Kamis, 02 Desember 2010

KEARIFAN SEJATI DATANG DARI KEIMANAN

“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al Maidah, 5: 15-16)

Selanjutnya dalam buku ini, kita akan mengkaji dampak romantisisme dalam kehidupan kita sehari-hari. Tetapi sebelum kita mendalami topik ini, perlu dijelaskan secara terperinci makna "kearifan" yang sering disebutkan dalam buku ini.
Perbedaan penting antara orang yang arif dengan orang yang cerdas sering tidak dipahami. Ini merupakan kesalahan besar. Kata "kecerdasan" umumnya digunakan dalam masyarakat untuk menunjukkan kualitas ketajaman mental saja, dan ini sangat berbeda dengan kearifan.
Kearifan adalah kualitas orang beriman yang memiliki kemampuan untuk mengenali tanda-tanda samar dari Allah dalam segala sesuatu yang diciptakan-Nya, yang membuat dia memahami dunia sekitarnya. Tetapi, upaya apa pun untuk memikirkan hal-hal ini, yang hanya mengandalkan kemampuan otak untuk memperhitungkan sebab dan akibat, akan berujung pada persepsi realitas yang sempit dan mekanistik. Kecerdasan adalah kualitas orang beriman yang mempunyai keimanan teguh kepada Allah, dan yang menjalani kehidupannya berdasarkan ajaran ayat-ayat Al Quran. Kecerdasan adalah karakteristik fisik yang dimiliki semua individu dalam pelbagai tingkatan, sedangkan kearifan adalah kualitas yang hanya dimiliki oleh orang-orang beriman. Mereka yang tidak mempunyai keimanan berarti tidak memiliki "kebajikan" dari kearifan.
Kearifan memungkinkan seorang beriman mengerahkan kemampuan mental, penilaian, dan logika, yang berarti memanfaatkan kebajikannya. Seseorang tanpa kearifan, setinggi apa pun kecerdasan-nya, pada satu saat akan tersesat ke dalam cara berpikir yang salah atau pengambilan keputusan yang buruk. Jika kita mencermati para filosof yang tidak beriman sepanjang sejarah, kita akan menyadari bahwa mereka menyatakan pandangan yang berbeda dan bahkan terkadang saling bertolak belakang untuk permasalahan yang sama. Meskipun mereka adalah orang-orang dengan kecerdasan tinggi, mereka tidak beriman, dan karena tidak beriman, mereka juga tidak cukup arif sehingga tidak mampu mencapai kebenaran. Bahkan sebagian dari mereka menarik manusia ke dalam kesalahan tak terhitung banyaknya. Kita bisa menemukan beberapa contoh demikian dalam sejarah sekarang ini: Banyak filosof, ideologis dan negarawan, seperti Marx, Engels, Lenin, Trotsky, walaupun mereka sangat cerdas, telah menye-babkan bencana bagi jutaan orang, karena mereka tidak mampu menggunakan pikiran mereka secara efektif. Sebaliknya, kearifan menjamin perdamaian, kesejahteraan, dan kebahagian, dan menunjuk-kan cara untuk mencapai semua itu.
Kecerdasan memungkinkan kita, antara lain, untuk berpikir, mem-bentuk persepsi, memusatkan perhatian, dan melakukan aktivitas praktis. Tetapi, lebih dari semua ini, seorang yang arif juga mempunyai pemahaman mendalam yang tidak bisa diperoleh dengan kecerdasan saja, dan dengan kearifan itu dia bisa membedakan antara kebenaran dan kesalahan. Oleh karena itu, seorang yang arif memiliki wawasan jauh lebih luas dibandingkan seorang yang cerdas.
Sumber kearifan, seperti yang disebutkan sebelumnya, adalah keimanan dan ketakwaan kepada Allah yang tertanam dalam. Mereka yang bertakwa kepada Allah, benar-benar memperhatikan semua perintah dan larangan-Nya, sehingga memiliki wawasan luas sebagai berkah dari Allah. Tetapi, meskipun kebajikan ini mudah diperoleh, hanya sedikit orang yang dianugerahi kearifan. Kondisi ini, yang disampaikan Allah melalui firman-Nya dalam Al Quran, "Kebanyakan mereka tidak menggunakan akalnya". (QS. Al Maidah, 5: 103), timbul dari kenyataan bahwa kebanyakan orang tidak mem-punyai keimanan yang benar, karena tidak menyisakan ruang dalam kehidupannya bagi Al Quran.
Kearifan yang Allah anugerahkan kepada siapa saja yang bertakwa kepada-Nya, dan yang menjalani kehidupannya sesuai tuntunan Al Quran, membuat orang beriman lebih unggul daripada orang tidak beriman dalam banyak hal. Komponen dasar kearifan adalah pengetahuan orang beriman bahwa Allah mengendalikan segalanya sepanjang masa, kesadarannya akan fakta bahwa segala sesuatu dalam setiap detailnya terjadi menurut ketentuan yang telah ditetapkan Allah, dan kesadarannya bahwa dia bersama Allah setiap saat. Kearifan juga memungkinkan seorang beriman untuk menyesuaikan diri dengan mudah dalam kondisi dan situasi yang berubah-ubah.
Ketajaman wawasan dan pemahaman orang-orang beriman, perhatian dan kesadaran mereka, kemampuan analitis mereka yang tinggi, moral yang baik, karakter yang kuat, dan kearifan dalam kata dan perbuatan, semuanya merupakan produk alami kearifan mereka. (untuk informasi yang lebih terperinci lihat buku True Wisdom According to the Quran, oleh Harun Yahya)
Bayangkan jika karakteristik luar biasa yang dimiliki perorangan itu dimiliki oleh masyarakat secara keseluruhan. Pikirkan keuntungan bagi masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang menggunakan akal dalam segala yang mereka ucapkan, dalam setiap tindakan yang mereka ambil, dalam setiap keputusan yang mereka buat, dan dalam setiap masalah yang mereka hadapi; pikirkan lingkungan yang akan tercipta dalam masyarakat yang terbentuk oleh individu-individu arif… Sungguh, kita memerlukan kehadiran orang-orang arif untuk menjamin kenyamanan, kesehatan, keamanan dan ketenangan pikiran kita. Lebih jauh lagi, keberadaan orang-orang arif ini tak tergantikan untuk mencegah kekacauan, kebingungan dan anarki, dan untuk menemukan solusi atas masalah yang timbul. Dengan mempertimbangkan ini, jelaslah bahwa kunci setiap masalah adalah pengenalan kebutuhan yang dilengkapi kearifan.
Tidak diragukan lagi, kearifan adalah kualitas terpenting yang dapat dimiliki seseorang. Dengan kearifan, dia memberikan manfaat kepada orang lain lebih daripada yang lain, karena, dengan moralitas yang ditanamkan oleh keimanan, tidak ada lagi tujuan lebih besar baginya selain untuk memperoleh ridha Allah. Sepanjang hidupnya, orang seperti itu menunjukkan kualitas-kualitas mukmin sejati seperti yang digambarkan dalam Al Quran: dia melindungi mereka yang tertindas, dia peduli kepada tuna wisma, mereka yang kesepian, dan mereka yang membutuhkan, dia merasa bertanggung-jawab atas penerapan hukum yang adil dan tidak akan membiarkan siapa pun kelaparan. Kearifan-Nya membuatnya menerapkan apa yang dia pelajari dari Al Quran dalam kehidupannya, dan mengembangkan rasa tanggung jawab sosial. Kita semua mencari orang seperti itu, yang menggunakan pikirannya untuk mengatasi masalah, menerapkan langkah-langkah yang tepat, dalam memberikan nasihat dan saran, dan yang menunjukkan kearifan dalam perkataan dan tulisannya. Oleh karena itu, terdapat banyak manfaat yang bisa diperoleh dari kata-kata dan perbuatan orang seperti itu.
Setelah kita mengetahui pentingnya kearifan, tidak akan sulit menyadari keseriusan ancaman bahaya yang ditimbulkan oleh sebaliknya. Bahaya ini merupakan ancaman baik bagi individu maupun masyarakat pada umumnya, dan kita akan terbantu dengan mengkaji masalah-masalah yang diakibatkan oleh ketiadaan kearifan.
Salah satu rintangan terbesar menuju kearifan adalah korupsi spiritual yang sudah dibicarakan pada bagian terdahulu buku ini: romantisisme, yang disebut juga sentimentalitas.

Sentimentalitas Umum
Kita sudah mendefinisikan sentimentalitas sebagai perbuatan seseorang yang tidak sesuai dengan kebenaran yang diperoleh dengan kearifan dan akal sehat, tetapi menurutkan emosi. Sentimentalitas merupakan penyakit spiritual laten pada setiap anggota masyarakat ateistik atau pagan, walaupun secara umum cenderung mempengaruhi orang-orang secara berbeda; sebagian orang lebih emosional daripada lainnya. Orang yang tidak tertarik dengan Al Quran, atau tidak menjalani hidup dengan tuntunan agama, tidak mungkin menye-lamatkan diri dari cengkeraman romantisisme. Sentimen-talitas hanya bisa diberantas dengan perbuatan bijaksana, yaitu dengan bertindak menurut ajaran moral Al Quran. Sebab seperti yang sudah dibicarakan tadi, seseorang yang tidak menjalani hidupnya sesuai dengan Al Quran, tidak mungkin dapat menggunakan akalnya dengan efektif.
Meskipun nyata-nyata sebuah penyakit spiritual, sentimentalitas tetap menjadi ukuran umum di dalam masyarakat yang tak acuh untuk menentukan apakah seseorang termasuk "orang baik" atau tidak. Sentimentalitas telah mempengaruhi mayoritas masyarakat yang tidak berpengetahuan, hingga sampai pada tahap bahwa seseorang yang tidak mudah tergerak oleh perasaan romantik segera dianggap tidak berhati dan tidak berperasaan.
Dapatkah sentimentalitas begitu tidak bersalah dan tidak berbahaya seperti anggapan umum? Apabila kita mencermati pertanyaan ini dan menjawabnya secara realistis, kita akan menemu-kan kenyataan bahwa sentimen-talitas menimbulkan suatu dampak menyedihkan. Di bagian awal buku ini, kita telah melihat efek nyata sentimentalitas dalam bidang sosial, tetapi ia juga mempunyai dampak merusak dalam kehidupan sehari-hari. Sentimentalitas menjadi salah satu alasan utama untuk keluhan-keluhan yang disuarakan banyak orang relatif terhadap banyak masalah yang mereka tak mampu temukan solusinya.
Namun, karena solusi atas setiap permasalahan, dan jalan keluar dari setiap kesulitan, sudah disajikan dalam Al-Quran, individu atau masyarakat yang menggunakan Al-Quran sebagai petunjuk, mendapatkan segala manfaat dari kearifan. Dengan kata lain, mereka merasakan manfaat-manfaat kearifan.

“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al Maidah, 5: 15-16)

Sejak kanak-kanak, kita terbiasa melihat orang-orang bisa menangisi apa saja, dari kesewenang-wenangan yang mereka baca di koran, hingga pemandangan orang kelaparan di televisi. Ketika kita melihat mereka mengekspresikan duka atas penderitaan orang lain, kita mengganggap mereka memiliki nurani yang baik, padahal reaksi emosional demikian, jika hanya berkisar pada menumpahkan air mata dan menyalahkan orang lain, tidak ada gunanya. Apa yang tidak ditunjukkan oleh reaksi emosional demikian adalah minat aktif dan terlibat dalam kesejahteraan orang-orang yang menderita. Orang tipe ini merasakan kesenangan dengan menangis dan menyesali penderitaan seseorang, tetapi tidak melakukan apa-apa untuk menyelesaikan masalah. Di bawah sadar, mereka memilih hidup dalam keadaan sentimentalitas yang abstrak. Menariknya lagi, orang seperti itu juga terpuruk dalam pesimisme, keputusasaan, penyesalan, ketidakberdayaan, depresi dan semua perasaan negatif lainnya. Perasaan-perasaan itulah yang dikehendaki setan dalam menyesatkan dunia dengan sentimentalitas.
Masih ada aspek penting lainnya yang perlu diper-timbangkan dalam hal ini: Jika seseorang memberikan saran bahwa alih-alih menumpahkan air mata di depan televisi, sebaiknya mereka bangkit dan melakukan sesuatu, maka saran itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Mereka akan mencoba mengelak dengan membuat alasan, seperti, "Apa lagi yang bisa dilakukan?", "Apa yang bisa aku lakukan seorang diri?"
Orang-orang emosional menambah pesimisme dengan menga-takan bahwa sebuah masalah terlalu kompleks untuk diatasi; dan ini membuat orang lain merasakan keputusasaan yang sama.
Banyak kualitas moral yang baik kehilangan kebajikannya karena terafiliasi dengan sentimentalitas, sampai pada tahapan berbahaya. Misalnya, kasih sayang adalah sentimen moral yang dianjurkan oleh Allah dalam Al Quran, tetapi disalahgunakan oleh orang emosional yang bersimpati kepada penindas, memuji perbuatannya, dan menerima kekejamannya. Sebaliknya, orang arif tidak mungkin bisa melihat pembenaran dalam sikap, perilaku atau pemikiran yang diasosiasikan dengan sentimentalitas. Karena selama temperamen emosional dipupuk di dalam jiwa, maka aspek-aspeknya yang lebih berbahaya bisa muncul kapan saja tergantung pada keadaan dan lingkungan.
Sekarang, penting sekali untuk menunjukkan perbedan antara bersikap sensitif dan empatik dan bersikap emosional. Di dalam Al-Quran, Allah menjelaskan bahwa "sensitif, empatik dan lembut" adalah kualitas yang ditampilkan terbaik pada seorang nabi. Sentimentalitas sama sekali berlawanan denga sikap moral yang dianjurkan dalam Al-Quran. Orang-orang beriman tidak sentimental, tetapi empatik dan penuh kasih sayang. Dengan kata lain, mereka adalah individu-individu yang jernih, sangat arif, yang memiliki kualitas moral sangat kuat. Di dalam Al Quran, Allah berfirman tentang karakter moral Nabi Ibrahim yang baik: "Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah". (QS. Huud,11: 75)
Tidak boleh dilupakan bahwa orang-orang emosional hanya merasa kasihan kepada orang lain; mereka tidak mencoba membantu mereka keluar dari situasi sulit, atau menemukan solusi atas masalah mereka. Namun, seseorang yang memiliki empati yang dikehendaki Allah, akan melakukan apa pun agar dia bisa membantu orang lain menemukan solusi atas masalahnya, dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengeluarkannya dari kesulitan. Ini adalah kasih sayang dan cinta sejati.

Bagaimana Sentimentalitas
Mengaburkan Kearifan?
Setiap orang diciptakan dengan perasaan seperti cinta, kasih sayang, kemurahan hati dan ketakutan. Memiliki semua perasaan itu berarti manusiawi. Apa yang ingin ditekankan di sini adalah, supaya seseorang mempunyai kehidupan spiritual yang sehat dan seimbang, dia perlu menjaga emosi agar tetap terkendali, dan mengarahkannya sesuai dengan keimanan dan kearifannya. Sebagai contoh, cinta sudah diberikan kepada manusia agar perasaan ini ditujukan terutama kepada Allah, yang telah menciptakan kita dari ketiadaan, yang menyediakan segalanya untuk kita, memberi kita berkah, dan yang menjanjikan kita kehidupan abadi yang penuh dengan kebahagiaan. Cinta juga merupakan emosi yang harus ditujukan kepada orang-orang yang mencintai Allah dan dicintai Allah, yaitu orang-orang yang beriman. Seseorang dicintai karena kedekatan-nya dengan Allah, ketakutannya kepada Allah, dan kepeduliannya untuk melindungi hak-hak Allah. Semua bentuk cinta ini ditujukan kepada Allah, dan kepada objek-objek yang mengandung perwujudan sifat-sifat Allah. Bahkan di dalam Al Quran terlarang bagi orang beriman untuk mencintai musuh-musuh Allah dan agama-Nya.
Allah juga memerintahkan orang-orang beriman untuk tidak takut pada apa pun atau siapa pun selain kepada-Nya, karena segala sesuatu dan setiap orang berada dalam kekuasaannya. Selain dari Allah, tidak ada kekuatan atau kekuasaan, karenanya, tidak satu pun layak ditakuti selain dari Allah.
Kita akan mengambil perasaan marah sebagai contoh selanjutnya. Kemarahan merupakan emosi yang membang-kitkan tanggungjawab orang beriman terhadap saudaranya, dan memicunya melakukan tindakan melawan ketidak-adilan, melawan musuh-musuh Allah dan agama, dan melawan penindasan. Namun, ketika orang beriman bertindak karena rasa tanggungjawabnya, tentunya disertai kecerdasan, pertimbangan dan nilai moral yang baik. Orang beriman tidak pernah bertindak tidak adil atau sewenang-wenang, juga tidak berdasarkan dendam, atau seperti yang diperintahkan Al Quran, dia tidak pernah membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan, atau kekejaman dengan kekejaman.
Akan tetapi, seseorang yang bertindak berdasarkan perasaannya dapat mudah menjadi kesal jika ada hal kecil yang tidak berjalan seperti kemauannya, dan jika segalanya tidak terjadi menurut keinginannya, atau jika seseorang tidak melakukan apa yang dikehendakinya, dan bisa meledak dalam kemarahan. Disebabkan oleh kemarahan dalam dirinya, penilaian dan pandangannya bisa tiba-tiba menjadi gelap, dan setiap saat dia dapat melakukan tindakan impulsif.
Seperti yang telah kita lihat, manusia harus mengendali-kan emosi yang telah diciptakan Allah dalam dirinya sesuai dengan kehendak Allah. Dengan kata lain, dia tidak boleh menyimpan dalam dirinya rasa takut, marah, atau segala jenis rasa cinta, yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Jika dia berbuat demikian, dia tidak akan mengikuti jalan yang telah Allah tentukan, tetapi mengikuti jalan yang diarahkan oleh emosinya. Ini tidak lain merupakan kemusyrikan.
Apabila perasaan bawaan dalam diri manusia tidak dituntun dengan kearifan, penyakit sentimentalitas merasukinya dan mulai mengambil alih perilaku, percakapan, perbuatan, pikiran, dan pendekatan mereka pada segalanya secara umum. Jika sudah demikian, maka orang itu sudah jauh dari alam kearifan dan memasuki tirani emosi. Pada orang seperti ini, emosi menghalangi kecerdasan dan mengaburkan pikiran.
Dengan mengabaikan aturan-aturan Al Quran, mereka menyukai secara berlebihan orang yang mereka cintai, mereka bisa sangat takut kepada atasan, pasangan atau orang lain, atau mereka dipenuhi kemarahan. Tentu saja, kita tidak bisa mengharapkan orang dalam keadaan spiritual seperti itu bisa bersikap bijaksana dalam perilakunya, karena dalam diri orang seperti itu kearifan telah digantikan emosi tak terbatas.
Sentimentalitas merampok rasa realitas seseorang. Salah satu tanda yang paling jelas dari pribadi emosional adalah keinginannya untuk menjalani kehidupan di dunia yang terpisah dari realita; dia seperti orang yang hidup di dunia mimpi, hubungannya dengan realita sangat tipis. Dia lebih memilih emosi daripada akal sehat dan logika; dan dia lebih memilih impian dan fantasi daripada realita. Karena itu, tidak mungkin melakukan percakapan atau diskusi dengannya; dia tidak bisa memberi ataupun mene-rima petunjuk dan nasihat. Dalam kenyataan, senti-mentalitas adalah bentuk ringan kerusakan mental yang oleh psikiater disebut "skizofrenia." (Orang-orang yang mende-rita skizofrenia terputus dari realita dan hidup dalam dunia-nya sendiri)
Orang emosional bisa disamakan dengan seseorang yang menangis ketika menonton film di televisi: Penonton itu begitu jauh dari realita sehingga dia bisa merasa sedih dan bahkan menangisi seorang aktor yang menderita dalam film itu, walaupun, si aktor menerima uang untuk memainkan perannya, dan kehidupannya yang nyata mungkin diliputi kebejatan moral. Ini suatu keadaan yang tidak mungkin orang arif jatuh ke dalamnya, dan secara jelas menunjukkan seberapa jauh mentalitas sentimental dapat memutuskan sesorang dari realita, dan seberapa jauh ia bisa memaksanya ke dalam pemikiran tidak sehat, yang pada gilirannya tecermin dalam kehidupannya sehari -hari.
Kita adalah saksi atas fakta bahwa mayoritas orang emosional hanya duduk berdiam diri, seolah tangan mereka terikat. Mereka puas hanya dengan menangis dan mengeluh, tetapi tidak berbuat apa pun untuk mengatasi perasaan tidak suka terhadap situasi tersebut. Misalnya, datang berita bahwa seorang saudara mengalami kecelakaan; alih-alih berpikir pasti ada hikmah di balik itu, dan memutuskan bagaimana dia akan membantu, orang emosional biasanya menjadi pingsan dan mulai menangis. Dia tidak akan bertanya apa yang sudah dilakukan bagi si korban, apakah dokter sudah dipanggil atau apakah tersedia cukup obat. Dia tidak akan mencoba mengetahui apa yang bisa dia bantu, tetapi akan mencari cara menghibur diri seakan dialah yang memerlukan dukungan.
Atau, seseorang di dekatnya tiba-tiba jatuh sakit; alih-alih melakukan pertolongan pertama dan memanggil ambulan, dia akan mulai berlarian ke sana kemari mencipta-kan kepanikan dengan kebodohannya. Jika seseorang bertanya padanya apa yang terjadi, dia tidak akan bisa menjawab karena emosionalisme mencegahnya mengguna-kan akal, dan memisahkannya dari orang lain.
Atau, dia sendiri menderita sakit; dia tahu ada yang tidak beres dengan dirinya, tetapi jika dia pergi ke dokter, dia takut penyakitnya terbukti serius. Dia tidak mau menjadi sedih, karenanya dia tidak tertarik mendapatkan diagnosis akhir. Karena tidak mendapatkan perawatan yang seharus-nya bisa diperolehnya jika dia bertin-dak arif, dia kehilangan kesempatan disembuhkan dari sakitnya.
Kita dapat menggandakan contoh-contoh perilaku emosional yang tidak arif itu untuk menunjuk-kan bagaimana irasionalitas seperti itu membawa dampak sangat me-rusak, dan yang terkadang bisa men-jadi masalah hidup atau mati. Orang-orang ini begitu terganggu, melalui pengaruh setan, oleh segala hal yang mereka lihat terjadi di sekitar mereka, sehingga menjadi lemah, dan mereka sendiri akhirnya memerlukan bantu-an dan penenangan. Namun, jika me-reka menggunakan kearifan dan me-ngambil keputusan yang tepat dalam kaitannya dengan peristiwa-peristiwa yang mereka alami, mereka pasti bisa menemukan solusi untuk masalah mereka.
Seperti yang bisa kita lihat, individu emosional bukanlah orang yang dapat menggunakan pikiran untuk menghasil-kan solusi permasalahan; mereka tidak bisa memimpin orang. Sebaliknya, karena mereka sendiri perlu dipimpin atau dijaga, mereka menjadi beban bagi orang lain. Sebagai contoh, jika orang emosional melihat seseorang dalam kesulitan, alih-alih menawarkan bantuan, dia akan berpikir untuk tidak melakukan apa pun kecuali mengeluh dan berkata "Oh, kasihan!", atau ungkapan iba lainnya. Dalam hal ini, kearifan sepenuhnya telah dikebelakangkan, dan meru-pakan suatu kesalahan mengharapkan manfaat positif dari orang seperti ini.
Di dalam Al Quran, Allah menunjukkan perbedaan antara orang demikian dengan orang-orang beriman.

   “Dan Allah membuat (pula) perumpamaan: dua orang lelaki, yang seorang bisu tidak dapat berbuat sesuatupun dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikanpun. Sama-kah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus?” (QS. An-Nahl, 16: 76)

Orang-orang beriman tidak bereaksi atas segala hal menuruti emosi, tetapi dibimbing dengan kearifan, dan dalam setiap situasi, seperti disebutkan dalam ayat di atas, mereka "menyuruh berbuat keadilan", yaitu, mereka memastikan bahwa hal yang benar dan pantas telah dikerjakan. Karena mereka meyakini bahwa segala sesuatu yang mereka alami dalam hidup atas sepengetahuan Allah, dan selain dari apa yang dikehendaki Allah untuk mereka, mereka tidak berdaya melakukan apa pun. Jadi, mereka tidak pernah kehilangan ketenangan yang muncul dari kepatuhan dan keyakinan kepada Allah. Mereka tidak pernah bereaksi terburu-buru dan mereka tidak pernah menyerah pada pesimisme atau keputusasaan. Mereka tahu Allah membawakan kebaikan untuk mereka bahkan dari kemalangan.
Jika Anda ingin memberitahu seseorang tentang bahaya yang terkandung dalam sentimentalitas bagi kehidupan spiritualnya, dia tidak akan mendengarkan Anda; sejak semula dia akan menolak untuk mempertimbangkan kemungkinan itu. Pikiran orang emosional begitu tertutup terhadap setiap saran yang bertentangan sehingga dia merasa diperlakukan tidak adil, merasa tersinggung dan mulai menangis, atau marah dan menarik diri. Jadi, Anda tidak dapat mengkritisi orang emo-sional, apalagi membe-rikan saran atau nasihat.
Emosionalisme me-nyebabkan orang men-jadi mudah tersinggung. Akibatnya, orang-orang ini takut ada maksud ter-sembunyi dalam segala yang dikatakan kepada mereka; mereka mudah salah paham atau melebih-lebihkan. Kemudian, sebagai protes tanpa penjelasan apa pun, mereka berhenti berbicara, menarik diri dan merajuk seperti anak kecil. Karena mereka tidak mampu berpikir rasional, atau takut menghadapi realita, tidak mungkin bagi mereka untuk melakukan introspeksi, atau memperbaiki kesalahan diri me-reka. Seperti yang disebutkan tadi, orang-orang dengan kea-daan psikologis seperti ini menginterpretasikan setiap kata yang diucapkan kepada mereka sebagai ketidakadilan dan menjadi jengkel, sebagai akibatnya mereka putus asa dan menyendiri. Allah berfirman dalam Al Quran tentang orang yang memilih ketidakbahagiaan bagi dirinya seperti ini:

“Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran, orang-orang yang celaka (kafir) akan men-jauhinya.” (QS. Al A'laa, 87: 10-11)

Dengan tidak menggunakan akal sehat dan mengikuti dikte emosinya, orang ini membiarkan kearifan semakin tertutup dari hari ke hari. Jika mereka tidak memperbaiki keadaan mereka, mereka tidak mungkin bisa menerima hakikat agama, atau menjalani kehidupan sesuai dengan prinsip-prinsipnya. Orang emosional tanpa kearifan tidak memiliki penilaian sehat atau pikiran yang koheren dan stabil. Dalam hal yang jelas bagi orang beriman, orang emosional mendapati kontradiksi dan kebingungan. Dia bergulat dengan kekhawatiran. Orang emosional tidak bisa memahami Al Quran, yang merupakan petunjuk bagi orang-orang arif; dia tidak bisa menerima nasihat darinya. Dia tidak dapat mempertimbangkan Allah menurut pertimbangan sejati dan memahami kearifan yang tersirat di balik apa yang terjadi di alam semesta; dia tidak dapat memahami alasan-alasan untuk keberadaan dunia, surga dan neraka. Dia tidak mengetahui apa artinya berkata tiada tuhan selain Allah. Setiap ide dalam benak orang seperti ini, setiap pikiran, perhatian dan tujuannya, setiap perbuatannya, menuntun-nya dari satu perbuatan musyrik ke perbuatan musyrik lainnya.
Ini adalah salah satu metode yang digunakan setan untuk menyesatkan manusia dari jalah Allah. Di dalam Al Quran, Allah memperingatkan bahwa setan akan menggunakan segala cara untuk menjerumuskan manusia ke dalam neraka:

“Aku benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untukku), dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan nenyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya. Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (QS. An-Nisaa', 4: 118-120)

   Orang yang memahami ayat-ayat ini tidak membiarkan setan menuntunnya ke dalam angan-angan. Dia tidak terjebak dalam emosi, tetapi menggunakan kearifannya untuk melihat realita dengan jernih, dan kemudian bertindak tepat sesuai dengan apa yang dia lihat. Yang bagi orang dengan pikiran tertutup emosi merupakan kebingungan, kontradiksi dan kesulitan, bagi orang beriman merupakan sesuatu yang jelas, terang dan sederhana. Di lain pihak, mereka yang telah jatuh diperbudak sentimentalitas, mengantarkan diri mereka pada keinginan dan gagasan setan, dan terus dituntun menuju kesengsaraan abadi melalui lumpur suram kemusyrikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar