh hujan dan lain-lain, dan setelah melalui waktu yang lama, lukisan indah ini terbentuk“, pastilah tak ada orang yang menganggapnya serius. Ada situasi yang sangat menarik di sini. Meskipun tidak ada orang yang berusaha mengajukan pernyataan tak masuk akal seperti itu, ada saja orang yang menyatakan bahwa pewarnaan dan simetri sempurna di alam muncul melalui proses-proses tidak disengaja. Evolusionis, misalnya, membuat tesis tentang proses-proses kebetulan untuk menjelaskan masa-lah ini, dan mereka mengadakan berbagai riset. Mereka tidak sungkan-sungkan mengeluarkan pernyataan-pernyataan tidak berdasar dalam masalah ini.
Ini adalah kebutaan nyata, dan dengan kebutaan seperti itu, orang akan sulit untuk disadarkan. Namun, seseorang yang bisa lolos dari ke-butaan ini dengan menggunakan akalnya, akan memahami bahwa dia sebenarnya hidup dalam lingkungan yang penuh keajaiban di bumi. Dia juga akan mengakui sepenuhnya bahwa lingkungan yang dilengkapi dengan kondisi paling cocok untuk kelestarian hidup manusia, tidak mungkin terjadi karena kebetulan.
Seperti orang yang berpikir dan mengakui keberadaan seorang pelu-kis ketika dia melihat lukisan, dia akan mengerti bahwa lingkungan multiwarna di sekelilingnya yang penuh keselarasan dan demikian indah juga ada penciptanya.
Pencipta ini adalah Allah, yang tidak bersekutu dalam penciptaan, yang menciptakan segala sesuatu dengan penuh keselarasan, dan yang menempatkan kita di dunia ini dalam limpahan banyak keindahan de-ngan jutaan warna. Semua yang Allah ciptakan selaras sempurna satu dengan lainnya. Allah menggambarkan keunikan cita rasa seni-Nya dalam penciptaan melalui ayat Al Quran:
“Dialah yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat cacat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat ada kekurangan? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya pengli-hatanmu akan kembali kepadamu tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.“ (QS. Al Mulk, 67: 3-4) !
Picture Text
Kita selalu melihat dunia penuh warna
Jika gambar-gambar di atas dan di bawah ini dibandingkan, kenikmatan melihat dunia penuh warna akan lebih mudah dirasakan. Warna adalah salah satu karunia yang diberikan Allah kepada manusia di dunia
Dalam benak kebanyakan orang, mungkin tidak pernah terpikirkan, betapa beraneka warnanya dunia tempat hidup mereka; atau diper-tanyakan, bagaimana keanekaragaman warna seperti ini ada di bumi, atau seperti apa jadinya jika ada sebuah dunia tanpa warna. Ini karena setiap orang dengan penglihatan normal dilahirkan ke dunia yang penuh warna. Tetapi, sebuah model dunia hitam putih, tanpa warna, bukanlah suatu hal yang tidak mungkin terjadi. Justru karenanya, dunia yang penuh warna cemerlang, tempat kita hidup, menjadi benar-benar mengagumkan. (Da-lam bab-bab selanjutnya, akan didiskusikan secara terperinci mengapa keberadaan dunia penuh warna ini demikian mengagumkan).
Sebuah dunia tanpa warna biasanya dibayangkan hanya terdiri dari hitam, putih dan nuansa abu-abu. Tetapi, hitam, putih dan nuansa abu-abu sebenarnya warna juga. Maka, sulit sekali membayangkan ketiadaan warna. Untuk menjelaskan ketiadaan warna, seseorang selalu merasa per-lu menyebutkan satu warna. Orang mencoba menjelaskan ketiadaan war-na dengan pernyataan seperti, “Tidak ada warna, benar-benar hitam,” atau “Wajahnya sama sekali tidak berwarna; putih sekali.” Sebenarnya, semua itu bukan penjelasan tentang ketiadaan warna, melainkan hanya sebuah dunia hitam putih.
Cobalah, selama sedetik saja, membayangkan bahwa, tiba-tiba saja, semua kehilangan warnanya. Dalam keadaan demikian, segala sesuatu akan saling bercampur dan akan menjadi mustahil membedakan satu objek dengan objek lainnya. Akan mustahil melihat, misalnya, jeruk, stro-beri atau serangkai bunga di atas sebuah meja kayu, karena jeruk itu tidak berwarna oranye, meja itu tidak berwarna coklat, dan stroberi itu juga tidak berwarna merah. Betapa tidak nyaman bagi seseorang untuk hidup di dunia tanpa warna, sekalipun hanya sesaat. Karena dunia seperti itu bahkan sulit untuk digambarkan.
Warna berperan penting dalam komunikasi manusia dengan dunia luar, dalam kelancaran fungsi ingatannya, dan dalam pemenuhan fungsi belajar otaknya. Ini karena manusia dapat mengaitkan dengan tepat antara kejadian dan tempat, antara orang dan objek, hanya dari penampakan luar dan warnanya. Pendengaran atau sentuhan saja tidak cukup untuk mendefinisikan objek. Bagi manusia, dunia luar mempunyai makna hanya jika dilihat secara keseluruhan dengan warnanya.
Keanekaragaman warna tidak hanya memudahkan pengenalan pelbagai objek dan lingkungan sekeliling kita. Keselarasan warna yang sempurna di alam semesta memberikan kenikmatan sangat besar bagi jiwa manusia. Untuk dapat melihat keselarasan ini dari setiap detilnya, manusia telah dilengkapi sepasang mata dengan rancangan sangat isti-mewa. Di dunia makhluk hidup, mata manusia paling fungsional dan dapat menangkap warna-warni dalam detail sekecil-kecilnya, sedemi-kian rupa sehingga mata manusia sensitif terhadap jutaan warna.1 Nyata sekali bahwa alat penglihatan manusia yang bekerja begitu sempurna telah dirancang khusus untuk melihat dunia penuh warna.
Satu-satunya makhluk di bumi yang dapat memahami keberadaan keteraturan seperti itu di alam semesta adalah manusia, karena ia mem-punyai kemampuan untuk berpikir dan menggunakan nalar. Jadi, ber-dasarkan semua uraian di atas, kita simpulkan sebagai berikut:
Setiap detil, pola dan warna di langit dan di bumi telah diciptakan bagi manusia agar ia mengakui dan kemudian menghargai keteraturan ini dan memikirkannya. Warna-warni di alam telah diatur sedemikian rupa sehingga mempunyai daya tarik bagi jiwa manusia. Keselarasan dan simetri sempurna tampak dalam warna, baik di dunia makhluk hidup maupun benda mati. Situasi ini tentu saja akan membangkitkan pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran seseorang yang berpikir, misalnya:
Apa yang membuat bumi beraneka warna? Bagaimana warna-war-na itu, yang menjadikan dunia kita luar biasa indah, dapat terjadi? Siapa yang merancang keanekaragaman warna dan keselarasan di antara war-na-warna tersebut?
Bisakah dikatakan bahwa segala sesuatu muncul begitu saja karena perubahan-perubahan tak terarah yang ditimbulkan oleh serangkaian kejadian kebetulan?
Tentu saja, tak seorang pun akan menyatakan kemustahilan seperti itu. Kebetulan-kebetulan tak terkontrol tidak dapat menciptakan apa pun, apalagi miliaran warna. Coba saja amati sayap kupu-kupu atau bunga beraneka warna, yang masing-masing bagaikan keajaiban seni. Jelas, tidak mungkin bagi akal sehat menganggap semua ini adalah hasil dari proses yang tidak disengaja.
Kita akan memahami lebih baik fakta ini jika kita mengambil sebuah contoh. Ketika seseorang melihat sebuah lukisan yang menggambarkan pohon dan bunga di alam, ia tidak akan berkata, atau bahkan berpikir, bahwa keselarasan warna, keteraturan pola dan desain dalam lukisan ini muncul begitu saja karena kebetulan. Jika orang lain datang dan berkata, “Kaleng-kaleng cat itu terguling ditiup angin, catnya tercampur, dan de-ngan pengaruh hujan dan lain-lain, dan setelah melalui waktu yang lama, lukisan indah ini terbentuk“, pastilah tak ada orang yang menganggapnya serius. Ada situasi yang sangat menarik di sini. Meskipun tidak ada orang yang berusaha mengajukan pernyataan tak masuk akal seperti itu, ada saja orang yang menyatakan bahwa pewarnaan dan simetri sempurna di alam muncul melalui proses-proses tidak disengaja. Evolusionis, misalnya, membuat tesis tentang proses-proses kebetulan untuk menjelaskan masa-lah ini, dan mereka mengadakan berbagai riset. Mereka tidak sungkan-sungkan mengeluarkan pernyataan-pernyataan tidak berdasar dalam masalah ini.
Ini adalah kebutaan nyata, dan dengan kebutaan seperti itu, orang akan sulit untuk disadarkan. Namun, seseorang yang bisa lolos dari ke-butaan ini dengan menggunakan akalnya, akan memahami bahwa dia sebenarnya hidup dalam lingkungan yang penuh keajaiban di bumi. Dia juga akan mengakui sepenuhnya bahwa lingkungan yang dilengkapi dengan kondisi paling cocok untuk kelestarian hidup manusia, tidak mungkin terjadi karena kebetulan.
Seperti orang yang berpikir dan mengakui keberadaan seorang pelu-kis ketika dia melihat lukisan, dia akan mengerti bahwa lingkungan multiwarna di sekelilingnya yang penuh keselarasan dan demikian indah juga ada penciptanya.
Pencipta ini adalah Allah, yang tidak bersekutu dalam penciptaan, yang menciptakan segala sesuatu dengan penuh keselarasan, dan yang menempatkan kita di dunia ini dalam limpahan banyak keindahan de-ngan jutaan warna. Semua yang Allah ciptakan selaras sempurna satu dengan lainnya. Allah menggambarkan keunikan cita rasa seni-Nya dalam penciptaan melalui ayat Al Quran:
“Dialah yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat cacat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat ada kekurangan? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya pengli-hatanmu akan kembali kepadamu tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.“ (QS. Al Mulk, 67: 3-4) !
Picture Text
Kita selalu melihat dunia penuh warna
Jika gambar-gambar di atas dan di bawah ini dibandingkan, kenikmatan melihat dunia penuh warna akan lebih mudah dirasakan. Warna adalah salah satu karunia yang diberikan Allah kepada manusia di dunia
Senin, 10 Januari 2011
STRATEGI MEMBASMI AGAMA BATIL
Demi keselamatan di dunia dan akhirat, pembasmian secara total terhadap kekufuran di atas muka bumi adalah suatu kewajipan yang besar. Seperti mana yang ditekankan di dalam buku ini, adalah merupakan tanggungjawab bagi golongan yang beriman untuk menghancurkan kekufuran dengan menyampaikan dakwah Qur’an. Dengan berkata: ‘saya tetap beriman dan orang lain harus menjaga diri masing-masing’, bukanlah suatu sikap yang munasabah bagi seorang mukmin sejati. Ayat berikutnya menerangkan tanggungjawab ke atas setiap mukmin terhadap perintah Allah dan perintah-Nya untuk menjaga maslahat diri, keluarganya dan manusia umum dari azab api neraka:
Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu: penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. Surah at-Tahrim: 6
Sesetengah individu yang bersikap pesimis berkata, ‘saya terlalu lemah untuk menentang kemungkaran’. Ini merupakan sikap negatif akibat dorongan syaitan untuk mengelak diri daripada menyampaikan dakwah islam. Seperti yang dijelakan, usaha menentang kekufuran haruslah dimulakan dengan mendedahkan pembatalan asas bagi falsafah dan ideologi mereka melalui memberikan pembuktian aktual saintifik yang sebenar. Setiap orang berkuasa untuk melibatkan diri di dalam jihad yang agung ini. Sekurang-kurangnya, bagi mereka yang tidak mampu terlibat secara aktif, mereka seharusnya memberi sokongan dan membantu mereka yang mewakafkan serta mengabdi diri ke dalam usah aini. Langkah-langkah seperti memikirkan jalan untuk membantu penyebaran wacana ilmiah dan artikel yang berkaitan serta menerangkan idea dan konsep yang terkandung di dalam wacana tersebut dan juga menyebarluaskan fakta sebenar yang akan memusnahkan kekufuran adalah termasuk usaha pembasmian.
Apa yang harus diingat ialah, seperti yang dinyatakan oleh Badi’uzzaman, ‘Merelakan kejahilan adalah sama dengan kejahilan; merelakan kejahatan, kejahilan dan kekejaman adalah kejahatan, kejahilan dan kekejaman.’ Dengan itu, mereka yang tetap enggan terlibat dalam usaha menumpaskan kekufuran ini walaupun berkuasa dan mereka yang menghalang usaha-usaha murni ini, sengaja atau tidak, secara tidak langsung adalah menyokong kekufuran dan melbaur kepada kejayaan usaha-usaha kejahatan.
Individu yang benar-benar ikhlas pasti tidak akan berpeluk tubuh dengan sekadar memerhati dari jauh tanpa melibatkan diri dalam usaha seumpama ini. Selaras dengan perintah al-Qur’an, mereka akan berasa sensitif, tega dan tabah. Nasib buruk yang dialami oleh manusia akibat penindasan, yang tidak mampu walau untuk mendapat sesuap makanan, yang dibiarkan tanpa tempat tinggal, sudah pasti akan membibitkan rasa belas kasihannya dan bertanggungjawab untuk mereka. Contoh yang nyata hari ini, betapa berjuta-juta umat islam ditindas di Kashmir, Turkistan Timur dan Palestin hanya kerana disebabkan pegangan agama mereka. Dalam tahun kebelakangna ini, di Kosovo dan Bosnia beratus ribu orang disiksa, diusir daripada tanah air sendiri bahkan dibunuh di hadapan mata dunia sendiri. Bukan sahaja di negara-negara umat islam tetapi di setiap penjuru dunia, mereka menanggung kesengsaraan akibat tindakan kejam pertubuhan yang menolak agama dan pergerakan ideologi mereka. Di Russia, generasi yang menolak agama berkembang biak dan pegangan ini tersebar dengan luas. 23 Situasi seumpama ini tidak sama sekali akan dibiarkan begitu sahaja bagi mereka yang mempunyai kesedaran dan ia sekaligus adalah menjadi tanggungjawab umat islam untuk bersatu menentang kekejaman ini dari menimpa umat manusia seperti yang disabdakan oleh Nabi Muhammad s.a.w.:
Strategi dan tugas untuk merealisasikan usaha ini telah dihuraikan menurut perspektif Qur’an.
Meleburkan Sembahan Ateisme
Metode yang paling efektif menentang gerakan ateis ini ialah seperti mana yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim a.s. Kaum Nabi Ibrahim a.s menyembah patung yang mereka bina dan kemudian memohon pertolongan terhadap apa yang mereka panggil tuhan ini (Praktikal yang sama juga pernah dilakukan di dalam beberapa masyarakat sepanjang sejarah). Nabi Ibrahim a.s mengingatkan manusia bahawa tuhan-tuhan yang mereka sembah adalah zat yang tidak bernyawa bahkan tidak mampu membuat sesuatu apa pun. Seperti kaum yang menyembah patung yang mati ketika itu, para musyrikin hari ini mengambil atom dan alam semulajadi yang kaku serta mekanisme kebetulan sebagai tuhan mereka. Mereka percaya bahawa atom-atom yang mati bercantum dan menyusun dirinya dengan sendiri menjadi sebuah sistem yang amat sempurna.
Strategi yang digunakan oleh Nabi Ibrahim a.s untuk menyelamatkan kaumnya daripada amalan kesesatan dan usaha penyedarannya dinyatakan di dalam al-Qur’an sebagai berikut:
(Ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya: ‘Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?’. Mereka menjawab: ‘Kami mendapati ayah-ayah kami menyembahnya’. Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya kamu dan ayah-ayahmu berada dalam kesesatan yang nyata’. Surah al-Anbiya: 52-54
Demi Allah sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong kecuali yang terbesar dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (bertanya) kepadanya. Surah al-Anbiya: 57-58
Ketika Ibrahim melihat ayah dan kaumnya dibutakan daripada hakikat kebenaran, baginda telah merancang sesuatu terhadap patung sembahan mereka seperti yang dinyatakan di dalam ayat di atas. Ketika kaumnya keluar, baginda memecahkan patung-patung yang mereka sembah dan melihatkan mereka hakikat kebenaran bahawa patung-patung sembahan mereka itu tidak berkuasa untuk melakukan sebarang tindakan apatah lagi untuk mencipta. Di saat mereka kembali, mereka lantas bertanya kepada Nabi Ibrahim a.s, jawapan tindakbalas darinya adalah sangat penting kerana mendedahkan sikap mereka yang tidak munasabah:
Mereka bertanya: ‘Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim?’ Ibrahim menjawab: ‘Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu jika mereka dapat berbicara. Maka mereka telah kembali kepada kesedaran mereka dan lalu bertanya: ‘Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)’, kemudian kepala mereka tunduk (lalu berkata): ‘Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahawa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara’. Surah al-Anbiya: 62-65
Kaum Nabi Ibrahim a.s mengakui kebenaran ini selaras dengan kenyataan yang dirakam di dalam al-Qur’an: ‘Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahawa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara’. Mereka amat mengetahui bahawa patung-patung yang mereka sembah tidak berkuasa untuk melakukan sesuatu atau menghidupkan zat mati apatah lagi untuk mencipta cakerawala dengan sistem yang begitu sempurna. Namun begitu, mereka tetap berkeras mengangkat material yang tidak bernyawa sebagai tuhan semata-mata perasaan taksub terahdap agama nenek-moyang mereka dan penolakan terhadap Allah s.w.t.
Di satu sudut, para materialis dan evolusionis yang ada hari ini juga memiliki mentaliti yang amat serupa. Apabila difikirkan dengan akal yang waras, setiap evolusionis pasti bersetuju bahawa hidupan adalah terlalu kompleks dan sempurna untuk terbentuk sekadar melalui kebetulan. Para saintis ini juga bersetuju akan hakikat setiap yang hidup mempunyai permulaan. Tetapi meskipun pengakuan ini, mereka tetap mempertahankan sikap jumud mereka seperti mana yang dilakukan oleh para musyrikin di zaman Nabi Ibrahim a.s malah meyakini adalah amat mustahil bagi mereka untuk meninggalkan keimanan terhadap patung semabahan untuk kembali ke jalan Allah. Untuk memahami hal ini, adalah berguna untuk melihat beberapa pengakuan yang dibuat oleh para evolusionis.
Richard Lewontin, seorang evolusionis dan ahli genetik materialis dari Universiti Harvard, menjelaskan sikap prejudisnya dan golongan materialis lain sebagai berikut:
Bukanlah metode dan institusi sains yang memaksa kita mengakui penjelasan material mengenai fenomena dunia, tetapi sebaliknya, kita didesak oleh kesetiaan tertinggi kita terhadap kuasa material untuk merintis alat-alat pengkajian dan merangka konsep yang membuahkan penerangan bersifat kebendaan, walau betapa sekalipun bertentangan dengan intuisi, walau betapa menghairankan untuk diterima. Dan lagi, materialisme adalah mutlak, maka kita tidak akan membenarkan jejak Tuhan berdiri di depan pintu.
D.M.S Watson, ahli zoologi dan evolusionis Britain terkemuka juga menerangkan mengapa evolusionis tetap berkeras mempertahankan teori ini walaupun tidak mempunyai sebarang bukti saintifik yang menyokongnya:
Sekiranya demikian, ia akan melihatkan keselarian kepada teori evolusi sendiri, sebuah teori yang diterima secara menyeluruh, bukan kerana ia dapat dibuktikan secara logik sebagai kebenaran, akan tetapi kerana satu-satunya alternatif, ciptaan istimewa adalah amat jelas mengagumkan.
Chandra Wickramasinghe, seorang saintis Britain terkenal, menerangkan bagaimana manusia dibiasakan untuk menafikan kewujudan Ilahi:
Dari latihan terawal saya sebagai seorang saintis, saya amat kuat dipengaruhi untuk mempercayai bahawa sains tidak mampu konsisten dengan sebarang jenis penciptaan yang disengajakan. Fahaman ini disingkirkan dengan keras. Pada suatu ketika, saya tidak dapat menerima suatu argumen yang rasional untuk menyingkirkan pandangan sesat untuk menggantikan Tuhan. Kami dahulu mempunyai sebuah minda terbuka, sekarang kami sedar bahawa satu-satunya jawapan yang paling logik bagi alam hidupan adalah penciptaan, bukanlah susunan rawak yang kebetulan.
Contoh di atas jelas mengilustrasikan bahawa saintis evolusionis terpaksa mempercayai teori evolusi berdasarkan kepada materialisme untuk mampu menolak Allah walaupun jelas mengetahui kesilapan teori ini. Dan individu ini merupakan segelintir pemimpin materialis evolusionis di era ini. Jawapan kepada mereka ini adalah sama seperti mana yang diberikan oleh Nabi Ibrahim kepada kaumnya, seperti yang diterangkan di dalam al-Qur’an. Jawapannya jelas amat mengejutkan dan sekaligus mengajak mereka untuk berfikir:
Ibrahim berkata: ‘Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak memberi mudarat kepada kamu?’ Ah! (Celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami? Surah al-Anbiya: 66-67
Seperti mana Nabi Ibrahim a.s menghancurkan patung sembahan musyrikin dan memusnahkan asas kekufuran dengan mendedahkan kebodohan mereka, umat islam yanga da hari ini juga bertanggungjawab untuk menghancurkan tuhan golongan ateis ini yang merupakan asas untuk melumpuhkan pergerakan mereka. Antara beberapa usaha yang dapat dilakukan:
1)Memahirkan diri dengan idea dan ideologi yang disebarkan oleh pergerakan agama batil
Adalah sangat penting bagi setiap individu untuk mengetahui sedikit sebanyak mengenai selok belok pergerakan anti agama yang memusnahkan kesucian nilai-nilai moral serta asas ideologi mereka dan juga konsep yang mereka perkenalkan. Ini membantu seseorang untuk lebih jelas terhadap kecacatan logik dan rasional menyeleweng yang bertentangan dengan sains dan akal fikiran. Kegoyahan asas yang menjadi sandaran ideologi ini bersama dengan kelemahan mereka dengan mudah dapat didedahkan dan bagi mereka yang benar-benar menyedari mengenai hakikat ideologi ini pasti berupaya menganalisis kemudaratan yang diakibatkan kepada negara dan mengambil langkah berjaga-jaga sebagai usaha mengekalkan keamanan dan keselamatan.
2)Membuktikan pembatalan materialisme dan evolusi melalui kajian saintifik
Sejak awal lagi kita telah memperkatakan tentang agama batil: iaitu materialisme. Apa yang membuatkannya begitu tersebar luas dan lebih efektif berbanding ideologi zalim yang lain ialah persembahannya di atas nama sains. Sementara syirik dilabel sebagai primitif, materialisme dan teori evolusi (walaupun pada asasnya serupa) pula memiliki aura kepuraan saintifik. Berdasarkan hal ini, adalah amat penting untuk mendedahkan bahawa materialisme dan teori evolusi pada hakikatnya adalah bercanggah dengan bidang sains dan logik akal.
Adalah amat penting untuk memerhatikan setiap dakwaan yang berakar-umbi daripada teori evolusi dan untuk memperlihatkan bahawa argumen yang dikemukakan pada hakikatnya adalah rekaan berdasarkan khayalan yang bertujuan mengeksploitasi pendapat umum. Untuk menjayakan hal ini, seseorang individu harus mengikuti perkembangan kajian saintifik kontemporari dan pembatalan dakwaan yang berdasarkan teori evolusi secara ilmiah di setiap penjuru dunia dengan memberikan sejumlah bukti yang kukuh. Bahagian terakhir buku ini mengemukakan cebisan dari bukti seperti ini.
Sebenarnya, terdapat beberapa argumen yang terhad didakwa oleh evolusionis sebagai ‘bahan bukti’ bagi mereka dan seimbas pandang kelihatan seperti bukti yang benar. Oleh kerana ia sering dihuraikan dengan mengaplikasikan terminologi saintifik oleh para pengarang atau jurucakap dan dipersembahkan kepada dunia umum di bawah nama sains, ia kelihatan seolah-olah suatu bukti yang terbaru. Tetapi semua kajian ini, yang sarat diisi dengan kenyataan yang tidak dapat difahami berserta istilah Latin, pada asasnya tidak mengandungi sebarang bukti yang ilmiah. Disebabkan sebahagian besar masyarakat dunia hari ini gagal melihat ketidak-rasionalan Darwinisme dan menganggapnya sebagai sebuah fakta saintifik, adalah menjadi khidmat yang penting untuk memaklumkan, mendidik dan mengingatkan orang ramai terhadap ancaman ini. Jelasnya, tugas ini menuntut komitmen yang serius: setiap individu harus mengemblengkan tenaga berkongsi memperjuangkan tugas yang julung-julung kali ini.
3)Menyampaikan hakikat ajaran agama sebenar seperti yang terkandung di dalam al-Qur’an
Di saat golongan materialis menyebarkan ideologi mereka ke atas masyarakat, mereka mengiringinya dengan tindakan yang keras dan agresif terhadap agama. Untuk menafikannya, mereka menggunakan pemahaman yang diselewengkan dan menyimpang jauh yang mereka namakan sebagai ajaran ideologi. Pemahaman ini pada asasnya adalah jauh menyimpang dari ajaran yang sebenar dengan mengadunnya dengan ramuan kejumudan dan khurafat.
Islam yang sebenar adalah amat berbeza daripada pemahaman agama kaku dan tidak bermaya yang digambarkan oleh golongan ini: dengan itu, mesej sebenar yang digariskan di dalam al-Qur’an harus dikumandangkan kepada manusia sejagat secara efektif dan dengan terperinci. Nabi Muhammad s.a.w mengingatkan para mukmin tentang manfaat pengetahuan seumpama ini dalam sabda baginda: ‘Barangsiapa yang dikehendaki Allah akan kebaikan, dia akan diberikan pemahaman tentang agama’.
Al-Qur’an adalah sebuah kitab suci yang bebas daripada sebarang pertentangan. Ia adalah sebuah kenyataan yang harus disebarkan kepada umat manusia secara eksplisit dan disertai dengan buktinya sekali. Adalah juga menjadi suatu keperluan bagi umat manusia untuk mengetahui kronologi peristiwa yang berkaitan dengan wahyu di dalam al-Qur’an. Said Nurisi menekankan cara yang paling efektif membatalkan falsafah materialisme dan naturalisme adalah dengan menjelaskan hakikat kebenaran al-Qur’an:
Menentang ancaman yang paling besar hari ini ateis, anarkisme dan materialisme, di sana hanya ada satu penawar: menyebarkan kebenaran Al-Qur’an. Sekiranya tidak, haluan yang mengubah sebuah negara besar seperti China beralih menjadi komunisme dalam masa yang singkat tidak dapat diatasi semata-mata dengan tindakan politik dan material. Ia hanya dapat dimusnahkan dengan kebenaran al-Qur’an.
Orang yang mengingini iman yang teguh dan mencari senjata yang berkuasa untuk menentang ateis dan anarki harus melihat kepada Petanda Maha Agung.
Freemason, komunisme dan kekufuran terbentuk secara langsung di dalam anarkisme. Satu-satunya yang dapat berdiri kukuh menentang situasi yang mengerikan ini adalah integriti Islam yang dibina berdasarkan kebenaran di dalam al-Qur’an.
4)Menjelaskan bukti yang mengisyaratkan kewujudan Allah s.w.t.
Kewujudan Allah adalah jelas bagi sesiapa yang menggunakan akal fikirannya. Di dalalm setiap makhluk ciptaan, kebijaksanaan dan kehebatan-Nya jelas terpancar. Akan tetapi, beberapa dekad kebelakangan ini, manusia diindoktrinasi menuju penafian terhadap Allah dan sekaligus menimbulkan keraguan terhadap mereka. Selaras dengan itu, usaha yang dirintis untuk menjelaskan petanda Allah kepada manusia untuk mengikis segala prejudis yang telah berakar umbi adalah sangat penting. Ketika melakukan pelbagai kajian berkenaan makhluk hidupan secara terperinci, manusia pasti akan dapat melihat kehebatan ciptaan Allah s.w.t. Usaha yang jitu harus dilakukan untuk mendedahkan bahawa keindahan di dalam ciptaan makhluk hidupan tidak mungkin sekali-kali terjadi melalui kebetulan. Ini dapat dilakukan melalui penerbitan-penerbitan dan pameran.
Betapa ramai manusia yang lemah secara spiritual gagal bahkan untuk melihat hakikat kebenaran yang begitu jelas. Walaupun begitu, mereka ini dapat dibangkitkan dengan menjalankan usaha penyedaran yang menyeluruh. Menguja mereka dengan hakikat kesempurnaan alam ciptaan di sekeliling akan melepaskan mereka dari belenggu kekufuran dan sekaligus menimbulkan rasa tanggungjawabnya kepada Maha Pencipta dan berusaha untuk mendapatkan keredhaan-Nya.
Di dalam banyak ayat di dalam al-Qur’an, Allah mengingatkan manusia untuk memikirkan akan hakikat kejadian dan mengambil pengajaran darinya:
Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak sedikit pun? Dan Kami hamparkan bumi itu dan kami letakkan padanya gunung-gangan yang kukuh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah di pandangan mata, untuk menjadi pengajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah). Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfa’atnya lalu Kami turunkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-bijian tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati. Seperti itulah terjadinya kebangkitan. Surah Qaf: 6-11
Satu cara lain yang berkesan untuk menentang agama batil ialah membantu manusia untuk melihat kepelbagaian ciptaan Maha Suci Allah yang terpacak di hadapan mereka. Di dalam al-Qur’an, Allah berfirman:
Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-menyebutnya (dengan bersyukur). Surah Ad-Dhuha: 11
Selaras dengan ayat ini, setiap individu mukmin harus berusaha menerangkan rahmat yang dianugerahkan Allah kepada umat manusia melalui metode dakwah yang berkesan. Nabi Muhammad s.a.w. menggalakkan umat islam untuk melaksanakan tugas penting ini dalam sabda baginda: ‘Allah dan para malaikat merahmati orang yang mengajar manusia ilmu yang bermanfaat’.
5)Menerangkan cara hidup dan akhlak muliua yang diajarkan di dalam al-Qur’an.
Al-Qur’an memerintahkan manusia agar menegakkan keadilan, berbuat baik, belas kasihan terhadap orang lain, tidak mementingkan diri sendiri, saling hormat menghormati, cinta dan mempertahankan negara, mengekalkan keamanan dan ketenteraman, meleraikan perseteruan, melindungi gologan yang lemah dan miskin, rajin berusaha dan berbuat kebajikan semata-mata mengharapkan keredhaan Allah s.w.t. Kesan pengamalan nilai-nilai mulia seperti ini di dalam sesebuah masyarakat adalah jelas.
Disebabkan majoriti manusia gagal memahami ajaran agama sebenar seperti yang terkandung di dalam al-Qur’an, mereka harus diperlihatkan akan kebaikan dan keindahan prinsip-prinsi kehidupan yang terkandung di dalamnya. Para mukmin harus saling ingat-mengingati betapa indah dan mudah untuk hidup di bawah sinaran agama yang sebenar dan bahawa ia adalah satu-satunya konsep hidup yang paling sesuai dengan kecenderungan sifat dan fitrah manusia. Bahkan, mereka kaan mendapat bahawa ajaran Al-Qur’an adalah satu-satunya solusi agung bagi setiap permasalahan umat manusia. Allah menerangkan sebab kepada penurunan kitab suci-Nya:
Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan khabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. Surah An-Nahl: 89
6)Ikatan dan perpaduan di kalangan mukmin
Para mukminin bukan sahaja mengabdikan diri berjihad menentang kekufuran tetap juga bersatu mempertahankan negara dan rakyat jelata dari sebarang mara merbahaya. Semakin besar jumlah mereka yang beristiqamah di jalan ini, semakin cepat kekufuran akan dibasmikan begitu juga perselisihan dan pertelingkahan di muka bumi.
Konsep amal jama’ie memberi manfaat dari sudut material dan spiritual kepada para mukminin. Di dalam banyak ayat Allah menyeru mukmin untuk bersatu-padu:
Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar. Surah al-Anfal: 46
Dalam sepotong ayat lain, Allah mengingatkan mereka bahawa perpecahan dan pertelingkahan sesama sendiri akan mengakibatkan kerosakan di atas muka bumi:
Adapun orang-orang yang kafir, sebahagian mereka menjadi pelindung bagi sebahagian yang lain. Jika kamu (wahai orang muslim) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, nescaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerosakan yang besar. Surah Al-Anfal: 73
Seperti yang jelas di dalam ayat di atas, umat islam bertanggungjawab untuk mengelakkan konflik dan perbalahan di kalangan mereka dan dengan itu dapat bersatu untuk menentang golongan jahil yang menafikan agama Allah dan yang membawa kehancuran ke dalam masyarakat. Nabi Muhammad s.a.w. menarik perhatian kepada kepentingan berjema’ah di dalam banyak hadis baginda, seperti berikut:
Diriwayatkan daripada Abu Musa al-Ash’ari daripada Nabi Muhammad berkata: Orang mukmin adalah seperti bahagian sebuah binaan, masing-masing menguatkan yang lain’. Kemudian baginda merapatkan belah jari-jemarinya menunjukkan apa yang baginda maksudkan.
Ketika membantu yang lain, mereka harus memberi rangsangan dan galakan kepada yang lain ke arah kebaikan dan menghargai setiap usaha yang dilakukan. Badi’uzzaman menyatakan praktikal bantu-membantu di kalangan mukminin harus diisi dengan perasaan persaudaraan:
Wahai orang beriman! Sekiranya kamu tidak ingin jatuh ke dalam kehinaan perhambaan, sedarlah dan berlindunglah di dalam kubu Sesungguhnya mukmin adalah bersaudara... (Surah al-Hujurat: 10) untuk mempertahankan diri kamu terhadap para penindas yang mengambil kesempatan di atas perselisihan kamu! Sekiranya tidak, kamu tidak akan mampu melindungi diri dan hak-hak kamu. Sangat jelas sekiranya dua jaguh yang bertanding antara satu sama lain, bahkan seorang kanak-kanak pun mampu menewaskan mereka. Sekiranya dua pergunungan dipecahkan menjadi kecil, bahkan sebiji batu mampu merosakkan keseimbangannya dan menyebabkan yang satu naik dan yang satu jatuh. Jadi, wahai orang-orang yang beriman! Kekuatan kamu akan dimusnahkan akibat hawa nafsu dan ketidak-adilan kamu, dan kamu bahkan dapat dikalahkan oleh kuasa yang kecil. Sekiranya kamu mempunyai kepentingan di atas jema’ah, maka jadikanlah prinsip hidup kamu pegangan yang agung: ‘Orang mukmin adalah seperti bahagian sebuah binaan, masing-masing menguatkan yang lain’. Dan kamu akan diselamatkan daripada kehinaan di dunia dan kemurkaan di hari akhirat.
Nasihat Badi’uzzaman tentang
Kaedah Menentang Kekufuran
Di dalam banyak tulisannya, Badi’uzzaman Said Nurisi menggesa umat mukmin mengenai metodologi yang harus digunakan di dalam perjuangan menentang sistem kekufuran. Antara lainnya:
Musuh kita adalah kejahilan, pelaziman dan perselisihan. Kita akan berdiri menentang musuh-musuh ini dengan kebijaksanaan, kemahiran dan kesatuan jema’ah.
Berhadapan dengan musuh pertama, kejahilan, adalah sangat penting untuk memastikan manusia sejagat menyedari dan bersikap peka terhadap ancaman di sekeliling mereka. Di dalam sebuah masyarakat di mana sebahagian besar ahlinya terdiri daripada individu yang beragama, mereka itu adalah orang-orang yang benar beriman kepada Allah dan agama-Nya. Akan tetapi, sebahagian besar umat Islam jauh daripada menyedari perangkap yang dipasang terhadap agama dan nilai kemanusiaan. Sebagai contoh, segelintir individu terlalu jahil dengan teori evolusi dan objektifnya sehinggakan tidak ragu untuk berkata: ‘Saya seorang yang beragama dan juga percaya kepada teori evolusi’. Di sana terdapat segelintir lain yang percaya kepada hal-hal khurafat seperti konsep kelahiran semula dapat diintegrasikan dengan fahaman islam. Falasi-falasi seperti ini harus dimusnahkan dan sifat jahil serta buta huruf ini harus disingkirkan secepat mungkin.
Musuh kedua yang diidentifikasi oleh Badi’uzzaman ialah, pelaziman. Iaitu pengenaan beberapa corak pemikiran menyeleweng dan cara hidup terhadap masyarakat sebagai suatu kewajipan. Sebagai contoh, teori evolusi disiarkan melalui televisyen, buku-buku teks serta sekolah-sekolah dan dipersembahkan sebagai sebuah kenyataan tanpa alternatif lain. Seperti yang ditunjukkan oleh Badi’uzzaman, teori evolusi telah dijulang di atas asas pelaziman yang merbahaya, diwajarkan dengan frasa mengelirukan seperti ‘evolusi adalah sains’. Pendoktrinan terlalu kukuh sehinggakan mereka yang menolak evolusi diumpamakan menolak kemajuan sains. Berhadapan dengan dakwaan para materialis dan evolusionis ini, satu-satunya solusi yang terbaik ialah memaklumkan akan hakikat pembatalan ideologi yang merbahaya ini. Hal ini dapat direalisasikan melalui penerbitan buku-buku dan pelbagai instrumen media dan komunikasi yang membincangkan ancaman yang diakibatkan oleh teori evolusi dan falsafah materialisme.
Musuh terakhir yang diisyaratkan oleh Said Nurisi adalah perbalahan atau pun perselisihan, yang merupakan antara ancaman besar hari ini di mana kontroversi yang melibatkan pelbagai isu di kalangan manusia. Ketika mereka gagal mencapai persetujuan, isu-isu tersebut akan diperbesarkan menjadi alasan untuk berbalah sesama sendiri. Berhadapan dengan kemudaratan yang diakibatkan oleh konflik dan kehuru-haraan, kebenaran harus dinyatakan dengan jelas di bawah bukti saintifik. Berkenaan asal usul hidupan pula, akumulatif fakta yang ada harus dijelaskan dengan nyata dan terang. Hal ini dapat membuatkan para materialis dan evolusionis berpaling kepada fitrah dan kembali ke pangkal jalan.
Ketika menjalankan tindakan terhadap seluruh ancaman ini, Badi’uzzaman juga menekankan beberapa faktor yang berpotensi menyumbangkan ke aras kejayaan. Yang pertama ialah kebijaksanaan, satu konsep yang memainkan peranan penting di dalam perjuangan menentang kekufuran. Dalam konteks ini, perkataan ‘kebijaksanaan’ mempunyai konotasi berbeza. Menyebarluaskan kebenaran tentang ciptaan Allah adalah salah satu daripada isu yang penting dan dengan menggunakan kelancaran dan penggunana bahasa yang mudah disertai dengan ilustrasi yang mempesonakan di dalam penerbitan-penerbitan adalah suatu keperluan sekaligus membentangkan keindahan perasaan yang dialami oleh para mukmin. Hikmah di dalam penerangan lisan juga adalah sebuah manifestasi kesenian. Pengucapan, ilustrasi contoh dan penggunaan bahasa yang efektif adalah penting untuk mempengaruhi kumpulan sasaran. Bertentangan dengan evolusionis, yang menggunakan pendekatan terminologi yang rumit dan mengelirukan ketika menerangkan teori evolusi yang kononnya saintifik, bahasa yang ringkas dan mudah membuatkan orang ramai memahami pelbagai isu penciptaan dengan lebih mudah yang secara langsung berkait dengan akidah keimanan. Pengucapan yang mahir yang disebutkan oleh Badi’uzzaman adalahs ifat Allah yang dianugerahkan kepada para hamba-Nya yang ikhlas, dan keikhlasan serta kejujuran mereka terpamer di dalam gaya mereka berhujah. Mengenal pasti subjek yang harus diterangkan kepada manusia bergantung kepada tahap pemahaman dan kaedah yang digunakan untuk menerangkan kepada mereka semuanya adalah kelebihan bagi mereka yang berakal.
Kaedah terakhir yang disarankan oleh Badi’uzzaman ialah kesatuan jema’ah yang bertanggungjawab untuk mengekalkan keamanan dan keselamatan di tanah air. Kesatuan jema’ah adalah sangat penting untuk menentang mereka yang menafikan kewujudan Allah dan yang berjuang meruntuhkan kemuliaan nilai-nilai moral. Usaha yang dilakukan untuk memusnahkan kekuatan jema’ah ini akan mengendurkan kesannya. Pelbagai alasan negatif seperti, ‘Darwinisme kini tidak berpengaruh lagi’ atau ‘masih perlukan kita menolak Darwinisme?’, sebenarnya lebih membahayakan perjuangan menentang kekufuran di mana akibatnya akan mencipta perbalahan.
Para mukmin yang ikhlas memikirkan kebaikan negara dan rakyatnya harus terus berjuang sehingga fahaman Darwinisme benar-benar lenyap dari muka bumi. Walaupun evolusionis tetap mempertahankan hujah dan argumen mereka dalam keadaan terhimpit, namun di sana masih banyak hal yang boleh dilakukan. Di saat keganasan, anarkisme dan kebencian terhadap agama telah lenyap, barulah dapat kita simpulkan bahawa sistem kekufuran ini telah musnah dari muka bumi. Di dalam al-Qur’an, Allah memerintahkan para mukminin berjihad menentang kekufuran: ‘Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah, dan supaya agama itu semata-mata bagi Allah. Surah al-Anfal: 39
KEMUSNAHAN TAMADUN TANPA PEGANGAN AGAMA
Sebahagian besar manusia terkeliru ketika menganggap bahawa agama hanyalah sekadar suatu amalan kebudayaan. Akan tetapi, selain daripada ritual Islam, agama ini juga meliputi segala asepk kehidupan dan menganugerahkan pegangan dan etika yang bercirikan ajaran Al-Qur’an. Seorang individu mukmin yang benar-benar ikhlas istiqamah terhadap agamanya pasti pasti akan berusaha mendapatkan kerahmatan, keberkatan dan keampunan dari Allah s.w.t. dengan hidup berpandukan nilai etika al-Qur’an yang baik sepanjang hidup. Dia tidak sekali-kali berpaling daripada amalan kebaikan, keikhlasan, kesederhanaan, berbuat baik dan saling sayang menyayangi. Ringkasnya, setiap nilai etik ayang mulia ini adalah faktor yang menyebabkan sesebuah masyarakat yang mempraktikkan nilai mulia al-Qur’an akan menikmati manfaat yang besar.
Sebagai contoh, sebuah keluarga yang hidup dengan berpandukan kemuliaan akhlak al-Qur’an tidak akan menghadapi masalah dan kegusaran seperti yang menimpa institusi kekeluargaan di dalam masyarakat jahiliyyah moden. Golongan remaja hari ini sering memberontak menentang ibu-bapa mereka, akibat gagal dalam membezakan yang baik dan buruk dan sering pula terlibat dalam tindakan agresif. Pada masa yang sama, masih terdapat segelintir ibu-bapa yang tidak merasa kepentingan mentarbiyah anak-anak tentang nilai baik dan buruk dan yang tidak memberi pendidikan yang sesuau sebagai suatu kepentingan yang utama. Bahkan ibu-bapa ini sendiri juga tidak mempunyai hubungan yang baik dengan oranglain. Apa yang sering terjadi ialah pertelingkahan dan dendam kesumat berbanding kasih sayang, hormat menghormati dan belas kasihan.
Tetapi di dalam rumah di mana setiap ahli keluarganya patuh dan tunduk kepada ajaran Qur’an, anak-anak akan mematuhi ibu-bapa mereka jauh sekali dari mengherdik kerana Allah melarang mereka daripada mengeluarkan kata-kata yang kesat terhadap ibu-bapa.
Surah al-Isra: 23
Mereka dididik sejak dari kecil untuk mengikuti fitrahnya, membezakan yang baik dan buruk dan menjauhi sebarang amalan keji. Ibu-bapa berusaha mendidik anak mereka selaras dengan perintah agama dengan menanamkan suatu kesedaran dan tanggungjawab terhadap agama dan negara. Ibu-bapa seumpama ini akan menjadi cotnoh ikutan bagi anak-anak mereka. Ringkasnya, akan tersemailah perasaan kasih sayang, hormat menghormati dan perpaduan di dalam kekeluargaan.
Keluarga adalah unit asas bagi sesebuah negara: ikatan kekeluargaan yang kukuh adalah berpotensi memperteguhkan negara. Sebaliknya, kekeluargaan dengan ikatan yang rapuh dan tandus daripada nilai spiritual, kasih sayang dan hormat menghormati serta kesetiaan adalah merupakan ancaman kepada kemakmuran negara. Khususnya di dalam negara-negara di mana golongan tertentu berusaha untuk menubuhkan sebuah masyarakat yang menolak ajaran agama, akibatnya proses pemusnahan spiritual menjadi lebih pantas dan keruntuhan moral menjadi jelas di dalam seluruh strata masyarakat. Di dalam masyarakat seperti ini, pembinaan hubungan sosial adalah lebih cenderung berteraskan keuntungan material.
Apabila ukuran material menjadi kepentingan untuk suatu hubungan bahkan terhadap ahli keluarga terdekat untuk nilai keroahanian seperti kasih sayang, persaudaraan, pengorbanan dan kesetiaan, maka kewujudan sebuah tamaduan yang teguh adalah amat mustahil. Ini adalah keana kemerosotan bukan sahaja melanda institusi kekeluargaan tetapi juga merebak ke seluruh pelusuk masyarakat. Di dalam sekolah dan di dalam hubungan persahabatan, perasaan seperti hasad dengki, penipuan dan fitnah akan mengggantikan nilai belas kasihan dan rasa hormat. Dalam dunia perniagaan juga, kita diperlihatkan dengan sejumlah personaliti yang melabur demi kepentingan individu. Amalan seperti mempertahankan hak orang lain, menegakkan keadilan atau menunjukkan rasa belas kasihan dan membantu golongan yang lemah amat jarang ditemui. Ringkasnya, hidup di dalam ketenangan dan keamanan menjadi mustahil bagi ahli masyarakat tersebut.
Ini adalah sebab mengapa tanggungjawab untuk menumpaskan agama yang batil dari sudut ideologi tergalas di bahu golongan yang beriman. Selain daripada keruntuhan institusi kekeluargaan dan kebejatan hubungan sosial, kesan lain akibat daripada sistem kepercayaan ini di atas muka bumi juga semakin bertambah jelas. Setiap individu harus turut berusaha berjihad menentang sistem agama yang batil ini sekiranya merasa bertanggungjawab terhadap negara dan individu rakyatnya.
Keganasan: Sebuah Produk Darwinisme
Di setiap ceruk dunia hari ini, peristiwa keganasan, pembunuhan dan penyembelihan sangat berleluasa. Manusia yang tidak berdosa dibunuh dengan kejam dan untuk suatu sebab yang kecil negara-negara tertentu sanggup terlibat di dalam peperangan yang berpotensi mencetuskan pertumapahan darah. Walaupun pelbagai logikdan rasional yang dijadikan alasan untuk setiap peristiwa yang terjadi di negara-negara tertentu dengan budaya, sejarah dan struktur sosial yang berbeza, namun penelitian yang lebih terperinci mendedahkan bahawa seluruh negara ini menderita akibat kehancuran nilai spiritual yang disebarluaskan oleh kepercayaan batil di dalam strata sosial masyarakat.
Satu daripada aspek umum ideologi yang kufur ini ialah tarbiyah mengenai fahaman Darwinisme yang diajarkan kepada para pengikut mereka. Seperti yang jelas, teori evolusi menafikan kewujudan suatu zat Pencipta yang kepada-Nya menjadi tempat pertanggungjawaban setiap umat manusia. Individu yang telah diindoktrinasikan dengan pandangan Darwin mempercayai kebebasan mutlak jasmani diri yang akhirnya mendorong melakukan pelabgai bentuk perbuatan tidak bermorak dan bertanggungjawab.
Beberapa penekanan teori evolusi yang turut mengakibatkan kehuru-haraan ialah usaha memperlihatkan manusia sebagai sejenis spesis binatang yang berkembang maju. Akibatnya, mereka yang beriman kepada Darwinisme melihat bahawa perbuatan membunuh manusia adalah semudah seperti membunuh haiwan.
Di sini, kepentingan memaklumkan orang ramai mengenai Darwinisme dan menyedarikan mereka mengenai wajah sebenar ideologi ini sebagai suatu pembohongan adalah menjadi tugas fardhu kifayah. Mereka yang menganggap Darwinisme sebagai sebuah kebenaran saintifik dan yang begitu janggal terhadap nilai keagamaan tanpa sebarang rasa keimanan amat cenderung untuk menerima doktrin para pengikut Darwinisme yang mampu mengubah mereka menjadi pembunuh manusia lain yang tidak berdosa atau memberontak mengadakan penentangan walaupun mereka dahulunya adalah masyarakat yang aman damai. Kerana sanjungan yang membuak-buak terhadap Stalin, Lenin, Mao (pemimpin pembunuhan besar-besaran) dan teori Darwin (yang melihat manusia sebagai binatang), perspektif kemanusiaan mereka terhadap nilai kasih sayang, keagamaan, kenegaraan dan rakyat jelata sekaligus lenyap hapus. Di dalam Qur’an:
Dan ketika ia berpaling berjalan di bumi untuk mengadakan kerosakan padanya, dan merosak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan. Dan apabila dikatakan kepadanya: Bertakwalah kepada Allah, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah neraka jahannam. Dan sungguh neraka jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. Surah al-Baqarah: 205-206
Orang-orang yang merosakkan janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerosakan di bumi, orang-orang itulah yang memperolehi kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (jahannam). Surah ar-Ra’d: 25
Bagaimanapun, apabila keterangan yang jelas akan kewujudan dan keagungan Allah dipersembahkan kepada manusia, adalah amat mustahil bagi manusia untuk terjerat dengan ideologi yang berlandaskan permusuhan, peperangan dan huru-hara untuk dijadikan panduan hidup. Individu yang beriman kepada Allah dan menyedari akan pertanggungjawab bagi setiap perbuatannya di hadapan Allah tidak sanggup untuk memudaratkan negara atau rakyatnya. Orang yang beriman juga sangat prihatin daripada terlibat kepada sebarang perlakuan yang menjadi kemurkaan-Nya dan yang mengakibatkannya menanggung azab neraka kelak. Sebaliknya, mereka yang mengingkari Allah dan Hari Perhitungan yang percaya bahawa mereka tidak bertanggungjawab untuk sebarang perlakuannya, pasti akan tanpa ragu-ragu melakukan apa bentuk kejahatan sekalipun dengan sewenang-wenangnya. Badi’uzzaman Said Nursi menerangkan bagimana ideologi yang kufur ini khususnya komunisme merangsang kepada atmosfera huru-hara:
Ya! Sosialisme tumbuh sewaktu revolusi Perancis dari benih libertarianisme. Kemudian, setelah sosialisme memusnahkan beberapa perkara konsep suci tertentu, idea yang disemainya bertukar menjadi bolshevisme. Dan kerana bolshevisme menghancurkan bahkan lebih banyak nilai mulia dan nilai kemanusiaan dan juga keluhuran hati manusia, hal yang pasti ialah benih yang ditaburnya akan menghasilkan kehuru-haraan, yang tidak mengenal batas dan mengenal penghormatan. Kerana sekiranya kehormatan dan belas kasihan dicabut dari hati manusia, mereka akan menjadi bertambah buas dan tidak lagi dapat ditadbir melalui politik.
Seperkara yang harus difikirkan, seperti mana halnya golongan yang merangsang kebangkitan memberontak negara dan rakyat mereka. Golongan yang tetap berpeluk tubuh ketika berhadapan dengan tindakan memecah-belahkan ini tanpa menyumbangkan sesuatu untuk negara mereka (ketika mereka berkuasa untuk melakukannya), sebenarnya tanpa disedari telah pun memiliki pandangan materialis. Matlamat mereka adalah untuk meraih keuntungan yan gbesar. Mereka tidak langsung berasa terganggu selama mana kepentingan mereka tidak tergugat: mereka adalah orang yang tandus daripada sebarang nilai persaudaraan, pengorbanan dan kebenaran serta matlamat hidup yang mulia. Mereka mengambil segala manfaat yang disediakan oleh negara dan hanya berjuang semata-mata untuk memenuhi keinginan mereka. Allah berfirman mengenai hal ini di dalam ayat berikut:
Dan Allah membuat perumpamaan dengan dua orang lelaki yang seorang bisu tidak dapat berbuat sesuatu apapun dan menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan berada di atas jalan yang lurus? Surah an-Nahl: 76
Seperti yang diterangkan di dalam ayat di atas, mereka yang berada di jalan yang benar akan merasakan takwa terhadap Allah dan mementingkan nilai kerohanian dan bersemangat waja untuk berkhidmat kepada bangsa dan negara pasti akan membawa kemurnian dan kebaikan di dalam masyarakat tersebut. Ini adalah sebab mengapa adalah amat penting bagi seluruh umat manusia mempelajari dan memahami agama sebenar yang hakiki. Sepotong ayat menjelaskan golongan yang bertakwa:
(Iaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi nescaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar: dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. Surah al-Hajj: 41
SERUAN PEMIMPIN AGAMA BATIL MENUJU KE LEMBAH NERAKA
Di dalam Qur’an, Allah menjelaskan bahawa di sana terdapat para pemimpin kejam dan zalim yang menyeru pengikutnya menjauhi ajaran agama Allah sekaligus memerintahkan mereka untuk mengingkari-Nya. Allah menerangkan mereka di dalam sepotong ayat sebagai ‘pemimpin yang membawa ke neraka’ (Surah al-Qasas: 41). Karakter pemimpin ini begitu jelas di dalam sifat Fir’aun seperti yang diceritakan di dalam kisah Nabi Musa a.s, namun karakter yang sama juga pernah wujud di dalam lembaran sejarah hari ini. Dengan menggunakan kaedah yang sama, kumpulan pemimpin ini mengerahkan tindakan kezaliman dan tidak berperikemanusiaan ke atas rakyat jelata, menjauhkan mereka daripada landasan agama yang sebenar dan mengheret mereka ke lembah kemusnahan di dunia dan hari kemudian.
Di zaman kita pemimpin seperti Adolf Hitler (dikenali kerana kekejaman dan pertumpahan darah yang diakibatkan olehnya di Eropah), Vladimir Lenin, Joseph Stalin dan Mao Tse Tung, dan para mentor mereka seperti Karl Marx dan Friedrich Engels juga tidak jauh berbeza jika dibandingkan dengan Fir’aun. Charles Darwin menyuburkan kekejaman mereka dan menyokong golongan ateis ini melalui teori evolusi yang diasaskannya.
Seperti yang dinyatakan di dalam Qur’an, para utusan dan wali Allah, sering berhadapan dengan pemimpin zalim seumpama ini ketika menyampaikan risalah Allah. Oleh sebab itu, mereka sering memulakan argumen risalah wahyu ini kepada golongan pemerintah terlebih dahulu berbanding rakyat jelata kerana dengan menawan pemerintah bermaksud memenangi hati rakyat yang berada di bawah kekuasaan mereka. Para utusan memulakan dakwa mereka kepada para pemimpin dan mengutarakan hakikat risalah Tuhan mereka. Al-Qur’an menjelaskan bahawa Nabi Musa a.s diutuskan kepada Fir’aun:
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan tanda-tanda (kekuasaan) Kami dan mukjizat yang nyata, kepada Fir’aun dan pemimpin-pemimpin kaumnya tetapi mereka mengikut perintah Fir’aun padahal sekali-kali perintah Fir’aun bukanlah yang benar. Surah Hud: 96-97
Kemudian Kami utus Musa sesudah rasul-rasul itu dengan membawa ayat-ayat Kami kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu. Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan. Surah Al-A’raf: 103
Di zaman kita hari ini, komunisme dan anarkisme adalah merupakan barisah hadapan golongan musyrikin yang paling terkemuka. Keduanya adalah berasaskan fahaman materialisme dan teori evolusi. Pengasas ideologi ini merupakan pemimpin utama penentang agama yangmutakhir. Walaupun tidak lagi menerajui tampuk kekuasaan tetapi pengaruhnya masih lagi tersebar, bahkan tetap dipertahankan dan diperkukuhkan oleh golongan tertentu. Untuk berhadapan dengan gerakan ini adalah sangat penting untuk mendedahkan wajah sebenar dan dengan gerakan ini adalah sangat penting untuk mendedahkan wajah sebenar dan matlamat utama para pemimpin tersebut. Untuk mendapat pemahaman yang lebih baik, adalah suatu yang amat berguna untuk menyelidiki sifat dan sistem pelaksanaan kerja mereka dalam setiap tindakan yang diamalkan oleh pemimpin yang menyeru ke lembah neraka ini:
1) Mereka adalah musuh agama yang menghalang rakyatnya daripada keimanan dengan menggunakan penindasan
Motif terbesar para pemimpin seperti Lenin, Stalin, Trotsky dan Mao, yang menjulang materialisme dan mengaplikasikannya ke dalam sistem politik adalah pemusnahan agama besar-besaran. Karl Marx, mentor komunisme, menunjukkan pandangan materialis terhadap agama:
Ia (agama) adalah candu bagi rakyat. Pembasmian agama sebagai suatu kegembiraan yang diinginkan oleh rakyat adalah suatu tuntutan bagi kegembiraan yang sebenar.
Dalam sebuah esei bertajuk The Attitude of The Workers’ Party to Religion, Lenin menjelaskan pendirian komunisme:
Marxisme adalah materialisme. Seperti mana halnya, ia adalah permusuhan yang keras terhadap agama seperti mana materialisme para ensiklopedis abad ke lapan belas materialisme Feuerbach. Ini adalah suatu yang pasti. Tetapi dialektik materialisme Marx dan Engels melangkah lebih jauh berbanding Ensiklopedis dan Feuerbach, kerana ia mengaplikasi falsafah materialis ke dalam domain sejarah, kepada domain sains sosial. Kita harus memerangi agama: iaitu ABC bagi semua materialisme dan kemuncaknya Marxisme. Tetapi Marxisme bukanlah sebuah materialisme yang berhenti pada ABC. Marxisme pergi lebih jauh. Ia berkata: Kita mesti mengetahui bagaimana memerangi agama, dan untuk melakukannya kita harus menerangkan sumber keimanan dan agama di kalangan rakyat melalui pendekatan materialis.
Kebencian terhadap agama, seperti yang jelas terlihat di dalam kenyataan di atas, disemarakkan oleh Marx dan menjadi suatu sifat umum bagi semua rejim komunis. Walaupun Marx tidak berkesempatan melihat impiannya, namun kejayaan Lenin amat jelas ketika menyebarkan kekejaman dan berjaya menubuhkan sebuah rejim yang berlandaskan kepada ateisme. Dan rejim zalim Stalin melaksanakannya dengan begitu ketat.
Untuk merealisasikan matlamat ini sewaktu menjalankan revolusi komunis di Russia, China dan negara lain, setiap masjid dan rumah ibadat dimusnahkan dan rakyat yang menentang revolusi komunis dibunuh dengan kejam. Joseph Stalin telah melaksanakan tindakan pembunuhan yang paling tragik di dalam sejarah dunia, memerintah pembunuhan dijalankan ke atas lebih daripada 20 juta manusia. Pol Pot, seorang diktator komunis di Kemboja yang bertanggungjawab ke atas penyembelilhan tiga juta manusia daripada seluruh populasi 9 juta rakyatnya juga adalah dari kalangan pemimpin agama batil yang terkenal. Dan Enver Hoxha, pemimpin komunis Albania, memerintahkan hukuman berat bagi setiap bentuk kepercayaan beragama dan ibadat serta mengisytiharkan ‘telah mengasaskan negara ateis yang pertama di dunia’.
Semua ‘Fir’aun abad ke 20’ ini, tanpa sebarang perasaan kasih sayang dan belas kasihan, mengamalkan permusuhan terhadap agama seperti mana yang telah dilakukano leh Fir’aun zaman silam dengan menghukum dan menyiksa golongna yang berpegang dengan ajaran agama. Keganasannya digambarkan di dalam banyak ayat al-Qur’an sebagai berikut:
Tetapi tidak ada yang beirman keapda Musa melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya dalam keadan takut bahawa Fir’aun dan pembesar-pembesar kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir’aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas. Surah Yunus: 83
Berkata Fir’aun: ‘Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpin kamu yang mengajarkan kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekali dengan bersilang secara bertimbal balik dan sesungguuhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya. Surah Taha: 71
Fir’aun berkata: Apakah kamu sekalian beriman kepada Musa sbelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia benar-benar pemimpin yang mengajarkan sihir kepadamu maka kamu nanti pasti benar-benar akan mengetahui (akibat perbuatanmu): sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilangan dan aku akan menyalib kamu semuanya. Surah As-Syu’ara: 49
2) Golongan Musyrikin Menganut Agama Nenek Moyang
Amat sukar dipercayai di mana para penzalim yang melakukan pembunuhan tidak berperikemanusiaan ke atas beratus ribu manusia termasuk wanita dan kanak-kanak juga diikuti oleh ramai tokoh yang tidak sahaja terhad di zaman kita. Di dalam al-Qur’an, terdapat banyak keterangan mengenai masyarakat yang enggan melepaskan kepercayaan sesat yang mereka anggap sebagai ‘agama nenek moyang’. Setiap kali mereka diseru untuk mengambil agama Allah sebagai pegangan, mereka berkata bahawa mereka tidak dapat meninggalkan perbuatan tersebut kerana telah diwariskan oleh nenek moyang mereka. Sepotong ayat menyatakan:
Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah, mereka menjawab: tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apa pun dan tidak mendapat petunjuk? Dan perumpamaan orang-orang kafir adalah seperti pengembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka mereka tidak mengerti. Surah Al-Baqarah: 170-171
Situasi musyrikin hari ini yang menolak sebarang bentuk nilai keagamaan dan moral adalah sangat selari seperti yang digambarkan di dalam ayat di atas. Agama yang mereka anuti, pada hakikatnya adalah agama yang batil. Sesungguhnya, para pemberontak yang menentang agama yang hak hari ini diperintahkan untuk mengekalkan pegangan disebabkan para pemimpin terdahulu seperti Darwin, Lenin, Stalin dan Mao turut mengabdikan kepercayaan mereka dan yang juga menyembah pelbagai tuhan mereka. Pemimpin mereka percaya bahawa kewujudan makhluk hidupan adalah berasal daripada material yang tidak bernyawa dan bahawa hidupan berevolusi dari satu bentuk menjadi bentuk lain sebagai suatu hasil mutasi, dan bahawa di sana tidak wujud Pencipta yang mencipta mereka. Sebenarnya, para penganjur konsep ini hanya berpegang kepada kepercayaan khurafat: iaitu kebetulan dan alam semulajadi merupakan kuasa pencipta, dan bahawa dua kuasa ini (yang tidak memiliki sebarang kebijaksanaan dan kesedaran) berkuasa memutuskan ketentuan yang bijaksana dan lagi, materi adalah satu-satunya yang mutlak dan abadi.
Hari ini, betapa ramai manusia yang tetap berpegang kepada ‘agama’ nenek moyang mereka secara membabi buta mempercayai falasi-falasi ini yang berulangkali dibatalkan oleh bukti saintifik. Bahkan, tanpa memahami sebarang pengertian sebenar berkenaan dakwaan tersebut, mereka berkeras degil mempertahankannya di dalam pelbagai instrumen seperti majalah, surat-khabar dan persidangna hanya semata-mata dorongan untuk mempertahankan bentuk aslinya seperti mana yang diperturunkan daripada pemimpin mereka terdahulu. Allah menarik perhatian mengenai sifat kekufuran yang diperturunkan dari generasi ke generasi lain:
Demikianlah tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: ‘Ia itu adalah seorang tukang sihir atau orang gila’. Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. Surah az-Dzariyat: 52-53
Bahkan apabila mereka didedahkan dengan sejumlah teks rujukan ilmiah yang jelas dan dibentangkan dengan pelbagai penjelasan berhubung dengan kekeliruan sistem kepercayaan mereka, mereka tetap tidak akan meninggalkannya. Akibat terlalu terikat dengan ‘agama’ nenek moyang, mereka kehilangan seluruh fungsi kewarasan, akal fikiran dan kebijaksanaan bahkan gagal sama sekali untuk melihat hakikat jelas yang begitu mudah walaupun bagi seorang anak kecil. Kehilangan segala deria kesedaran untuk melihat dan memahami ini juga turut diterangkan dalam al-Qur’an sebagai berikut:
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu umpama binatang ternakan bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. Surah al-A’raf: 179
Mengilustrasikan Penipuan Pemimpin Ateis
Untuk melepaskan para materialis dan evolusionis daripada cengkaman kejumudan dan ketaatan yang taksub tehadap ‘agama nenek moyang mereka’, sekaligus merencatkan perkembangan pemahaman yang menyeleweng ini ke atas umat manusia, seharusnya identiti sebenar para pemimpin dan seluruh matlamat mereka didedahkan kepada umum. Cara yang paling efektif untuk mencapai hal ini ialah menyediakan semua bukti serta keterangan dan membuktikan bahawa idea yang dikemukakan oleh para pemimpin ini pada hakikatnya adalah tandus daripada sebarang verifikasi saintifik apatah lagi nilai rasional dan logik akal. Seperkara yang harus dijelaskan juga ialah bahawa para pemimpin yang mereka anggap sebagai role model pada hakikatnya bukanlah ahli ideologi yang ideal atau pun pejuang tulin seperti mana yang mereka fikirkan, sebenarnya mereka telah mencampur-adukkan kejahatan di dalam kehidupan dan dengan itu adalah amat tidak wajar bagi individu yang benar-benar waras untuk menjulang fahaman mereka ini.
Para pengikut ‘pemimpin yang menyeru ke lembah neraka’ tidak harus melupakan satu fakta penting: Lenin, Stalin Darwin, Mao, Engels dan yang lainnya telah pun menemui hakikat kebenaran yang nyata ketika berhadapan dengan malaikat maut. Mereka telah menyaksikan bahawa Allah s.w.t adalah pemilik mutlak segala kekuasaan dan pada hakikatnya manusia tidak terlepas daripada pertanggungjawaban, dan bahawa Allah s.w.t jualah yang mencipta segalanya daripada tiada, dan bahawa kematian bukanlah suatu kemusnahan sebaliknya adalah permulaan suatu perhitungan yang dahsyat dan bukuman berat untuk selama-lamanya, dan yang pasti mereka tidak akan terlepas daripada apa yang telah mereka kerjakan.
Mereka yang tetap mempertahankan para pemimpin yang disebut di atas mungkin tidak akan menerima hakikat ini. Akan tetapi, di saat malaikat maut datang mencabut nyawanya, menghina dan menyiksa, mereka pasti akan menyedari hakikat sebenar seperti mana yang telah dialami oleh Fir’aun dan para pemimpin mereka. Bagaimanapun, mereka sudah terlalu lewat di mana segala rayuan untuk kembali ke dunia dan memohon ampun dan berjanji berbuat baik tidak berguna lagi. Kelak di sana nanti, mereka akan mengutuk pemimpin yang mengheret mereka ke lembah api neraka bahkan memohon azab yang pedih untuk mereka. Akibat lalai terhadap dakwah para utusan Allah, mereka akan menanggung azab yang tidak terbayangkan. Di dalam Qur’an, Allah menyatakan azab yang ditanggung kerana pegangan mereka terhadap agama yang batil:
Dan orang-orang kafir berkata: ‘Kami sekali-kali tidak akan beriman keapda al-Qur’an ini dan tidak kepada kitab yang sebelumnya’. Dan kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka menghadapkan perkataan kepada sebahagian lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: ‘Kalaulah tidak kerana kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman’. Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah: “Kamikah yang telah menghalangi k amu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? Sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa’. Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata keapda orang-orang yang menyombongkan diri: ‘Sebenarnya tipu daya di waktu malam dan siang, ketika kamu menyeru kami supaya kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya’. Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan Kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan. Surah Saba: 31-33
(Dikatakan kepada mereka): ‘Ini adalah suatu rombongan yang masuk berdesak-desak bersama kamu (ke neraka)’. Mereka berkata: ‘Tiadalah ucapan selamat datang kepada mereka kerana sesungguhnya mereka akan masuk neraka’. Pengikut mereka menjawab: ‘Sebenarnya kamulah. Tiada ucapan selamat datang bagimu, kerana kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab, maka amat buruklah jahannam itu seabgai tempat menetap’. Dan berkata: ‘Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina). Mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami! Barang siapa yang menjerumuskan kami ke dalam azab ini maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka’. apakah kami dahulu menjadikan mereka olok-olokan, ataukah kerana mata kami tidak melihat mereka?’. Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (iaitu) pertengkaran penghuni neraka. Surah Sad: 59-64
Kami adakan untuk mereka beberapa teman lalu teman itu menghiaskan kepada mereka apa-apa yang di hadapan mereka dan yang di belakang mereka dan tetaplah perkataan bagi mereka bersama umat yang lain yang telah lalu sebelum mereka di antara jin dan manusia. Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang rugi. Surah Fussilat: 25-29
Allah memberi khabar gembira kepada para mukminin yang beriman kepada-Nya dan mengabdikan diri mereka kepada ajaran Islam dengan hidup di bawah sinaran cahaya al-Qur’an:
Sesungguhnya orang yang berkata: Tuhan kami ialah Allah kemudian mereka berlaku adil nescaya turunlah kepada mereka malaikat, (katanya): Janganlah kamu takut dan janganlah kamu berduka-cita dan bergembiralah kamu dengan syurga yang telah dijanjikan kepadamu. Kamilah wali kamu pada hidup di dunia ini dan di akhirat dan untuk di sana apa-apa yang diingini oleh nafsumu dan untuk di sana apa-apa yang kamu minta. Sebagai rezekimu dari yang maha Pengampun lagi Pengasih. Siapakah yang terlebih baik perkataannya dari orang yang menyeru kepada Allah dan beramal soleh dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang muslim’. Surah Fussilat: 30-33
Konklusi
Setiap individu sentiasa terdedah kepada risiko terjerumus ke lembah kebatilan malah dengan berani menunjukkan pertentangan terhadap agama yang hak. Namun begitu, sekiranya mereka memikirkan dengan ikhlas dan berdasarkan naluri fitrah, mereka pasti akan melihat keindahan ajaran agama yang sebenar, iaitu Agama Islam yang Hak, jelas dan mudah difahami. Di saat perasaan keinsafan menyelubungi sanubarinya, harapannya yang mutlak kini ialah keampunan dan rahmat daripada Allah s.w.t. Seperkara yang harus diingat bahawa tidak ada seorang pemimpin agama batil yang mampu meminta syafaat keampunan di hadapan Allah kelak, dan tidak ada seorang pun yang mampu membantu orang lain. Satu-satunya penyelamat, penolong dan pelindung adalah Allah, Tuhan sekalin alam. Ucapan para mukminin yang benar-benar memahami hakikat ini dijelaskan di dalam Qur’an:
Kamu menyeruku supaya kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidak ku ketahui padahal aku menyeru kamu (beriman) kepada yang maha perkasa lagi maha pengampun? Sudah pasti bahawa apa yang kamu seru supaya aku (beriman) kepadanya tidak dapat memperkenankan seruan apa pun baik di dunia mahu pun di akhirat. Dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas itulah penghuni neraka. Surah Al-Mukmin: 42-43
Langganan:
Postingan (Atom)



